
Pengakuan Nayra di konferensi pressnya kemarin, cukup membuat publik terkejut.
Pasalnya, Nayra mengakui kalau sebenarnya hubungannya dan Dimas telah lama berakhir jauh sebelum pria itu menikah. Hanya saja dia tetap bersikeras mempertahankan hubungan itu dan terus meneror Dimas.
Akibat pengakuan ini, publik kini tidak lagi menganggap Dimas sebagai pelaku. Mereka justru bersimpati terhadap Dimas yang harus menghadapi mantan seperti Nayra.
Sebaliknya, publik malah semakin geram terhadap Nayra. Mereka beramai-ramai meminta Nayra segera pensiun dari dunia hiburan.
Tapi kemudian, muncul sebuah postingan yang menuliskan tentang penyakit mental yang diderita Nayra. Postingan itu juga menyertakan bukti kuat berupa foto-foto candid Nayra di RS.
Karena itulah dunia maya kini terbagi menjadi 2 kubu. Yang satu tetap menginginkan Nayra pensiun sementara kubu lainnya memberikan dukungan agar Nayra tetap bertahan.
Gina – yang telah diangkat sebagai Direktur DPS Entertainment – memutuskan Nayra untuk vakum sementara dari industri hiburan. Nayra diminta tinggal sementara di Singapore guna mengobati penyakitnya.
Nayra setuju. Bersama dengan Jay, Nayra memutuskan akan pergi ke Singapore dalam 1 minggu lagi. Setelah dia menyelesaikan beberapa pekerjaannya terlebih dahulu di Indonesia.
****
Berita tentang Nayra seharian itu menjadi headline dimana-mana. Selena dan Alvino duduk bersebelahan sambil menonton tayangan infotainment. Mata keduanya terpaku sepenuhnya bahkan nyaris tak berkedip.
“Vin, itu kayaknya baju rumah sakit lo ya?” Selena menyenggol lengan Alvino tanpa menolehkan pandangannya dari layar TV.
“Iya." Sahut Alvino singkat tanpa menoleh juga.
Dia tampak kesal melihat foto-foto candid Nayra tersebar. Dalam hatinya, ia mengumpati oknum yang seenaknya mengambil foto tersebut.
“Gue jadi nggak enak sama Nayra. Padahal gue yang salah. Jelas-jelas gue tahu kalau mereka udah pacaran tapi gue tetap maksa dinikahin. Ah….. apa gara-gara gue ya Nayra jadi depresi kayak gitu?” Selena menyandarkan tubuhnya. Matanya menatap kosong ke langit-langit.
“Jadi lo nyesel udah nikah sama Dimas?” tanya Alvino.
“Ya, nggak lah!” sahut Selena sengit sambil menolehkan kepalanya ke arah Alvino yang masih terduduk tegak. “Gue hanya ngerasa bersalah, bukannya pengen Dimas balikan sama dia.”
Alvino memiringkan sedikit tubuhnya, menatap lembut Selena.
“Nggak usah dipikirin kalau gitu. Cinta itu nggak bisa diatur mau sama siapa. Kebetulan aja, lo sukanya sama Dimas. Ditambah takdir Tuhan, jadi deh lo yang nikah sama Dimas. Tapi lain cerita, kalau Dimas udah nikah duluan sama Nayra. Baru lo salah.” Seloroh Alvino dengan gaya sok bijak.
Selena melemparkan bantal ke muka Alvino. “Itu juga gue tahu.”
Alvino hanya terkekeh geli mendengar ucapannya sendiri. Dia memang paling tidak bisa menghibur orang, makanya jarang sekali ada teman-temannya yang meminta solusi darinya. Biasanya mereka datang hanya karena Alvino tipe pendengar yang baik.
Raut cemberut Selena berganti senyuman saat ponselnya berdering. Selena segera bangkit berdiri seraya berjalan menjauh dari Alvino. “Bentar ya, Vin.”
Alvino mengacungkan ibu jarinya. Tanpa harus bertanya, ia sudah tahu siapa yang menelpon Selena. Dari raut berseri-serinya, sudah jelas kalau itu dari Dimas. Akhir-akhir ini Selena selalu tersenyum lebar tiap kali membicarakan suaminya.
“Mungkin sudah waktunya gue melepas lo, Sel.” Gumam Alvino sambil memandangi Selena dari kejauhan.
****
Sementara itu, Dimas terlihat melangkahkan kakinya keluar dari sebuah ruangan. Rapat pemegang saham baru selesai dilaksanakan.
Hasilnya sudah jelas. Dimas tetap kembali memimpin perusahaan.
Para pemegang saham bahkan semakin kagum setelah mengetahui saham SKYLOOK Group semakin meningkat tajam. Mereka juga meminta maaf kepada Dimas karena sempat meragukan kredibilitasnya.
Dimas hanya menanggapi permintaan maaf itu dengan raut datar. Dia masih kesal mengingat hampir saja posisinya akan digantikan oleh sepupunya. Diam-diam ia bertekad akan mengambil saham perusahaannya dari orang-orang yang telah mengajukan penurunan dirinya.
Selain itu, Dimas juga memikirkan Nayra. Perasaan bersalah menggelayuti pikirannya. Berkat pengakuan Nayra, Dimas bisa mempertahankan posisinya. Wanita itu menimpakan semua kesalahan kepada dirinya sendiri tanpa melibatkan Dimas sedikit pun.
Dimas sebenarnya ingin menghubungi Nayra tapi ancaman Gina mengurungkan niatnya.
“Jangan pernah bertemu Nayra lagi. Atau saya akan polisikan Anda! Dan ingat, urusan kita berdua belum selesai. Anda masih berhutang penjelasan kepada saya!!” Ujar Gina tegas.
Dimas menghela napas panjang. Menatap pemandangan kota Jakarta dari kaca jendela ruangan kantornya di lantai 12.
Terima kasih, Nay. Dan Sekali lagi maafkan aku. Semoga kamu baik-baik saja. Aku yakin banyak orang yang menjagamu disana.
Lamunan Dimas terbuyarkan saat ponselnya bergetar. Matanya memicing tajam melihat nomor asing di layarnya. Merasa tak kenal, Dimas memilih menggabaikannya.
Namun tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar dengan nomor yang sama. Kali ini Dimas memilih mengangkat panggilan tersebut.
“Pak Dimas?” Terdengar suara pria berat diseberang sana. Dimas mengernyit heran.
“Pak Dimas? Halo? Pak?” Ulangnya. Pria itu terdengar panik dan ketakutan.
“Siapa ini?” Tanya Dimas ketus.
“Saya Jason.” Jawab pria itu. Dimas membelalakkan matanya. Emosinya langsung naik namun kemudian perkataan Jason selanjutnya membuatnya kebingungan.
“Saya mau membuat pengakuan.” Ucap Jason.
****
Di sebuah rumah mewah bergaya classic, Leon berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya. Dia mengunci pintu dari dalam, berjalan memutari meja cokelatnya dan duduk di kursi hitam kebesarannya.
Kedua tangannya terlipat menompang kepalanya yang tertunduk. Beberapa menit kemudian, dia mendongak, menggebrak mejanya. Menghamburkan kasar benda-benda di atas mejanya. Kertas-kertas bertebaran dibarengi bunyi benda-benda berjatuhan ke lantai.
Napasnya memburu, dadanya naik turun, tangannya mengepal dengan urat-urat di pelipisnya yang menonjol. Dia marah setelah melihat pengakuan Nayra di TV.
“Si*lan kamu, Nay. Padahal aku sudah bersikap baik padamu. Tapi ini balasanmu!” Maki Leon.
Leon menggertakkan giginya, menghempaskan tubuhnya ke kursi. Menengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
“Aku merindukanmu, Selena…” Lirihnya.
Tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinganya. Leon segera membuka matanya dan mendapati Selena berdiri di seberang mejanya. Wanita itu tampak cantik dengan gaun putihnya. Rambut hitam panjangnya tergerai tertiup angin.
“Selena, kamu disini?” Leon mengerjapkan matanya. Dia bangkit berdiri, mencoba menghampirinya. Tapi Selena malah menjauh sambil tertawa.
“Hei, mau kemana kamu?” Leon berpura-pura marah sambil terus mengejarnya. Dia tertawa melihat Selena yang bergerak lincah memutari ruangan luas tersebut. Walau terkadang ia heran saat melihat Selena yang seakan bisa melayang di udara.
“Awas kamu ya. Akan aku kurung, kalau sampai tertangkap!” Leon berkata gemas sambil mengejarnya.
Tanpa Leon sadari, ada seorang pria tua berparas Eropa yang sejak tadi berdiri di depan pintunya. Tangan keriputnya bergetar memegang dadanya. Hatinya terasa sakit mendengarkan cucunya tertawa seorang diri.
Tak kuat mendengarnya lagi, pria tua itu memilih berlalu. Di ujung tangga dia berhenti dan menelpon seseorang.
“Cari tahu wanita yang bernama Selena. Dia wanita yang disukai cucuku.”