The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Dampak Yang Berbeda



Pertunangan yang dilakukan Selena dan Dimas langsung menjadi topik pembicaraan hari ini di seantero negri. Nama Selena menjadi kata kunci yang paling banyak dicari di dalam mesin pencarian internet.


‘The Real of Cinderella’ , itulah julukan yang disematkan untuk Selena dari netizen.


Dimas dan keluarganya sudah memprediksikan hal seperti ini akan terjadi. Makanya sejak kemarin , Dimas telah meminta Selena tinggal sementara dirumah mamanya. Dia juga secara khusus mempekerjakan seorang sopir untuk mengantar-jemput Selena.


Tidak hanya sampai disitu saja , diam-diam Dimas bahkan menyewa beberapa orang untuk mengawasi kediaman mama Selena. Tujuannya agar melindungi mereka dari reporter yang mungkin akan berkerumun dan menganggu aktifitas keluarga Selena.


Selena memijat-mijat pelipisnya yang sakit seraya menyandarkan tubuhnya ke jok mobil. Sejak dia membuka mata pagi ini , ponselnya terus saja berdering. Sebagian besar panggilan dan pesan text yang masuk berasal dari teman-teman sekolahnya yang sudah lama tidak berkomunikasi dengannya.


Atau ada juga panggilan dari klien dan atasannya yang sedikit kecewa karena tidak diundang ke acara pertunangannya. Selena tertawa getir. Bagaimana dia bisa mengundang mereka , kalau dia sendiri baru tahu konsep acaranya menjelang dua hari pertunangannya?


“Bu,kita sudah sampai,” ucapan Fajar mengagetkan Selena yang sedang berpikir.


“Oh,iya benar juga. Sudah sampai ya....” Selena membutuhkan beberapa detik untuk menyadari kalau saat ini dia sudah berada tepat di seberang lobi.


Selena sempat melihat pantulan wajahnya di layar ponselnya yang terkunci. Setelah memastikan dandanannya rapi , dia segera turun dari mobil.


“Terimakasih ya Fajar,” ujar Selena sebelum menutup pintu mobil.


Selena menghembuskan napas sebentar , sebelum menaiki anak tangga untuk masuk ke dalam lobi kantornya.


“Selamat pagi Bu Selena,” sapa Udin , satpam yang bertugas menjaga lobi depan.


“Iya. Pagi juga,” jawab Selena sambil terus berjalan.


Baru saja memasuki lobi kantor , Selena sudah merasakan dampak dari berita pertunangannya. Setiap kali dia berjalan melintas , karyawan yang kebetulan melihatnya akan terdiam sejenak memperhatikan dirinya dan berbisik-bisik. Selena sempat menangkap beberapa kalimat yang untungnya --- semuanya bagus untuk ia dengar.


Sebenarnya tadi pagi sebelum berangkat kerja , Raymond sudah mengabarinya kalau hampir sebagian besar komentar orang-orang mengenai dirinya adalah positif. Jika ada yang negatif itu hanya berisi tentang wanita-wanita yang iri dan ingin seperti dirinya.


Walaupun sudah tahu , tetap saja dalam hatinya , Selena masih merasa cemas. Dia masih takut dan belum sanggup untuk membuka internet.


“Pagi Bu,” sapa Prita.


Selena tersenyum , “pagi juga Prita. Ohya ngomong-ngomgong," Selena memutar badannya sebelum memasuki ruang kerjanya. “Sejak kapan kamu dan Dirga berpacaran?”.


Prita tersenyum malu-malu , “sudah hampir 6 bulan Bu”.


“Ooo...” Selena manggut-manggut dan tertawa kecil membayangkannya keterkejutannya saat melihat Prita menggandeng mesra Dirga di acara pertunangannya.


Dia sempat menggoda Prita sedikit , sebelum masuk ke ruangannya dan bersiap kembali bekerja.


**********


Di tempat berbeda.


Prang..prang..prang. Terdengar suara barang-barang pecah dari dalam sebuah kamar. Disusul suara gedebuk yang keras , sudah cukup mampu membuat Jay berlari dan mengedor-gedor pintu dengan keras.


“Nay! Buka!” Jay mengedor-gedor pintu sambil memutar-mutar kenop pintu dengan paksa.


Tak kunjung membuahkan hasil , Jay pun mengambil ancang-ancang dan langsung mendobrak pintu. Begitu pintu dibuka , dia syok mendapati Nayra dengan rambut yang acak-acakan sedang bersimpuh dilantai. Kamarnya kacau-balau karena barang-barang yang jatuh berserakan di penjuru kamar.


Jay berjalan dengan hati-hati agar tak menginjak serpihan kaca yang mungkin berasal dari vas yang sudah hancur. Dengan sekali tarikan , dia langsung menggendong Nayra dan membawanya keluar menuju ruang tengah. Didudukannya Nayra di atas sofa , kemudian dia berlari mengambil kotak P3K. Dia berlutut dan membawa tangan Nayra di pahanya.


Dibersihkannya luka-luka di telapak tangan Nayra. Sepanjang Jay mengobati Nayra , wanita itu hanya terdiam dengan tatapan kosong.


Barulah setelah air mata Jay tanpa sengaja menyentuh tangannya , Nayra bereaksi. Air matanya kembali tumpah. Tubuhnya bergetar karena terisak-isak.


“Dimas..Dimas , Kak. Dia..dia..tunangan Kak," Nayra meraung-raung menimbulkan pilu dihati Jay.


Jay langsung memeluk Nayra yang semakin menangis kencang. Tangan kanannya mengusap-usap kepala belakang Nayra persis seperti seorang ayah yang sedang menenangkan putrinya. Dia tidak mengucapkan apa-apa dan hanya diam membiarkan air mata Nayra membasahi kemeja putih kesayangannya.


**********


Leon berbaring telentang di atas kasur dengan tangan kiri yang menutupi matanya. Tak jauh disebelahnya , tabletnya menyala dengan foto-foto Selena yang terpampang di layar.


Tulisan ‘Terungkap! Identitas Wanita Tunangan Dimas Soetedjo Yang Selama Ini Dirahasiakan’ tercetak tebal dan besar dibawah foto-foto Selena.


Leon memukul-mukul kasurnya sambil memaki-maki.


“Sh*t! Ternyata dia tunangannya Dimas! Bodoh kau, Leon!” Leon memaki dirinya sendiri yang bisa jatuh hati pada kekasih Dimas.


“Kenapa aku tidak menyadari kalau Selena adalah gadis waktu itu. Tunggu..tunggu dulu..” Leon mendadak teringat sesuatu dan segera bangkit.


Dia terduduk di tepi kasur sambil memijat-mijat pelipisnya.


“Rasanya bukan Selena yang waktu itu aku lihat di Amerika. Siapa ya? Kalau aku tidak salah , gadis itu berambut pendek. Wajahnya....aduh. Seperti apa ya wajahnya?” Leon memejamkan mata seraya mengingat-ingat sosok wanita yang dulu dilihatnya.


“Ah , sudahlah! Untuk apa aku mengingatnya!”.


Karena kesal , Leon pun memilih untuk beranjak dari kasur dan mencuci muka. Setelah itu ia mengganti kaosnya menjadi kemeja biru , bersiap untuk bekerja.


Biasanya setiap kali dia membuka kamar , Argo akan langsung berlari dan mengusap-usapkan tubuhnya ke kaki Leon sambil mengeong senang.


Tapi kali ini berbeda. Sudah beberapa hari ini Argo dibawa menginap oleh Cecille , adik perempuannya yang kebetulan sedang berada di Jakarta. Kesunyian yang tiba-tiba dirasakan Leon , memaksanya untuk segera bergegas keluar dari unitnya.


Sambil mengunci pintu , ekor matanya melirik ke arah unit Selena yang masih tertutup rapat. Sudah beberapa hari ini dia tidak melihatnya. Selena memang beberapa hari lalu sudah berkata akan tinggal dirumah mamanya untuk sementara. Tadinya dia berpikir kalau Selena mengalami homesick.


Dan sekarang Leon tahu , alasannya bukan homesick tapi hal menganggu yang sedang dilihatnya sekarang. Leon tertawa sinis dari balik jendela mobilnya saat melintasi kerumunan reporter yang sedang berdiri.


Beruntung apartemen ini memiliki peraturan yang sangat ketat. Sehingga para reporter itu hanya bisa pasrah menunggu di luar pintu masuk apartemen. Tanpa diijinkan masuk walau hanya sekedar menunggu di lobi tower.