
“Wohooo..akhirnya. Udara segar,” Gina berteriak meregangkan badannya seraya menghirup dalam-dalam udara daerah Puncak.
“Iya, ya. Saking segarnya sampai badan gue pegal-pegal,” cibir Alvino kesal.
“Hehehe..maaf. Tapi kan udah lama kita berempat gak liburan bareng,” Gina merajuk sambil mengapit lengan Selena dan Alvino.
Karena Gina merengek dan memaksa ingin ikut , Selena dan Alvino pun terpaksa harus putar arah kembali. Padahal mereka berdua sudah hampir sampai di restoran Bandung.
Dan berkat ide konyol dari Gina pula , mereka berempat kini sudah berada di villa milik Martin yang ada di kawasan Puncak.
“Haaah...,” Alvino hanya bisa mendesah pasrah membiarkan dirinya dibawa masuk ke villa oleh Gina.
“Pak Slamet masih jaga disini Tin?” tanya Selena sambil mengamati setiap penjuru villa.
“Masih dong. Setiap hari datang”.
Villa milik Martin berada di salah satu area perumahan villa di Puncak. Terdiri dari 2 lantai , villa ini memiliki 1 kamar tidur di lantai atas dan 2 kamar tidur di lantai bawah.
Perabotan di dalamnya tidak begitu banyak , namun termasuk cukup lengkap untuk digunakan sebagai tempat menginap.
Seperti biasa , Martin dan Alvino tidur di lantai bawah. Sementara yang wanita tidur di lantai atas. Karena ini bukan pertama kalinya menginap di villa Martin , Selena sudah langsung menuju ke lantai atas.
Begitu sampai , dia langsung merebahkan badannya di kasur. Sambil berbaring , tangannya mulai mengambil ponsel.
Hah , apa sih yang gue harapkan? Hubungan gue dan kak Dimas kan tidak begitu dekat. Mana mungkin kan kak Dimas hubungin gue?
“Woii!!!” Teriakan Gina yang tiba-tiba masuk sukses membuat Selena kaget dan langsung terbangun.
“Gina!!” Selena melotot memegang dadanya yang berdetak kencang.
“Maaf..maaf..abis lo ngelamun sih," balas Gina nyengir sambil memeluk Selena. "Cari makan yuk. Yang lain udah kelaparan”.
“Oke”.
Dengan mengendarai mobil Martin , mereka menuju ke sebuah rumah makan yang terletak paling dekat dengan villa.
Entah karena memang sudah hampir jam makan malam atau karena udara yang dingin , nafsu makan mereka berempat bertambah banyak. Karena selesai makan , mereka masih berputar mencari jagung bakar dan beberapa cemilan lainnya.
“Wah , banyak juga yang kita beli ya." Martin menggeleng-gelengkan kepala keheranan saat melihat tumpukan makanan di atas meja.
Selena yang sedang menata cemilan di rak dapur , hanya tertawa.
“Itu semua Gina yang minta,” tunjuk Alvino ke arah Gina yang pura-pura membantu Selena.
“Ih, bukan. Itu semua Alvino yang minta. Tadi dia kan ikut turun pas di minimarket. Iya kan Sel?” Gina mencolek Selena meminta kerjasama.
“Sayang , kan aku udah bilang jangan mubazir. Memangnya kamu bisa habiskan makanan segini banyak?” Martin menghampiri Gina yang kini tersenyum canggung.
“Hehehe....maaf sayang. Nanti juga pasti habis kok , kan ada satu penampakan yang suka makan” Gina tertawa sambil melirik ke arah belakang Martin.
Alvino yang sejak tadi hanya duduk di kursi makan tanpa sengaja mendongakkan kepalanya dan tepat saat itu posisinya berada di belakang Martin.
“Nah, itu penampakannya!” tunjuk Gina yang dibalas dengan lemparan kulit kacang oleh Alvino.
Tak berselang lama , kejar-kejaran diantara keduanya pun dimulai. Selena dan Martin hanya bisa geleng-geleng dan malah memilih untuk bermain game bersama.
“Tin , kemarin gue dapat diamond dong!” Selena tersenyum bangga menunjukkan ponselnya.
“Berapa? Wah gila. Seribu?! Siapa yang kasih Sel?!” Martin terpekik kaget saat melihatnya.
“Tetangga sebelah gue,” Selena berbisik pelan melanjutkan. “Kayaknya penggila berat. Soalnya di tempat dia banyak banget pernak-pernik game ini”.
“Woh...” Mata Martin berbinar-binar saat mendengarkan cerita Selena , “kapan-kapan kita ajak kumpul yuk Sel”.
“Siapa yang mau diajakin kumpul?” tanya Alvino yang tiba-tiba sudah duduk di samping Selena.
“Tetangga sebelah gue Vin. Dia juga main game ini”.
“Orang bule itu ya? Siapa itu namanya Sel? Lea? Lio?” Gina menyempil di tengah-tengah antara Selena dan Martin.
“Leon,” ralat Selena.
“Ah, iya itu. Terserah deh siapa namanya. Pokoknya selama kita disini gak ada yang boleh main game!! Apalagi kamu , sayang!” Gina mengomel sambil mengambil ponsel Martin dan menaruhnya ke dalam tas.
Dan akhirnya sesuai dengan permintaan Gina , mereka berempat sudah kini duduk berjejeran di atas sofa coklat panjang sambil menatap layar TV.
Ditemani dengan berbagai cemilan ringan di atas meja , mereka mulai fokus menonton film pilihan Martin yang memenangkan lomba suit.
Film pilihan Martin adalah film tentang zombie. Walaupun Selena menyukai film horror tapi dia sama sekali tidak menyukai film berjenis zombie.
Jadi tak heran kalau dia terus bergerak-gerak gelisah ketakutan. Alvino yang paham , diam-diam mengenggam tangan Selena sehingga membuat Selena merasa sedikit nyaman.
Namun , kini justru Alvino yang merasa gelisah. Karena detak jantungnya yang mendadak berdegup kencang. Sungguh , jika saja ada alat yang bisa menghentikan waktu , Alvino ingin waktu berhenti saat ini juga.
Dimana dia bisa mengenggam tangan Selena dan merasakan kehangatan tubuh Selena yang kini semakin mendekat ke arahnya.
Besok gue harus bilang sama Selena kalau gue suka sama dia. Harus! Sebelum dia pergi semakin jauh , tekad Alvino.