
“Hooaam....” Selena menguap sambil mengucek-ucek matanya sembari melangkahkan kakinya menuju dapur.
Hidungnya langsung disambut oleh aroma harumnya lontong sayur yang tersaji di meja makan.
“Wah , siapa yang beli?” tanya Selena yang kini telah duduk di kursi makan.
“Pak Slamet bawain tadi” jawab Martin.
“Gina masih tidur , Sel?”
“Gak , udah bangun. Cuma lagi telponan. Kayaknya ada salah satu artisnya yang lagi dirawat deh.”
Oh iya , kemarin kan Gina lihat kak Dimas di rumah sakit? Siapa yang sakit ya? Jangan-jangan om Goenawan atau tante Vivi lagi.
Selena segera mengambil ponselnya dan berjalan ke arah taman belakang.
“Halo..selamat pagi Tante. Apa kabar?” sapa Selena begitu terdengar suara Vivi di ujung sana.
“Pagi juga Sel. Tante sehat kok.Kamu sendiri bagaimana? Sehat? Eh , kata Mamamu , kamu lagi gak di Jakarta ya?”
“Iya Tan. Selena lagi di Puncak. Oh syukur deh kalau tante sehat. Tapi kalau Om Goenawan gimana? Sehat juga Te?”
“Sehat semua kok Sel. Kenapa memangnya Sel? Kamu kangen ya sama Om dan Tante?” goda Vivi.
“Hehehe .... bukan apa-apa kok Tante. Cuma kemarin teman Selena lihat Kak Dimas di rumah sakit. Jadi Selena pikir Tante atau Om yang lagi sakit.”
Vivi mengernyit bingung , “rumah sakit? Hmm..coba deh nanti tante tanya Dimas ya , siapa yang sakit.”
“Eh, jangan Te.” Selena buru-buru menolak ."Selena kan khawatirnya sama Om dan Tante. Hmm.. Tan , Selena tutup dulu ya telponnya. Nanti Selena telpon lagi.”
“Huh , iya deh. Padahal Tante mau ngbrol banyak sama kamu. Tante tunggu loh telponnya Sel. Jangan bohong.”
Selena tertawa pelan sambil mengiyakan sebelum menutup telponnya. Ketika Selena berbalik hendak masuk ke dalam villa , dia terpekik kaget melihat Alvino yang bersandar di pintu. Sekilas Selena melihat gurat kesedihan di wajah Alvino sebelum berganti menjadi tawa lebar Alvino yang mengajaknya masuk ke dalam.
“Ngapain di luar. Ayo sarapan , nanti keburu dingin.”
**********
Selesai makan dan mandi , mereka berempat keluar berjalan kaki menyusuri area sekitar perumahan villa. Di tempat ini , ada berbagai macam fasilitas seperti menunggang kuda , kolam renang , taman bermain serta toko-toko yang menjual berbagai macam makanan dan minuman ringan.
Selena dan Alvino memilih untuk menunggang kuda sementara Gina dan Martin memilih bersantai di taman.
Setelah puas menunggang kuda, Selena dan Alvino menyusul Gina dan Martin ke taman. Disana mereka melihat Gina dan Martin sedang duduk di rerumputan beralaskan tikar lipat. Mereka berempat kembali bersantai sambil menikmati sinar hangat matahari yang bercampur dengan sejuknya udara disana.
Mereka baru beranjak kembali ke villa ketika hampir sudah waktunya makan siang. Sesampainya di villa , terlihat pak Slamet dan bu Juleha --- istrinya , sedang mempersiapkan makanan untuk mereka.
Selena , Gina , Alvino dan Martin hampir meneteskan air liur ketika melihat makanan yang disiapkan untuk mereka. Dua ekor ikan gurame kering , cah kangkung , tempe tahu goreng , oncom leunca , lalapan dan sambal terasi yang mengunggah selera.
“Eh, gak apa-apa kok ,bu.” Jawab Selena dan yang lainnya berbarengan.
“Segini saja sudah terimakasih loh, Bu. Malah kita minta maaf gak sempat bantuin,” tambah Gina.
“Loh, ya jangan. Kan ini teh tugas Bapak sama Ibu disini. Ayo..ayo..dimakan. Mumpung masih panas.”
Selena dan Gina kemudian mengambil piring dan peralatan makan lainnya , sementara para pria mulai menggelar karpet besar di ruang tengah. Mereka memang sengaja ingin makan secara lesehan.
Setelah makanan tersaji di atas karpet , mereka mulai duduk dan mengajak Pak Slamet dan istrinya untuk bergabung. Tapi mereka berdua menolak dan bergegas pergi karena masih ada pekerjaan lainnya.
Tidak butuh waktu lama bagi Selena dan yang lainnya untuk menghabiskan seluruh makanan yang tersaji.
Selesai makan , Alvino dan Martin yang kalah bermain suit , terpaksa harus membereskan dan mencuci semua peralatan makan yang mereka gunakan. Sementara para wanita duduk bersantai sambil menonton TV.
Saat hari sudah menjelang malam , barulah mereka berempat kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berpamitan terlebih dahulu ke pak Slamet dan istrinya. Alvino dan Martin beriringan menyetir mobil masing-masing menyusuri jalanan Puncak yang berbelok-belok.
Sepanjang perjalanan pulang , Alvino berulang kali melirik Selena dengan gelisah. Dia bingung harus bagaimana untuk mengungkapkan perasaannya. Sampai akhirnya ketika dia merasa ini momentum yang tepat , dia menepikan mobilnya lalu secara perlahan dia mulai mengecilkan volume musik dan memanggil nama Selena dengan lembut.
“Vin....”.
“Sel..eh?”
Mereka berdua saling menoleh menatap satu sama lain dan langsung tertawa bersama.
“Bisa barengan ya. Lo mau ngomong apa Vin.”
“Lo duluan deh.”
“Hmm, oke.." Selena terdiam sejenak. Tapi kemudian dia memandang Alvino dengan lembut. "Terimakasih ya Vin, udah ajak gue jalan-jalan. Gue bersyukur banget punya sahabat kayak lo dan Gina. Kalian berdua bukan cuma sahabat tapi juga keluarga buat gue. Gue sayang kalian berdua.”
Jleb.
Jantung Alvino terasa tertembus sesuatu. Dia terdiam dan membuang muka menatap jauh ke arah luar jendela.
“Vin , sekarang giliran lo. Lo mau ngomong apa?”
Alvino mengigit bibir berusaha mengontrol wajahnya sebelum berbalik melihat Selena sambil tersenyum lebar.
“Gue laper. Mau mampir minimarket dulu ya.”
“Ih..gue kira mau ngomong apaan sampai serius begitu muka lo”.
Alvino terkekeh dan kembali melajukan mobilnya sambil mengenggam erat-erat setir kemudinya.