
Hallo..kakak kakak author.. Apa kabarnya? Lama tak bersua yaaa...
Mampir yuk ke karya baruku 😄
Judulnya :::
Bianca Dhamarin memulai paginya dengan secangkir black tea. Sambil menjerang air panas, mata Bianca melirik jam di ruang TV. Masih ada waktu 30 menit baginya, untuk bersantai sambil menikmati tehnya.
Asap mengepul dari cangkir keramik putih, hadiah ulang tahun dari sahabatnya – Kinara. Karena tahu dirinya sangat menyukai teh, Kinara menghadiahinya sebuah tea pot set.
Tea pot set tersebut merupakan item limited edision, makanya Bianca sangat berhati-hati menggunakannya. Biasanya dia hanya memakainya saat suasana hatinya sedang bagus. Atau ketika ia sedang merayakan sesuatu – seperti saat ini, contohnya.
Hari ini merupakan hari spesial untuk Bianca. Karena notarisnya – Rafka, akan menyerahkan sertifikat ruko secara sah kepadanya. Bianca menguntai senyum tipis sekaligus berucap syukur. Sama sekali tak pernah terbayang akan bisa memiliki aset pribadi hasil jerih payahnya sendiri.
Hampir 3 tahun lamanya, Bianca jatuh bangun merintis usaha toko kuenya. Berbagai kendala pernah dihadapinya. Mulai dari ditipu mantan karyawannya, terkena penggusuran lahan, sampai pernah bersitegang dengan preman-preman karena mewajibkan Bianca membayar ‘upah sewa’ di wilayah mereka.
Setelah beberapa kali berganti ruko, akhirnya Bianca menemukan sebuah ruko yang menurutnya strategis, aman dan nyaman. Di ruko inilah, perjuangan Bianca mulai menemukan titik cerah. Setelah 8 bulan berjualan di ruko tersebut, toko kuenya mulai dikenal orang, bahkan dia juga memiliki beberapa pelanggan tetap dari kalangan sosialita.
Karena itulah, sebulan yang lalu Bianca memutuskan sebuah langkah berani, yakni membeli ruko tersebut. Dukungan dari Ibu, Kinara dan juga Atilla – adiknya, semakin menguatkan tekad Bianca untuk membeli ruko 2 lantai itu.
.
.
“Selamat pagi, Mba Bian,” Meta menyambut Bianca sambil memegang tongkat pel. Bianca tersenyum, Meta adalah karyawan terbaiknya. Lihat saja, belum juga jam 8 tapi tokonya sudah sangat rapi. Bahkan Bianca bisa mengaca di cake showcase, saking kilapnya Meta menggosoknya.
“Pagi juga, Meta,” Pandangan Bianca mengedar mencari seseorang, “Sean kemana? Masih tidur?”
Belum sempat Meta menjawab, terdengar derap langkah seseorang berlari menuruni tangga.
“Bunda!!” Sean menubruk Bianca sehingga membuat wanita itu sedikit limbung, nyaris menabrak dinding.
“Sean!!” Meta menaruh gagang pel, gegas menghampiri Sean. “Mama kan sudah bilang, jangan lari-larian di toko. Ayo, minta maaf. Bunda hampir jatuh tadi.”
Sean terkejut dan langsung melepaskan pelukannya di kaki Bianca. Dia menundukkan kepalanya, mulai menangis karena dibentak mamanya.
“Maafin Sean, Bunda,” ucap Sean lirih. “Sean nggak sengaja.”
Bianca mengulum senyum lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sean.
“Iya. Tapi lain kali Sean harus hati-hati ya.” Bianca mengusap pelan kepala Sean. “Udah, jangan nangis lagi. Hari ini mau Bunda anterin ke playgroup?”
“Mau Bunda!”
.
“Oke Mama.”
Sean menapakan pelan kakinya. Sangat pelan seperti seekor siput, meski tak bermaksud meledek tapi tingkahnya itu sukses membuat Meta kesal bercampur gemas.
Tak berselang lama, Sean turun dari lantai 2, mengenakan seragam biru khas sekolah playgroupnya, lengkap dengan topi biru dan tas Transformer di pundaknya. Setelah mencium pipi Meta, Sean berlari menyusul Bianca yang sudah menunggunya di luar.
“Makasih ya Mba. Maaf ngerepotin terus,” Meta merasa tak enak karena Bianca sering sekali mengantar jemput Sean ke sekolah. Padahal bosnya itu akan sibuk membuat pesanan kue sore nanti.
“Enggak apa-apa. Toh, aku juga sekalian jalan-jalan,” Bianca memasang seat-belt, lalu membantu mengaitkan seat-belt milik Sean. “Kami berangkat ya. Assalamualaikum.”
“Assalamualaikum, Mama!” Pekik Sean sebelum kaca mobil menutup.
“Waalaikumsallam..” Meta menatap mobil Bianca sampai menghilang dari pandangannya. Barulah setelah itu, ia masuk kembali ke ruko dan mempersiapkan keperluan operasional toko ‘Ocean Corner Cake’s’.
**************************************
Ocean Corner Cake’s, sejatinya baru akan dibuka pukul 10 pagi. Tapi beberapa orang sudah terlihat mengantre di depan pintu.
Sedikit tergesa, Bianca dibantu dengan 2 karyawannya, Meta dan Sika, terlihat sibuk memajang puluhan kue di dalam deretan showcase.
Ada varian cakes loyangan maupun potongan (slice), ada juga brownies, muffin, croissant, macaroon, cupcake hingga puding buah tertata rapi di conter kaca. Semuanya fresh from the oven dapur Ocean Corner Cake’s.
Tidak hanya itu saja, sudah 2 minggu ini, Bianca juga menjual beragam aneka kue basah seperti lemper, risoles, kue lumpur dll. Khusus kue basah, Bianca bekerja sama dengan sebuah kelompok UMKM beranggotakan ibu-ibu tetangga rumahnya.
Selain bisa membantu perekonomian tetangganya, Bianca juga memperoleh harga yang jauh lebih murah dari harga pasaran. Meski harganya murah, tapi kualitas rasanya patut diacungi jempol.
Terbukti dari banyaknya respon positif pelanggan Ocean mengenai produk kue basah tersebut. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlewati, bukan?
Selagi Sika melayani pembeli, Bianca dibantu dengan Meta - kembali sibuk berkutat di dapur untuk membuat kue pesanan salah satu pelanggannya, Nyonya Cassandra.
Malam ini, Nyonya Cassandra akan mengadakan perayaan anniversary pernikahannya di salah satu hotel berbintang di kawasan Jakarta Selatan.
Meta sangat bersemangat membantu Bianca, karena menurutnya, acara Cassandra malam ini bisa melebarkan nama Ocean Corner Cake’s di kalangan sosialita. Bianca menganggukkan kepalanya setuju. Dia juga berpikiran yang sama. Mengingat status Cassandra di kalangan khalayak luas.
Cassandra merupakan seorang bintang film terkenal di era 90-an. Tak hanya terkenal di Indonesia, tapi juga di luar negeri. Dia bahkan menjadi aktris Indonesia pertama yang menerima pernghargaan internasional.
Namun sayang, Cassandra memilih berhenti dari dunia perfilman setelah menikah dengan konglomerat pemilik perusahaan properti terbesar di Indonesia – Brama Sanjaya.
Awal mula perkenalan Bianca dan Cassandra ketika mereka sama-sama menghadiri acara arisan yang diadakan Nyonya Amellia. Kebetulan, saat itu Bianca yang bertanggung jawab membuat dessert.
Sejak saat itu, Cassandra sering kali membeli kue dari tokonya. Meski begitu, Cassandra belum pernah sekali pun memesan cake untuk acara spesialnya. Biasanya beliau hanya sekedar membeli muffin atau brownies.
Makanya, Bianca merasa tersanjung ketika Cassandra memintanya membuat kue di hari anniversarry pernikahannya. Karena tema acaranya berkonsep elegan, Bianca mendekor kue pesanan Cassandra dengan foundant putih dengan campuran warna pink dan gold – kombinasi dari warna favorit Cassandra dan suaminya.
*************×*×**************