
“Wah , aromanya harum banget,” Selena mengendus pelan aroma nasi goreng yang menggoda indera penciumannya.
“Silahkan dimakan, Bu. Tapi Bibi masaknya tidak begitu pedas. Takut Ibu tidak suka,” ujar Bik Nini sambil menyiapkan piring kosong untuk Selena.
“Saya pecinta pedas kok, Bik. Tapi makasih ya, untuk sarapannya.”
“Sama-sama, Bu. Lalu Ibu mau dibuatin minum apa? Teh atau kopi?”
“Tolong teh dengan sedikit gula ya, Bik.”
Bik Nini mengangguk dan kembali ke dapur. Selena memperhatikan sejenak punggung Bik Nini yang perlahan menghilang. Teringat kembali perjumpaannya pertama kali dengan Bik Nini semalam. Awalnya, Selena sempat merasa skeptis saat melihatnya. Dia tidak yakin kalau Bik Nini mampu mengurus rumah dengan perawakannya yang terbilang kecil.
Ketika pertama kali datang, Bik Nini mengenakan kebaya dan jarik kuno. Persis seperti wanita tua pedesaan. Kulitnya sawo matang dengan keriput disana sini dan rambut putih yang menyakinkan Selena kalau usia Bik Nini sudah tak muda lagi.
Selena sempat memarahi Dimas yang memilih Bik Nini sebagai asisten rumah tangga mereka. Dia tidak tega jika wanita tua seperti Bik Nini harus melakukan pekerjaan rumah yang menurutnya berat.
Tapi Dimas justru menertawakannya dan menyuruh Selena untuk melihat dulu ketangguhan Bik Nini.
Dan pepatah yang mengatakan ‘Don’t judge book by it's cover’ , itu memang benar adanya. Terbukti Bik Nini dengan cepat membuktikan kalau beliau masih sanggup menjadi asisten rumah tangga. Selena tersenyum sendiri, memikirkan bagaimana kagumnya dia begitu melihat skill yang dimiliki Bik Nini.
Sambil menyuap sesendok nasi goreng, Selena menatap kursi kosong di hadapannya. Lalu pandangannya beralih ke jam merah yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sudah hampir waktunya berangkat kerja. Namun Dimas belum juga menampakkan batang hidungnya.
Tadi saat Selena melewati kamarnya, pintunya masih tertutup rapat. Selena sedang menimbang-nimbang apakah hendak membangunkannya atau membiarkannya, ketika Bik Nini datang dengan secangkir teh hangat.
Selena tersenyum berterimakasih dan kemudian meminta tolong Bik Nini untuk membangunkan Dimas. Namun jawaban Bik Nini selanjutnya, sukses membuat manik cokelatnya membulat kaget.
“Bapak sudah berangkat dari jam 6, Bu.”
“Ha? Jam 6?”
Bik Nini mengangguk mengiyakan. Tampak jelas gurat kekesalan di wajah Selena, tapi kemudian langsung digantinya dengan seutas senyuman kecil.
“Terimakasih sudah memberitahu saya. Silahkan lanjutkan lagi kegiatan Bibi.”
Bik Nini sempat mematung beberapa detik sebelum membungkukkan sedikit badannya dan kembali ke dapur dengan perasaan canggung. Tak beberapa lama kemudian, Selena menghampirinya ke dapur dan memberikannya 3 lembar uang seratus ribu.
“Buat belanja ya, Bik. Tapi malam ini saya lembur jadi tidak akan makan dirumah. Masakkan saja untuk Dimas. Saya berangkat kerja dulu ya.”
“Baik, Bu. Hati-hati di jalan.”
**********
“Selamat untuk pernikahannya, Bu!!” Pekikan anggota team berbarengan dengan suara confetti yang diledakkan, menyambut Selena yang baru saja membuka pintu ruangannya.
“Ya ampun!” Selena terlonjak kaget, nyaris terjatuh jika tak cepat-cepat di pegang Niko. “Kalian ini, apa-apaan sih?!”
Helen tersenyum jahil. Tanpa mempedulikan kemarahan Selena, ia menghampiri atasannya tersebut dengan sebuah red velvet cake kecil di tangannya.
“Ayolah, Bu. Jangan marah-marah. Kita hanya mau bikin kejutan kok, sekalian perayaan.”
Selena yang sedang mengomel sambil membersihkan sisa-sisa confetti yang melekat di bajunya , menolehkan kepalanya. Memandang Helen yang tersenyum bangga.
“Kemarin, Direktur sudah memberikan kita dana anggaran untuk launching produk kita, Bu. Mereka juga sudah menyetujui desain yang kita buat. Dan hari ini, team pemasaran akan mulai bekerja sama dengan kita!”
“Benarkah?” Selena menutup mulutnya, tak percaya mendengar ucapan Helen. Tapi Helen mengangguk dengan cepat, diikuti oleh anggota team lainnya. Mata Selena berbinar, senyuman lebar menyungging di bibirnya.
“Akhirnya! Kita berhasil!!” Selena memekik girang yang disambut anggota teamnya.
Seakan melupakan rambutnya yang masih dibalut sisa confetti, Selena memeluk anggota teamnya. Dan mereka berenam termasuk Prita, mulai larut dalam euforia kecil.
“Baiklah kalau begitu, sekarang mari kita bekerja lebih keras lagi!!” ujar Selena bersemangat. “Team apa kita?”
“SPARTA!!” balas Helen , Niko , Prita , Dindin , Maya dan Dewa berbarengan.
**********
RS PONDOK JAKARTA
“Eh..eh..coba lihat perempuan yang disana,” Siti mengarahkan dagunya ke seorang wanita muda berambut pirang kemerahan sebahu , yang sedang menunggu di depan ruangan Alvino. “Apa dia pasien disini?”
Nina memperhatikan wanita yang dimaksud Siti. Tampilannya sangat modis dengan kacamata hitam yang membingkai wajahnya. Kulitnya putih mulus. Di sampingnya terdapat sebuah tas kecil berwarna hijau yang Nina tahu betul, kalau tas itu berharga fantastis.
Nina menelan salivanya, dari jarak jauh saja dia sudah bisa memastikan kalau wanita itu bukan orang sembarangan.
Nina menggeleng. Dia hafal dengan semua pasien Alvino. Ia yakin sekali kalau wanita itu bukan datang untuk kontrol atau pun berkonsultasi. Mungkin ia kesini untuk urusan pribadi.
Dan benar saja dugaan Nina, wanita itu tetap duduk dengan sabar sampai pasien terakhir keluar dari ruangan Alvino. Dia baru bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Alvino keluar dari ruangannya.
Sayangnya, Nina dan Siti berada sedikit jauh dari mereka berdua. Sehingga tak mendengar jelas percakapan di antara keduanya.
Namun, mereka sempat melihat ada perdebatan di antara Alvino dan wanita itu. Sebelum akhirnya, wanita itu menarik tangan Alvino dan membawanya keluar.
“Kalian lihat?!” Siti terpekik kaget begitu pasangan itu menghilang. “Wanita itu pasti pacar Dokter Alvino!”
“Iya..iya aku juga lihat. Wah. Sayang ya, kita tidak bisa lihat wajahnya,” keluh Ria.
“Ei...tanpa melihat pun sudah kelihatan jelas kalau wanita tadi sangat cantik!” timpal Santi yang diiyakan oleh Siti dan Ria.
“Eh, Nin. Itu benar pacarnya Dokter Alvino bukan? Kamu kan yang lebih dekat dengannya.” Siti mencolek pelan lengan Nina yang sedang sibuk membereskan meja.
“Gak tahu! Jangan tanyakan apa pun lagi!” tukas Nina jengkel sambil bergegas pergi.
“Dia kenapa?” tanya Siti yang hanya dijawab Santi dan Ria dengan mengangkat bahu.