
Tadi pagi, perwakilan perusahaan Gina selaku agensi yang menaungi Nayra lansung bertindak cepat.
Mereka merilis klarifikasi disertai bukti-bukti yang mengatakan kalau foto-foto itu diambil saat Dimas dan Nayra masih berstatus pacaran.
Perusahaan Dimas pun juga memberikan statement yang sama. Kedua perusahaan besar tersebut, kompak bekerjasama menghapus berita itu dari berbagai laman portal internet.
Tapi siang ini, muncul artikel serupa. Dan kali ini disertai fakta mencenggangkan yang membuat siapa pun mengumpat.
Artikel itu memperlihatkan foto Dimas dan Nayra bertemu di hotel. Dari potongan foto CCTV, terdapat tanggal yang menunjukkan peristiwa itu baru saja terjadi.
Ada juga foto Nayra keluar dari apartemen Dimas. Yang terakhir, foto buram yang menunjukkan Dimas dan Nayra berciuman di tangga darurat!
Kedua perusahaan besar itu tak bisa lagi mengelak, karena semua foto menunjukkan kalau kejadian itu terjadi di saat Dimas sudah berstatus sebagai suami Selena.
Tak pelak, artikel itu bergulir kencang bak bola panas. Imbasnya, saham perusahaan Dimas jadi merosot. Para pemegang saham mulai ketar-ketir, mereka menuntut klarifikasi dari Dimas dan meminta sidang pertemuan.
Demikian juga dengan Nayra. Beberapa perusahaan mulai memutuskan kerjasama mereka dengannya. Tawaran drama yang semula sudah dijadwalkan untuk Nayra langsung digantikan dengan aktris lain.
Kolom komentar penuh dengan caci maki dan hujatan netizen. Mereka semua menyebut Nayra sebagai ‘pelakor’. Mereka menuntut Nayra untuk meninggalkan dunia entertainment.
Beberapa orang bahkan terlihat berkumpul sambil membawa spanduk di depan kantor DPS Entertainment - meminta Nayra didepak dari perusahaan itu.
BRAK
Gina menggebrak meja kasar. Kilatan amarah terpancar dari matanya. Dia menatap tajam beberapa staffnya yang ketakutan. Saat ini mereka semua berada di ruang rapat lantai 5 kantor DPS Entertainment.
“Bagaimana kita bisa kecolongan seperti ini?!” Bentak Gina sambil mengacungkan telunjuknya ke arah staffnya. “Artikel ini? Artikel sampah!!”
Gina membanting tabletnya ke meja. Disana tercetak huruf tebal-tebal bertuliskan ‘HOT NEWS : PERNIKAHAN SENSASIONAL DIATAS PERSELINGKUHAN? BAGAIMANA NASIB SELENA CELESTINE?’
Gina menggertakan giginya, menatap tajam foto-foto Dimas dan Nayra. Dia ingin meludah tiap kali melihat gambar Dimas disana. Berani-beraninya pria seperti Dimas menyakiti hati sahabatnya.
“Br*ngsek!” Geram Gina emosi sambil meninju meja. “Dimas Soetedjo, s*alan!!”
****
SKYLOOK GROUP
Rapat pemegang saham akan berlangsung dalam beberapa jam lagi. Nasib Dimas sebagai Direktur dipertaruhkan.
Jika pemegang saham menuntut Dimas diturunkan, maka posisi Direktur akan digantikan oleh Xaviera, sepupu Dimas.
“Xaviera? Apa kamu yakin, Dir?” Dimas melotot tak percaya saat mendengarnya.
Dirga mengangguk. “Dari yang saya dengar seperti itu, Presdir.”
Dimas mengepalkan erat tangannya. Apa para pemegang saham itu sudah gila? Bagaimana bisa Xaviera menjadi kandidatnya?
Padahal selama ini Xaviera tak pernah disangkutpautkan ke dalam perusahaan karena reputasinya yang buruk.
“Bodoh! Apa mereka mau melihat perusahaan ini hancur?!” Maki Dimas kesal.
Dia menghempaskan tubuhnya di sofa ruang kerjanya, menengadahkan kepalanya sementara matanya terpejam.
“Lalu gimana perkembangannya, Dir? Sudah tahu dari mana artikel itu berasal?”
“Saya sudah mengumpulkan semua waiter yang waktu itu bertugas. Mereka semua sedang dalam proses penyelidikan. Untuk artikel itu sendiri… Maaf saya masih belum bisa melacaknya, Presdir. Sepertinya ini bukan ulah wartawan biasa. Karena tidak mungkin, bisa tak terlacak seperti ini.”
“Saya sedang menelurusi lebih dalam lagi. Saya minta maaf, Presdir.” Dirga tertunduk lesu.
Dia merasa malu. Sudah sejak subuh tadi, dia dan anggota teamnya mencari si pembuat artikel tersebut. Tapi tetap saja hasilnya nihil.
Dimas menghembuskan napas panjang sembari mengusap wajahnya kasar. Dia sudah tak tahu lagi harus berbuat apa.
Kemarahan orang-orang di luar sana sudah tak bisa diredam lagi. Mereka semua menghujatnya. Nama baiknya langsung rusak.
Tapi bukan itu yang membuatnya gusar. Melainkan memikirkan keadaan keluarganya terutama Selena. Wanita itu memang tidak mendapat hujatan. Tapi netizen malah menyuruhnya untuk bercerai darinya.
Dimas mendecih kesal. Sampai mati pun, ia tak akan mau berpisah dari Selena. Seenaknya saja mengatur-atur kehidupan rumah tangga orang!
Tok..tok..tok..
Suara ketukan di pintu membuyarkan monolog di kepala Dimas. Mengarahkan dagunya ke pintu, Dimas menyuruh Dirga untuk membukanya.
Begitu pintu dibuka, Martin muncul dari balik pintu sambil menenteng laptopnya.
“Butuh bantuan?” tanyanya nyengir. “Tadi Selena nyuruh saya datang kesini.”
“Memangnya Anda bisa apa?” Dirga balik bertanya – sinis.
Dia memang pernah mendengar kalau sahabat istri Bosnya itu jago bermain computer. Tapi mantan pemain E-sport apa bisa melacak alamat IP yang susah dibobol hacker?
Tak menanggapi cemoohan Dirga, Martin malah berjalan santai melewatinya dan ikut duduk di sofa.
“Anda!....” Omongan Dirga terputus karena Dimas langsung menyuruhnya diam.
“Saya tidak tahu tujuan Selena mengirim kamu kesini. Maaf, bukannya saya meragukan kemampuanmu. Tapi masalahnya bahkan anak buah saya pun masih belum bisa melacaknya. Jadi emm……”
Dimas kebingungan mencari kata-kata selanjutnya. Dia menggaruk-garuk pelipisnya.
Martin tertawa lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi. “Ya, saya tahu pemikiran kalian berdua. Seorang pemain game amatiran, bisa apa? Iya kan?” Kekehnya.
“Haah….Kalian berdua sama seperti Gina.”
Dimas dan Dirga saling berpandangan bingung melihat Martin yang tiba-tiba meratap sedih.
“Yah.. tapi saya kesini karena Selena yang memintanya.” Lanjut Martin sambil membetulkan kacamatanya yang miring. “Tolong pertemukan saya dengan team hacker kalian.”
Dimas berpikir sejenak. Dia belum mengenal Martin dengan baik seperti ia mengenal Alvino. Cukup riskan memasukkan orang asing ke dalam jajaran teamnya.
Tapi saat ini dia tak punya pilihan, bantuan sekecil apa pun harus ia terima. Terlebih Martin datang atas permintaan Selena.
“Baiklah. Dirga akan mengantar kamu kesana.” Putus Dimas.
Dirga sempat protes tapi tatapan dingin Dimas menciutkan nyalinya. Dengan berat hati, ia mengantar Martin ke sebuah ruangan yang terletak di ujung koridor lantai 7.
Ruangan itu bertuliskan ‘GUDANG’. Sekilas memang seperti tempat penyimpanan biasa. Tapi jika masuk semakin dalam, di ruangan itu ada sebuah pintu berwarna senada dengan dinding. Dirga lalu menggesek sebuah kartu dan menempelkan ibu jarinya, seketika dinding itu terbelah.
Martin hanya manggut-manggut seolah-olah sudah terbiasa melihat kecanggihan seperti itu.
“Saya perkenalan jajaran hacker perusahaan kami.” Dirga merentangkan tangannya, memperkenalkan sekelompok orang-orang yang sedang menekuri komputernya masing-masing.