The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Jangan Mengangguku



Lain di mulut, lain di hati. Pepatah ini agaknya sesuai dengan yang dirasakan Selena saat ini. Meski lisannya berucap tak peduli tapi jauh dalam hatinya, Selena diterpa rasa penasaran.


Apa dia baik-baik saja? Apa dia akan kembali ke perusahaan? Dimana dia akan tinggal nanti? Apa di Jakarta atau malah pulang ke Prancis?


Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di benak Selena seharian. Sambil menemani Sky di rooftop rumah, Selena berselancar di sosial media.


Dia mendesah gusar lantaran tak mendapatkan berita apa pun terkait kepulangan Leon. Sepertinya Aleron benar-benar serius dengan ucapannya setahun yang lalu.


‘Saya pastikan dunia tidak akan pernah mendengar tentang Leon lagi. Sudah cukup penghinaan yang ditujukan untuknya. Jangan harap kalian terutama media akan bisa mendekatinya lagi!’


“Bu…” panggilan Bik Ninik mengalihkan Selena dari layar ponselnya.


“Ya, Bik? Ada apa?”


“Barang-barang di dapur sudah hampir habis. Minyak, teh, gula….” Bik Ninik menjeda sejenak, berpikir barang apa lagi yang mau diurutkannya, “Kayaknya hampir semua deh, Bu.”


Selena menepuk jidatnya, “ya ampun. Harusnya kemarin kita belanja bulanan ya, Bik? Kok bisa lupa ya aku?” Selena mendumel sendiri, “ kalau gitu siap-siap deh Bik. Kita ke supermarket 15 menit lagi.”


Bik Ninik mengangguk. “Biar saya yang dandanin mas Sky, Bu.” Begitu Selena mengiyakan, wanita paruh baya itu segera menggendong bayi mungil itu dan membawanya ke kamar Sky yang berada tepat di sebelah kamar Selena.


.


.


Sekitar 45 menit kemudian, mereka bertiga sudah sampai di mall dan langsung menuju area supermarket yang terletak di lantai bawah mall.


Sambil menggendong Sky, Selena memperhatikan Bik Ninik yang terlihat antusias mengambil berbagi macam barang-barang kebutuhan di rak display.


“Bik Ninik happy banget ya, Nak.” Bisik Selena geli.


Seakan paham maksud perkataan Selena, Sky berceloteh sambil tertawa menendang-nendangkan kaki kecilnya yang melayang di udara. Melihat tingkah polah Sky yang menggemaskan, Selena bermaksud mengabadikannya melalui kamera ponsel.


“Lihat kamera Sky, nih disini kameranya…” Selena mengarahkan Sky yang terlihat kebingungan karena mendapati wajahnya terpampang di layar ponsel.


Posisi Sky yang digendong menghadap ke depan memudahkan Selena untuk melakukan foto selfie dengannya.


“1..2..3 ……”


Selena memberi aba-aba dan bersiap menekan tombol kamera.


DEG


Secepat kilat Selena langsung berbalik saat netranya tanpa sengaja melihat wajah familiar tertangkap dari layar ponselnya. Namun sayang begitu ia berbalik, sosok tersebut sudah keburu menghilang.


Jantung Selena berpacu kencang. Keringat dingin menjalar punggungnya. Ada kecemasan berbalut kerinduan yang dirasakan Selena sehingga tanpa sadar bibirnya mendesah menyebut sebuah nama yang seharusnya sudah terhapus dari hatinya sejak lama.


“Leon….”


*******************


Tiga hari sudah berlalu semenjak Selena tanpa sengaja melihat Leon di supermarket. Meski awalnya sempat yakin kalau sosok tersebut adalah Leon, kini dia malah menyangsikannya. Karena pagi ini, Dimas memberinya berita yang mengejutkan.


“Sebenarnya aku nggak pengen kasih tahu kamu tentang ini. Tapi kayaknya kamu perlu tahu,” Dimas menyeruput sejenak kopi hitamnya. Di seberang meja, Selena yang tengah menyendok nasi goreng meliriknya sekilas. “Leon sudah kembali ke Prancis.”


Susah payah Selena menelan gumpalan nasi di mulutnya. “Kamu tahu dari mana?”


Dimas tersenyum samar, “tahu aja.”


Selena memicingkan mata, “kamu masih mata-matain Leon?”


“Enak aja!” Dimas mencibir, “aku bukan pengganguran yang doyan ngurusin cecunguk macam dia.”


“Terus kamu tahu dari mana?”


Dimas menghela napas sebentar, “dari Aleron. Beberapa hari lalu dia datang ke kantor.” Mata Dimas menerawang. Ada nada pilu di balik suaranya, “dia minta maaf atas nama Leon. Dia juga minta aku buat sampein ke kamu kalau dia sama Leon akan menetap di Prancis.”


Kamu masih menyukainya kan Sugar?


“Oh, baguslah…” Kata-kata pamungkas, yang selalu Selena ucapkan tiap kali menutup pembicaraan. “Hari ini kamu nggak lembur kan Bi? Kita janji mau makan malam di rumah Papi loh.” Selena memulai topik baru. Dia tak ingin membahas tentang Leon bersama Dimas.


Dimas mengangguk. Menyembunyikan kesedihan dengan senyumannya. “Aku bakal pulang cepat hari ini.”


********************


Sore itu, Selena mengajak Sky berkeliling komplek. Sambil mendorong stroller, Selena mencoba mengenalkan segala hal kepada Sky.


Sore yang cerah bermandikan awan putih bergelombang yang indah ditambah hembusan angin bertiup rendah, menceriakan mood Selena yang sempat kesal lantaran WIFI di rumahnya mengalami trouble.


“Duduk di sini dulu ya, Sky.” Selena mendorong stroller ke bangku taman bercat kayu.


Tak ada jawaban. Selena mengintip dan tersenyum kecil mendapati putra kecilnya sudah tertidur sambil memeluk boneka bunny favoritnya.


Terlanjur berada di taman, Selena memutuskan untuk duduk beristirahat sejenak sambil menyaksikan sekumpulan bocah kecil berlarian kesana kemari.


Mengusir kejenuhan, Selena mengambil ponselnya dan mulai terhanyut dalam permainan online yang sudah lama tak di mainkannya. Sesekali matanya melirik ke dalam stoller, memastikan kalau Sky masih tertidur pulas.


Tiba-tiba tercium aroma maskulin menusuk indera penciumannya. Tubuh Selena langsung menegang. Aroma tersebut mengingatkannya akan Leon. Merasa ada seseorang di balik punggungnya, secara otomatis Selena langsung membalikkan badannya.


Detik itu juga matanya membelalak kaget. Leon berdiri tepat di hadapannya.


“Apa kabar Sel?” Leon tersenyum sendu. Pandangannya kemudian beralih ke stroller bayi yang ada di samping Selena. “Itu anakmu?”


Selena mematung sebentar. Matanya mengerjap tak percaya. Apa dia sedang bermimpi? Bukannya tadi pagi Dimas memberitahukannya kalau Leon dan kakeknya sudah pergi ke Prancis?


“Sel…” panggilan lembut Leon menyadarkannya kalau semua ini nyata.


“Ngapain kamu disini?” Pertanyaan tajam tersebut meluncur begitu saja dari mulut Selena. Dia langsung merutuki kebodohannya dalam hati.


“Ah maaf, maksudku bukan begitu…” Selena buru-buru meralat ucapannya begitu menyadari air muka Leon berubah muram.


“It’s ok. Aku yang salah karena tiba-tiba muncul di hadapanmu begitu aja. Maafin aku.” Leon tertunduk menyesali keberaniannya mendatangi Selena. “Aku cuman ingin tahu keadaanmu. Sekaligus ingin berpamitan.”


“Berpamitan?”


Leon mengangkat kepalanya, memandang sendu Selena. “Aku akan berangkat ke Prancis malam ini.” Leon menjeda kalimatnya, menarik napas panjang sejenak, “kemungkinan besar aku tidak akan kembali lagi….”


Selena terdiam bingung. “Sebentar ….” Potong Selena. “Aleron bilang kalian sudah berangkat ke Prancis.”


“Grandpa bilang begitu? Kapan kamu bertemu dengannya?” Alis Leon mengerut bingung.


“Bukan.” Selena menggeleng, “Dimas yang memberitahuku. Dia bilang kalau kakekmu mendatangi kantornya dan mengatakan kalau kalian akan kembali ke Prancis.”


Leon terdiam sejenak. “Yah …. Seharusnya aku sudah berangkat ke Prancis dari beberapa hari lalu. Tapi…..” Leon menarik napas panjang lalu memandang lurus Selena.


“Sebelum aku pergi, aku ingin meminta maaf. Selama ini aku nggak pernah meminta maaf secara benar. Tolong maafkan semua kekhilafan dan obsesiku. Selama setahun ini aku menyadari satu hal. Kalau hatimu sudah menjadi milik Dimas.


Karena itu tolong berikan aku kesempatan lagi. Kesempatan untuk jadi temanmu lagi. Aku janji kali ini kita hanya akan benar-benar berteman. Kamu mau kan Sel?” tanyanya lirih.


Selena tertunduk membisu. Lagi-lagi rasa nyeri menjalar ulu hatinya. Selena tidak mengerti kenapa hatinya selalu sakit setiap kali bersama Leon. Apa ini bentuk dari rasa bersalahnya?


Keheningan langsung menyelimuti Selena dan Leon. Mereka berdua saling berdiri berhadapan tanpa memandang satu sama lain.


Leon memberanikan diri menatap Selena. Perlahan, dia mendekati Selena, mengikis jarak di antara mereka.


“Sel, ak….” Tangan Leon terulur hendak menyentuh pundak Selena.


“Maaf, aku nggak bisa....” Tiba-tiba saja Selena mendongak. Menatap hampa Leon sambil menggeleng pelan, “dan tolong jangan mengangguku lagi.”