
Sejak skandal percintaan Dimas dan Nayra terbongkar, Selena terpaksa harus meninggalkan rumah. Atas permintaan Dimas, Selena dan Bik Ninik tinggal sementara di villa milik Alvino yang berada di Puncak.
Tempat itu dirasa aman karena hanya Selena, Alvino, Gina dan Martin saja yang tahu. Ditambah sekarang Dimas tentunya.
Karena skandal itu akhirnya terselesaikan, Selena ingin cepat kembali ke rumah. Selain karena pekerjaan kantornya yang jadi terbengkalai, dia juga sudah kangen ingin bertemu Dimas.
“Aku besok pulang ya. Kan masalah juga udah selesai. Kata Pak RT juga udah nggak ada reporter lagi di depan komplek.” Rajuk Selena sambil memainkan tirai kamarnya. Dia merasa sedikit kesal karena Dimas baru menghubunginya selarut ini.
Dimas terkekeh geli membayangkan raut cemberut Selena di seberang sana. “Tunggu sehari lagi ya. Lusa aku jemput.”
“Ah…kenapa harus sehari lagi? Kamu mau ngapain?” tanya Selena kesal.
“Masih ada yang harus diselesaikan, Sugar.” Dimas memang belum menceritakan soal keterlibatan Leon di artikel anonim itu. Selain belum punya bukti kuat, Dimas tak ingin membuat Selena kepikiran.
“Apa lagi? Posisimu di perusahaan juga sudah stabil, kan?” Selena terdiam sejenak, lalu melanjutkan kalimatnya. “Atau jangan-jangan ... Kamu mau mencari pembuat postingan itu? Itu bukan perbuatan Nayra, kan?”
Dimas tercekat. Gimana bisa Selena menebak setepat itu? Padahal semua orang percaya kalau postingan itu Nayra yang membuatnya.
“Kamu ngomong apa sih? Nggak kok.” Kilah Dimas cepat.
“Jangan bohong sama aku, Bi.” Suara dingin Selena malah membuat Dimas gugup.
“Bi…” Panggil Selena sambil merendahkan intonasi suaranya.
“Haah..” Dimas menghela napas gusar. “Kayaknya aku nggak bisa bohongin kamu ya. Atau memang kamu yang punya bakat detektif?” Dimas tertawa kecil tapi Selena hanya terdiam di seberang sana.
“Oke..oke.. kalau kamu mau tahu.” Lanjut Dimas pasrah.
Dimas menceritakan semua hal yang ia tahu. Tapi kemudian, Dimas dibuat terkejut lantaran Selena ternyata sudah menduga adanya keterlibatan Leon di dalam postingan tersebut.
“Sebelum kamu sama Nayra masuk ke tangga darurat, ada pesan aneh masuk ke ponselku. Isinya hanya menyuruhku pergi ke tangga darurat.” Jelas Selena. “Begitu aku kesana, aku lihat kamu dan Nayra…..” Selena menggantungkan kalimatnya. Hatinya kembali perih mengingat kejadian itu.
“Jangan diingat-ingat lagi.…” Sahut Dimas cepat.
Selena terdiam beberapa saat. Wanita itu kemudian menghembuskan napas panjang, melanjutkan kembali ceritanya. “Malamnya aku langsung cari tahu siapa pemilik nomer itu. Ternyata namanya Anna. Dia bekerja sebagai sekretaris Leon. Dari situ aku udah curiga soalnya pas aku check daftar tamu, nama Anna nggak ada disana. Perwakilan Spyrogames yang datang hanya Leon seorang.”
“Pesan text itu masih ada di ponsel kamu?”
“Masih ada. Pokoknya kamu harus cepet selesaikan masalah ini, Bi. Kasihan Nayra harus menanggung semuanya. Aku dengar dia mau dibawa ke Singapore.”
“Pengobatan. Soalnya udah nggak mungkin dia lanjutin terapinya disini. Kenapa? Kamu ngerasa kehilangan?”
“Aku cuman kaget, Sugar. Jangan berpikir aneh-aneh.”
Selena menghela napas gusar. “Maaf. Aku masih sensitif tiap kali kamu penasaran soal Nayra.”
“Aku ngerti. Justru harusnya aku yang lebih peka. Maaf.”
Obrolan mereka pun berlanjut hingga 1 jam lamanya. Saking lamanya, Selena sampai ketiduran dan baru sadar esok paginya dengan posisi ponsel masih di sebelah telinganya.
Karena masih dalam masa cutinya, seharian ini Selena uring-uringan. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Alvino – si pemilik villa, baru saja melajukan mobilnya kembali ke Jakarta. Sahabatnya itu dengan tega meninggalkan Selena yang merengek ingin ikut ke Jakarta.
Niatnya mau berkunjung ke rumah Mama pun batal karena Mama dan mertuanya masih berada di luar negeri. Sebelum kasus itu muncul, Mamanya memang sudah berada di luar negeri. Selena tidak tahu alasan apa yang Dimas utarakan. Yang jelas Mamanya hanya menyakinkan Selena agar tetap setia mendampingi Dimas.
Cukup aneh menurut Selena, sebab biasanya orang tua pasti akan meminta anaknya berpisah jika mengetahui menantunya berselingkuh. Tapi Mamanya malah menginginkan sebaliknya.
Getaran di ponselnya mengusik lamunan Selena. Sebuah nomor asing menelponnya. Ragu-ragu, Selena tetap mengangkatnya.
30 menit kemudian, Selena bergegas pergi menggunakan transportasi online.
Sesampainya di tempat tujuan, Selena celingukan mencari seseorang. Tiba-tiba seorang pria bertubuh tinggi tegap menghampirinya. Pria itu kemudian mengantarkan Selena ke sebuah private room restoran bernuansa Jepang itu.
Begitu pintu digeser, Selena mendapati seorang pria tua sudah duduk bersila di atas tatami. Selena ragu-ragu tapi pria tua itu tersenyum ramah menyapanya.
“Masuklah, Selena.”
Masih dengan rasa waspada, Selena masuk dan duduk di depan pria tua itu. Tangan kiri Selena tetap terjuntai ke dalam tas, menggengam erat stun gun. Berjaga-jaga jika ada bahaya mengancamnya.
“Maaf kalau mengejutkanmu. Ijinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Aleron. Saya mengajakmu bertemu mewakili cucuku, Leon.”
Selena terkejut mengetahui Aleron yang tadi menghubunginya. Dia terdiam sejenak, menatap lurus Aleron. “Ada perlu apa Anda mencari saya, Tuan?”
Aleron tertawa kecil. “Tampaknya saya tahu kenapa cucuku bisa menggilaimu. Kamu mirip sepertinya, tidak suka berbasa basi. Baiklah, saya akan langsung saja.”
Aleron meluruskan posisi duduknya. Menatap langsung manik cokelat Selena.
“Bisakah kamu menjadikan Leon sebagai suami keduamu?”