The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pelajaran Baru



Dimas membuka matanya lebih dulu dari Selena. Pria itu tersenyum, menatap wajah Selena yang bersandar di dadanya.


Dimas memperhatikan lamat-lamat wajah polos istrinya yang masih terpejam. Bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibir tipis merah muda dan……


Jantung Dimas berdegup membayangkan kembali percintaan mereka semalam. Tubuh polos Selena tergambar di otaknya. Pikiran mesum itu membangkitkan lagi ‘sesuatu’ miliknya.


Dimas mengeram, memejamkan matanya berusaha menetralkan pikirannya. Sebagai gantinya, Dimas mengalihkannya dengan memikirkan kegiatannya hari ini.


Gerakan kecil di dadanya membuyarkan lamunannya. Selena mengerjap sesaat sebelum akhinya mendongak dengan mata masih menyipit.


“Pagi, Sugar.” Dimas tersenyum, mengecup kening Selena yang berbaring di lengan kanannya.


“Pagi juga, Bi.” Sahut Selena dengan suara serak khas bangun tidur. Wanita itu kembali terpejam, menyandarkan kembali kepalanya di dada telanjang Dimas. “Aku masih ngantuk. Jam berapa sih ini?” Keluhnya.


Tangan kiri Dimas meraba-raba nakas, mengambil ponsel hitamnya. “Jam 5.” Jawab Dimas berbohong.


Nyatanya saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.


“Oh. Aku tidur sebentar lagi deh, tolong bangunin aku jam 6,ya.” Pinta Selena dengan mata terpejam.


“Oke. Aku pasang alarm dulu.” Dimas berpura-pura menyetel alarm di ponselnya. Setelah menaruh ponselnya di nakas, Dimas ikut tertidur kembali sambil merangkul erat Selena.


*****


“Ya Tuhan Bi!!! Aku kesiangan!!” Teriakan Selena membangunkan Dimas dari lelapnya. Pria itu mengeliat, merengangkan kedua lengannya lalu terduduk di kasur.


Dimas mengucek-ucek matanya sambil memandang sekeliling. Terlihat Selena duduk bersila di sofa single sambil menelpon dengan layar laptop yang menyala di hadapannya.


Sepertinya ia sedang meeting karena dia langsung menempelkan telunjuk di bibirnya saat Dimas perlahan mendekat. Isyarat agar Dimas tak bersuara.


Dimas mengangguk, mengacungkan ibu jarinya sambil berjalan berbelok ke kamar mandi. Selena melotot, melihat suaminya berjalan santai tanpa mengenakan baju atau pun dalaman. Tanpa sadar matanya menuju langsung ‘pusat’ inti Dimas. Sadar akan kelakuannya, Selena cepat-cepat membuang mukanya.


Gila, bisa-bisanya mataku langsung ngelihatin itunya.


Hampir dua jam lamanya, Selena melakukan meeting dengan teamnya. Dia memukul-mukul pelan pundaknya. Dia berdiri, merenggangkan sejenak badannya sebelum akhirnya membilas badannya di kamar mandi.


Karena bangun kesiangan, Selena langsung melakukan meeting online begitu membuka matanya. Dia hanya sempat mencuci muka dan mengoleskan sedikit bedak dan juga lipstik.


Selepas mandi, Selena beranjak turun ke dapur. Sejak tadi, perutnya sudah demo minta diisi.


Dimas sendiri, sudah berangkat kerja sejak tadi. Sambil mengunyah sereal, Selena mendengus sebal teringat lagi-lagi dirinya harus absen dari kantornya.


Sebenarnya setiap karyawan di kantornya memang memiliki hak cuti selama 12 hari selama setahun. Yang membuatnya kesal lantaran ia bingung harus melakukan apa di hari senggangnya. Gina, Martin dan Alvino sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.


“Lakukan hobi Ibu saja, mumpung libur. Hobinya Ibu apa?” tanya Bik Ninik saat Selena mengeluh.


“Hobi? Apa ya?” Ditanya begitu, Selena malah semakin bingung. “Belajar, mungkin.”


“Belajar? Maksudnya belajar gimana toh, Bu? Kayak anak sekolah gitu?”


Bik Ninik bengong sesaat sebelum tertawa geli. “Oalah, Bu. Itu mah kewajiban anak sekolah. Lagian Ibu kan sudah dewasa. Moso masih hobi belajar matematika? Hobi yang lain, Bu. Misalnya bercocok tanam, menjahit atau memasak.”


Selena mendesah gusar sambil menggeleng. “Saya belum pernah menjahit atau menanam sesuatu. Tapi kalau masak, sering. Cuman sekarang saya lagi nggak mau masak.”


“Gimana kalau belajar jahit, Bu?” usul Bik Ninik.


“Siapa yang ngajarin?”


“Ya, saya toh Bu.”


Selena berpikir sejenak. Dulu waktu masih kecil, Selena sering membantu Mamanya memasukkan ujung benang ke jarum jahit.


Lalu sambil bergaya, Selena kecil ikut-ikutan menjahit di samping Mamanya. Namun apes, telunjuknya malah tertusuk ujung jarum. Sejak saat itu, Selena jadi benci menjahit.


“Yah, boleh lah. Ayo ajarin saya, Bik. Eh tapi saya nggak punya benang sama jarum.”


“Tenang, Bu. Bibik punya peralatan menjahit lengkap.”


Selena manggut-manggut, lalu menatap bingung Bik Ninik. “Terus kita mau jahit apa, Bik? Emangnya kita punya baju bolong?”


Bik Ninik tersenyum geli mendengar pertanyaan polos majikannya. “Jahit nggak hanya menambal saja, Bu. Tapi bisa juga bikin sesuatu, misalnya serbet atau taplak meja.”


“Oh…” Selena terhenyak kagum. Menatap kesepuluh jarinya. “Jadi nanti saya bisa bikin taplak meja kreasi saya sendiri dong ya.”


Bik Ninik menggangguk. “Kebetulan saya punya stok kain perca juga. Sebentar saya ambil alat-alatnya dulu.”


Selena yang memang hobi belajar tampak menikmati pelajaran barunya. Walau sempat tertusuk jarum tapi akhirnya ia berhasil membuat sebuah taplak kecil.


Selesai menjahit, Selena segera menelpon Mamanya, bermaksud untuk pamer. Sesuai dugaannya, Mamanya sempat tak percaya dan setelah melihat hasilnya, pujian meluncur dari ibu 2 anak itu.


“Oh ya Mah, Raymond udah nentuin belum mau kuliah dimana?” tanya Selena tiba-tiba.


“Memangnya temanmu nggak kasih tahu, kalau adikmu jadi magang disana?” Mama balik bertanya.


“Teman? Maksudnya?”


“Loh, bukannya kamu yang rekomendasikan Raymond ke perusahaan itu? Orang direkturnya sendiri yang bilang ke Raymond, kalau dia kenal sama kamu kok. Makanya Raymond langsung mau. Apalagi kata Raymond, perusahaan temanmu itu perusahaan besar.” Jawab Mama panjang lebar.


“Bentar..bentar..” Selena berpikir sejenak. Seingatnya, teman-teman sekolahnya paling banter hanya memiliki perusahaan start-up kecil. Yang termasuk besar paling perusahaan Gina saja. Jangan bilang…


“Mah, perusahaan tempat Raymond magang, namanya Spyrogames bukan?” tanya Selena panik.


“Iya. Yang ada game-gamenya.”


Tanpa banyak bicara lagi, Selena segera pamit memutus sambungan teleponnya. Dengan tergesa-gesa, dia mengganti bajunya, menyambar kunci mobil dan melesat pergi menuju kantor Leon.


“Brengsek kamu Leon! Kalau kamu sampai sentuh adikku, awas kamu!!” Selena menggertak kesal sambil meremas erat setir kemudi.