The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Percakapan Pertama



Jika biasanya Selena akan selalu bersemangat memulai paginya , tidak dengan hari ini. Dia bahkan enggan untuk sekedar membuka mata.


Sejak membaca pesan mamanya semalam , suasana hati Selena sangat buruk. Rasanya dia hanya ingin menghabiskan hari dengan meringkuk di bawah bedcover sambil memeluk guling.


Tapi kemudian dia teringat akan rapat penting hari ini. Sambil mengumpat , Selena beranjak dari kasur dan mulai bersiap bekerja.


"Tunggu..tunggu!" suara seseorang membuat Selena otomatis menahan pintu lift.


Seorang pria muncul dan langsung masuk.


"Terimakasih," ucap pria itu dengan napas sedikit tersengal.


Selena hanya tersenyum sambil mengangguk. Tiba-tiba terdengar bunyi dari ponselnya. Senyum lebar langsung menghiasi wajah cantiknya karena Martin memberikan beberapa buah diamond game.


Tingkah Selena yang kini fokus memainkan ponselnya , tak membuatnya menyadari kalau pria yang bersamanya di lift tengah memandangnya tanpa berkedip.


**********


Untungnya begitu Selena sampai di kantor , dia langsung disibukkan oleh pekerjaan yang menyita perhatiannya. Dan membuatnya melupakan sejenak permasalahannya.


Namun begitu pekerjaannya selesai , dia teringat kembali akan janji kencan butanya. Selena menepuk jidatnya kala menyadari kalau dalam dua jam lagi , ia akan bertemu dengan calon suaminya.


Selena belum tahu seperti apa wajah calonnya. Kemarin mamanya sempat mengirimkan sebuah foto namun karena kesal langsung dihapusnya begitu saja.


Sambil memejamkan mata , Selena memijat-mijat keningnya berusaha mengingat beberapa informasi yang diberikan mamanya.


Dimas Pradipta Soetedjo. Soetedjo?


Rasanya gue familiar sama nama itu.


Brak.. Selena mengebrak meja begitu mengingatnya. Tangannya bergegas mengetik keyboard sambil berdoa agar nama itu tidak seperti dalam pikirannya.


Beberapa menit kemudian dia kembali memekik kaget. Matanya melotot membaca tulisan yang muncul di layar komputer.


Dimas Pradipta Soetedjo merupakan anak pertama dari Goenawan Wiro Soetedjo. Yang merupakan pemilik perusahaan properti terbesar di Indonesia. Saat ini Dimas menjabat sebagai CEO hotel Mercurrien dan beberapa perusahaan lainnya.


Dia menutup mulut dengan tangannya , masih terkejut tak percaya bahwa pria sehebat ini akan menjadi suaminya.


Astaga ..Bagaimana bisa mama jodohin gue dengan pria ini? Aaarghh..


Drrtt..drrrtt... suara getaran ponsel membuyarkan pikirannya. Tanpa melihat nomer yang tercantum di layar , Selena segera menjawabnya.


"Halo , apa benar ini dengan Nona Selena?" terdengar suara seorang pria begitu Selena menjawabnya.


"Ya. Ini dengan siapa?"


"Saya Dimas Pradipta."


Mendengar nama tersebut , Selena sontak membuka mata. Jantungnya berdegup kencang , seketika dia merasa lidahnya kelu.


"Y-ya? Ada apa?"


Selena langsung tersenyum cerah , "tentu saja. Saya tidak masalah."


Atau kalau bisa sekalian saja kita tidak usah bertemu untuk selamanya.


Terdengar helaan lega di seberang sana , "terimakasih Nona .."


"Selena. Panggil saja saya Selena" potong Selena.


"Ah , iya Selena. Kalau begitu , sampai jumpa besok."


"Oke."


Duk... Selena langsung menjatuhkan kepalanya ke meja begitu pembicaraan berakhir. Padahal dia hanya mendengar suaranya saja tapi jantungnya serasa berhenti.


Apa ini yang disebut aura orang kaya? Bahkan sampai suaranya bisa berbeda dari orang biasa. Lagian kenapa harus dia sih yang gue nikahin? Oh iya , telepon Mama .....!!!


Dengan terburu-buru Selena segera menelpon mamanya. Begitu terdengar suara mamanya di seberang sana , Selena langsung menumpahkan kekesalannya.


"Mah!! Mama serius jodohin aku sama Dimas Soetedjo?! Pilihin calon mantu yang biasa aja dong Mah! Karyawan swasta... atau PNS atau apa kek."


"Loh, memang kenapa dengan Dimas? Apa dia jelek? Ah, tapi waktu Mama lihat, dia ganteng kok kayak artis-artis Korea."


"Bukan gitu. Maksudnya...," Selena mengaruk-garuk kepalanya mencari kata-kata yang tepat. "Ya, pokoknya terlalu bagus aja."


Terdengar tawa mama di seberang sana , "Anak Mama kan jauh lebih bagus! Mungkin kamu gak ingat , tapi kalian berdua itu teman masa kecil loh."


Selena mengernyitkan kening. Dia memang tidak begitu mengingat masa kecilnya.


"Dulu Mama selalu berpikir kalau kamu akan mencari jodohmu sendiri. Tapi jujur , melihat kehidupanmu sekarang Mama jadi pesimis. Kamu ini terlalu sibuk bekerja. Sudah hampir sebulan loh , kamu gak kerumah Mama." Terdengar nada kesedihan Mama di seberang sana.


Selena tercekat. Memang benar sejak dia sibuk menyiapkan project baru , dia hanya berkomunikasi melalui video call saja.


Perasaan bersalah langsung bergelayut di hati Selena , "maaf Mah. Selena lagi ada project besar. Minggu ini Selena akan datang dan menginap. Janji".


"Iya, gak apa-apa Nak. Mama mengerti kok. Malah Mama selalu berdoa untuk karirmu. Jadi ....kamu bisa juga kan mengerti keinginan Mama?"


Selena terdiam. Sejak Papa meninggal , Mama memang sudah berjuang banyak untuk kehidupannya dan Raymond.


Mungkin ini saat bagi Selena untuk menunjukkan baktinya. Lagipula apa salahnya perjodohan ini? Toh calonnya bukan pria sembarangan.


"Iya Mah. Selena akan turutin kemauan Mama" jawab Selena pasrah. "Mah , Selena kerja lagi yah. Nanti Selena telpon lagi. Mama jangan lupa makan."


"Iya Nak. Kamu juga ya," ujar mama seraya mengakhiri obrolan.


Selena mendesah pelan. Namun tak berselang lama , ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Gina. Hanya sebuah pesan singkat namun mampu membuatnya kembali bersemangat.


Dia udah balik! Gue sama Martin nanti mau ke tempat dia jam 7.