The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Konferensi Pers



Suasana kantor DPS Entertaiment pagi ini cukup tegang. Gina melipat kedua tangannya di dada sambil berdiri membelakangi meja , menatap pemandangan Jakarta dari balik kaca jendela ruangannya.


Begitu pintu diketuk dan beberapa orang terdengar masuk , barulah Gina membalikkan tubuhnya sambil berjalan perlahan menuju sofa berwarna hitam.


Setelah duduk , Gina memberi isyarat kepada tamunya untuk duduk bersamanya. Mata Gina yang saat itu memakai softlens berwarna abu-abu menatap tajam ke arah seorang wanita muda dan pria bertubuh tambun. Mereka adalah Nayra dan manajernya , Jay.


“Kamu sudah tahu kan kenapa saya panggil kamu kemari?” tanya Gina.


“Maaf Bu , tapi Nayra....,”


“Saya bertanya ke Nayra , bukan Pak Jay!” potong Gina sambil mendelik tajam ke arah Jay.


Nayra yang melihat Jay dipelototi Gina , buru-buru menjawab dengan sedikit takut , “Saya minta maaf, Bu. Tapi semua foto adalah foto saya saat masih tinggal di Amerika. Mungkin sekitar 1 tahun yang lalu.”


“Setahun... jadi sebelum kamu di perusahaan ini ya....,” Gina bergumam sambil mengetuk-ketukkan kuku tangannya di pegangan sofa.


Sejak foto-foto kencan Nayra terekspos , perusahaan Gina menjadi ricuh. Banyak telepon masuk yang berdering menanyakan kebenaran artikel tersebut.


Terlebih lagi para sponsor yang terus-terusan menuntut perusahaan untuk memberikan jawaban yang jelas. Beruntung bagi mereka bertiga , saat ini ayahnya sedang tidak berada di tempat.


Jika beliau sekarang berada disini , Gina yakin kalau Jay dan Nayra akan menjadi sasaran kemarahan ayahnya. Sudah menjadi rahasia umum , jika ayahnya dikenal sebagai pria tegas dengan temperamen yang buruk.


Irama ketukan kuku Gina yang sedang berpikir , praktis semakin membuat Nayra dan Jay gugup. Mereka berkali-kali menelan ludah menanti perkataan Gina selanjutnya. Terlebih lagi Nayra yang mengigit bibirnya sambil berdoa dalam hati agar Tuhan membantunya kali ini.


“Apa pria yang di foto itu sama dengan yang menjengukmu di rumah sakit?” tanya Gina.


“A..apa Bu?” Nayra sempat terkejut sesaat sebelum mengangguk , “iya Bu. Benar.”


“Hah..,” Gina mendesah memegang kepalanya sambil menyandarkan tubuhnya , “sudah berapa lama kalian berpacaran?"


“Kami sudah berpacaran selama 2 tahun."


“2 tahun. Lama juga ya,” Gina kembali terdiam sesaat dan menatap lurus ke arah Nayra , “berarti dia tahu betul resiko pekerjaanmu seperti apa kan?"


Nayra mengangguk dengan takut , "iya Bu."


“Nayra...,” Gina berkata dengan tegas sambil membetulkan posisi duduknya. “Sekarang kamu jawab pertanyaan saya dengan cepat dan jelas. Apa kamu masih ingin berada di industri ini?”


“Masih Bu! Ini adalah mimpi saya dari kecil!” jawab Nayra mantap.


Cukup lama Nayra menunduk terdiam dan berpikir. Baru kemudian dia menatap Gina dengan pasrah seraya berkata , “baik Bu. Saya bisa”.


**********


Puluhan reporter sudah bersiap-siap menanti kehadiran Nayra di dalam konferensi press yang dibuat oleh agensinya.


Nayra yang datang dengan mengenakan dress berwarna merah gelap selutut langsung diserbu pertanyaan dari para reporter.


Beruntung bodyguard yang ditugaskan untuk menjaga Nayra , dengan cepat menjauhkannya dari kerumunan reporter yang mendekat.


Dengan sedikit tegang Nayra berjalan ke arah podium yang telah disediakan. Manik hitamnya memandang sebentar ke arah kerumunan reporter yang terlihat sudah tidak sabar.


Dia menghela napas panjang sebelum raut mukanya berubah menjadi sendu.


“Saya minta maaf jika sudah menimbulkan kegaduhan untuk DPS Entertainment dan semua penggemar saya.


Foto-foto yang dimuat di artikel adalah foto lama saya, setahun yang lalu saat masih di Amerika. Pria di foto itu adalah mantan kekasih saya. Tapi kami sudah menjalani kehidupan masing-masing sejak saya memutuskan kembali ke Indonesia.


Dan saat ini saya sedang tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Sekarang saya hanya ingin fokus dengan karier dan berharap agar selalu bisa memberikan yang terbaik bagi seluruh penggemar dan masyarakat.


Sekali lagi saya mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi,” jelas Nayra panjang lebar.


Cekrik..cekrik..cekrik...


Suara kilatan flash kamera para reporter langsung menyerbu Nayra yang sedang membungkukkan badannya sebagai tanda permintaan maaf.


Dengan dikawal dengan 3 bodyguard , Nayra berjalan perlahan keluar ruangan sambil sesekali menatap lirih kilatan kamera yang masih mengarah kepadanya.


Berkat pengawalan para bodyguard , Nayra sampai dengan aman menuju mobil van hitam mewah miliknya. Jay langsung membukakan pintu dan bergegas mengemudikan mobil meninggalkan area parkir.


“Hiks..hiks..hiks,” air mata yang sejak tadi ditahan Nayra akhirnya tumpah. Dia menangis kencang meluapkan perasaannya.


Jay yang sedang menyetir mulai menyalakan radio , tujuannya agar tangisan Nayra tidak terdengar sampai keluar.


Sesekali dia memperhatikan Nayra melalui kaca spion. Jay membiarkan Nayra menangis sepuasnya karena dia mengerti bagaimana perasaan Nayra saat ini.


Tanpa sadar Jay juga ikut menitikkan airmata. Kesedihan yang dialami Nayra juga dapat ia rasakan. Sambil mengenggam erat kemudi setirnya , Jay berdoa dalam hati agar Tuhan memberikan kekuatan bagi Nayra untuk tetap bisa bertahan di industri hiburan ini.