
“Lain kali tolong jangan menjemputku," ujar Selena seraya menoleh ke arah Leon yang sedang menyetir di sampingnya.
Leon tersenyum getir. “Maaf, kebetulan aku lewat depan kantormu.”
Selena menghela napas panjang. “Aku masih berstatus istrinya Dimas. Nggak enak rasanya kalau orang lain melihatku diantar jemput pria lain. Aku harap kamu mengerti, Leon. Mungkin kalau di apartement, masih tidak masalah kalau kita terlihat berdua. Tapi kalau di luar, lebih baik kita sedikit menjaga jarak.” Jelas Selena.
Leon mengangguk pelan. “Aku mengerti. Sekali lagi, maafkan aku.”
Selena hanya terdiam sementara tangannya sibuk mengetik sesuatu di gawai silvernya. Keheningan menyeruak di mobil sedan putih tersebut.
Leon yang merasa tak enak, berinisiatif mengajak Selena mengobrol. Tema yang dibahasnya tentu saja game kesukaan Selena.
Bak gayung bersambut, kekesalan Selena perlahan luntur. Wanita itu tak lagi kesal dan menanggapi cerita Leon dengan raut ceria.
“Mau makan malam bersama? Aku bisa masakkan sesuatu.” Tawar Leon saat mereka tiba di depan unit masing-masing.
Selena menggeleng. “Aku lelah. Lain kali saja ya.” Tolak Selena halus. Dia menekan tombol pasword kode pintunya. “Aku masuk dulu. Terimakasih sudah menjemputku.”
Leon mengigit bibirnya menatap Selena yang menghilang di balik pintu unitnya. Kekecewaan tampak jelas di wajahnya. Tapi pria itu mencoba tersenyum dan menyakinkan dirinya kalau Selena menolaknya karena memang benar-benar lelah bekerja.
****
Selena terbangun di tengah malam. Matanya nanar memandang sekeliling. Dia sedikit linglung saat berjalan menuju dapur.
Dengan gerakan pelan, dia menuang segelas air dan menghabiskannya dalam hitungan detik. Dia kemudian berdiri termenung di depan pintu. Kesunyian malam menajamkan indera pendengarannya.
Setelah memastikan tak ada orang di koridor unitnya, Selena menyelinap keluar menuju basement apartementnya.
Sesampainya di basement, sebuah mobil hitam sudah menantinya. Selena menengok ke kiri dan kanan memastikan tak ada yang melihatnya, sebelum kakinya melangkah masuk ke dalamnya. Tak berselang lama, mobil hitam itu pun melaju pergi, melewati sunyinya kota Jakarta.
****
Selena menguap beberapa kali. Tindakannya ini menarik perhatian Leon yang sejak tadi menatapnya khawatir.
“Habis begadang, Sel?” tanya Leon saat mereka berjalan beriringan menuju basement apartement. “Jangan terlampau sering begadang. Nanti badanmu bisa drop.”
Selena meringis kecil. “Iya. Akan kuingat nasihatmu.”
Seperti biasa, pagi ini Leon mengantarkan Selena ke kantor. Wanita itu ternyata belum juga mengambil mobilnya dari rumah Dimas. Entah apa alasannya, tapi yang jelas ini menguntungkan untuk Leon. Karena dia jadi bisa mengantar wanita pujaannya setiap hari.
****
Sore harinya sepulang bekerja, Leon terlihat sibuk di dapur kecilnya. Sambil menyising lengan kemejanya hingga ke siku, dia mulai berkutat dari satu wajan ke wajan lainnya.
Cukup lama dia berdiri disana, sampai meja makannya kini dipenuhi beberapa macam hidangan yang menggugah selera.
Leon tersenyum puas. Dia menaruh apronnya dan bergegas mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih santai. Setelah itu, ia keluar dari unit apartementnya dan menekan bel pintu Selena.
Leon tersenyum simpul saat memperlihatkan wajahnya di layar interkom pintu Selena. Semenit kemudian, Selena keluar dari unitnya.
“Ada apa Leon?” tanya Selena.
“Aku membuat makan malam. Ayo, kita makan di tempatku.” Ajak Leon bersemangat.
Selena terdiam, berpikir sejenak. Sekilas ia mendapati Leon tengah mencoba melirik ke dalam unit apartementnya. Dengan gerakan kecil, Selena menutup pintu unitnya dan mencoba mengalihkan pandangan Leon.
Jantung Leon langsung berdetak kencang
saat kulit mereka bersentuhan. Pria itu tak mampu menyembunyikan kegembiraannya.
Senyuman lebar menghiasi wajahnya sepanjang malam. Tapi kegembiraan itu terusik karena lagi-lagi seseorang menelponnya.
Selena menelisik raut wajah Leon yang mendadak berubah geram. Dia sedikit curiga lantaran Leon kembali menerima teleponnya dari balik kamarnya. Pria itu kentara berusaha menahan emosinya saat berjalan masuk ke kamarnya.
Cukup lama Selena menunggu, sampai akhirnya Leon keluar dari kamarnya. Wajahnya tertekuk dan gelap.
“Sel, maafkan aku. Aku harus pergi ke suatu tempat. Ada urusan mendadak. Kau mau menunggu disini atau bagaimana?” tanya Leon.
“Emm….” Selena berpikir sejenak. "Urusannya lama nggak?”
Leon menggeleng. “Hanya sebentar.”
“ Kalau gitu, aku tunggu disini saja, boleh?” tanya Selena.
Leon berbinar senang. Dia tak menyangka kalau Selena bersedia menunggunya.
Begini rasanya kalau ada seseorang yang menunggumu. Menyenangkan.
“Tentu saja boleh.” Leon bangkit berdiri, menyambar kunci mobilnya. “Tunggu ya, aku hanya pergi sebentar.”
Selena mengangguk. Ia ikut berdiri mengantar Leon sampai pintu depan. “Hati-hati.”
Leon tersenyum senang. “Kamu mengkhawatirkanku?”
“Tentu saja. Ini sudah malam. Aku nggak tahu kamu mau kemana malam-malam begini.” Selena seolah merajuk. Terkesan enggan ditinggalkan Leon.
Selena khawatir padaku? Aku nggak salah dengar kan?
Leon semakin sumringah. Di matanya, Selena tampak semakin menggemaskan. Tangan Leon mengepal, berusaha menahan gejolak perasaannya untuk menyentuh Selena.
“Maaf. Aku hanya sebentar,kok. Janji.” Pamit Leon sambil melangkah menuju lift.
Selena mengamati kepergian Leon sampai pria itu menghilang di balik pintu lift. Setelah itu, Selena masuk kembali ke unit apartement Leon sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
****
Seorang pria berpakaian hitam tampak asyik merokok sambil memainkan ponselnya di samping sebuah mobil van. Pria itu tak menyadari kalau ada 2 orang pria tinggi tengah berjalan mengendap-endap di belakangnya.
Dalam hitungan detik, salah satu pria tinggi itu tiba-tiba membekap mulutnya dengan sehelai saputangan.
Pria itu mencoba berontak tapi pukulan bertubi di perutnya membuatnya tak berkutik. Beberapa menit kemudian, pria itu pun jatuh terkulai pingsan.
“Bagus, ini yang terakhir. Banyak juga yang harus kita bereskan.” Sahut salah satu pria tinggi itu.
“Lalu apa langkah kita selanjutnya?” Tanya pria tinggi lainnya.
“Kita tunggu dia keluar. Menurut pesannya, dia sudah memasuki lift.” Jawab pria tinggi yang pertama.
Pria tinggi kedua mengangguk seraya mengacungkan jempolnya. “Oke.”