
Setelah melalui proses investigasi yang pelik dan rumit, akhirnya kepolisian secara resmi menetapkan status Leon menjadi tersangka. Meski Aleron – sang kakek, sudah berupaya menyelamatkan cucu kesayangannya dengan menyewa 10 pengacara handal, namun upayanya sia-sia belaka.
Berita tersebut langsung menjadi headline di semua surat kabar cetak maupun elektronik. Nama Leon pun kembali bertengger di puncak teratas pencarian berbagai laman internet.
.
.
“Hah.. gila.. gila.. Trending topik dimana-mana,” Gina berdecak riuh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tertawa-tawa girang menatap ponsel pintarnya. “Pria yang tadinya dipuja-puja kaum hawa dalam semalam berubah jadi sampah!” kekehnya puas.
Selena menoleh, mengalihkan pandangannya sejenak dari game yang sedang dimainkannya. Mengernyit heran memandangi sahabatnya yang heboh sendiri.
Semenjak mengetahui kabar kehamilan Selena, hampir setiap hari Gina selalu mengunjunginya. Di tiap kunjungannya, sahabatnya tersebut selalu membawa berbagai macam makanan organik.
Gina memang lebih rewel mengontrol kehamilannya ketimbang Dimas- suaminya sendiri. Gina bahkan sama sekali tak mengijinkan Selena memakan makanan junk food.
Pernah sekali waktu Selena kedapatan memakan sepotong ayam merk junk food terkenal, dan sahabatnya itu langsung menghujaninya dengan ceramah mengenai bahayanya junk food untuk ibu hamil.
“Lo lagi ngomongin siapa, Gin?”
“Leon-lah! Siapa lagi. Leon lagi terkenal tau, Sel," ejeknya sembari menyodorkan ponselnya ke Selena.
Selena terdiam sejenak. Ragu-ragu mau melihatnya atau tidak. Sebenarnya, sudah beberapa hari ini dia menjauh dari sosial media. Dimas melarangnya menggunakan aplikasi sosial media apapun untuk sementara waktu.
Biasanya Selena akan menurutinya, tapi kali ini rasa penasarannya membuncah. Tangan Selena terulur mantap menscroll ponsel pintar Gina.
Sedetik kemudian Netra cokelat Selena membulat. Menatap sedih potret Leon yang tengah diapit jajaran kepolisian. Leon tampak sayu dan kurus. Rambut pirangnya berantakan. Wajah yang biasanya mulus kini mulai di tumbuhi bulu-bulu tipis di dagu dan atas bibirnya.
Usapan halus di punggung menyadarkan lamunannya. Selena menoleh. Manik cokelatnya langsung bersitatap dengan manik hitam Gina.
“Sori, lo pasti kesinggung ya sama omongan gue tadi?” Gina meremas tangan Selena. Meski Selena tak pernah mengatakan apapun, tapi Gina tahu kalau sahabatnya ini menyimpan sebersit perasaan terhadap Leon.
“Apaan sih,” Selena tergelak, menepis tangan Gina. Tapi sejurus kemudian air mukanya berubah keruh. “Wajar nggak sih Gin, kalau gue ngerasa sedih lihat dia begini? Padahal gue tahu segimana jahatnya dia ke Nayra dan Dimas.”
“Well….” Gina meluruskan kakinya di sofa, menatap lurus ke layar TV di depannya.
“Sebenarnya wajar aja kalau lo punya perasaan buat dia. Dari apa yang gue denger, bisa gue simpulin kalau Leon emang beneran tulus sayang sama lo. Tapi kalau di lihat dari sudut pandang gue sebagai orang luar dan juga sebagai sahabat ....
Perasaan lo ini sama sekali nggak bisa di maklumin. Ini bisa membahayakan hubungan lo dan Dimas.”
Selena termangu beberapa saat, menatap nanar sahabatnya. Gina tersenyum tipis, “Itu artinya lo harus ngelupain dia, Sel. Gimana pun caranya.”
*****************
Selena duduk terdiam seraya meremas seat-belt yang melingkar di dadanya. Di sampingnya, Dimas fokus menyetir.
Jalanan kota Jakarta siang itu penuh kebisingan. Motor-motor berseliweran sibuk mencari celah di antara mobil- mobil yang padat merayap. Dimas mengumpat kesal saat sebuah motor melintas seenaknya di depannya.
Selena mengelus pundak suaminya sambil mengucapkan kalimat manis, untuk meredakan kekesalan suaminya. Dimas menarik napas panjang. Tangan kirinya mengenggam jari jemari Selena, memilinnya sejenak sebelum mengecupnya sekilas.
Saat ini Selena dan Dimas tengah menuju pengadilan untuk menghadiri persidangan pertama Leon.
Sesampainya di pengadilan, reporter sudah terlihat berkerumun di area depan pengadilan. Begitu melihat mobil Dimas, mereka semua sontak menghambur berebut ingin mewawancarai.
Beruntung, anak buah Dimas bergerak siaga. Beberapa pria berbadan besar langsung membentuk barikade untuk melindungi Selena dan Dimas dari kerumunan reporter. Tanpa mengucapkan sepatah kalimat apapun, Dimas dan Selena melesat masuk memasuki gedung pengadilan.
.
.
Selena menggeleng, merebahkan kepalanya di pundak Dimas. Suasana di dalam mobil terasa hening. Tak ada percakapan yang terjadi di antara keduanya. Baik Selena maupun Dimas terlarut dengan pikirannya masing-masing.
“Mikirin Leon?”
Pertanyaan Dimas memutus keheningan di antara mereka. Selena mengerjap kaget. Tapi sedetik kemudian, dia mengangguk pelan, “maaf…”
Terdengar helaan napas panjang Dimas. “Kenapa kamu harus minta maaf? Kalau aku di posisi kamu pun, mustahil aku nggak memikirkan perkataan Leon tadi. Berhenti meminta maaf terus menerus, Sugar. Itu bukan kesalahan kamu. Kamu memang wanita yang pantas untuk dicintai. Aku beruntung memilikimu. Makasih udah mau memilih aku menjadi suamimu.”
Selena tertegun tak mampu berkata-kata. Matanya berkabut mendengar penuturan Dimas, terlebih Dimas mengatakannya sambil menatapnya lembut.
“Tapi bukan berarti dia boleh seenaknya menggunakan segala cara untuk dapetin kamu! Itu tetap salah, dan perbuatannya harus tetap di hukum!” tandas Dimas. “Jangan sampai gara-gara penyataan dia barusan, kita jadi lembek.”
Selena yang tadinya terharu langsung tertawa geli. Dia memukul-mukul lengan Dimas, berpura-pura merajuk, “padahal tadi aku lagi dalam mode terharu. Ah kamu….,”
Dimas tertawa renyah, mencubit kecil pangkal hidung Selena, “aku nggak suka ya lihat kamu nangis. Apalagi nangis gara-gara cecunguk itu.”
“Bagus-bagus nama orang malah diganti cecunguk. Awas nanti kakeknya marah lagi loh,” Selena tersenyum menahan geli teringat air muka Aleron yang kesal karena Dimas keceplosan memanggil Leon dengan kata ‘cecunguk’.
Dimas terkekeh jahil. “Biarin. Emang bener cucunya cecunguk kok. Lagian masih bagus aku kasih julukan cecunguk, daripada bajingan. Lebih kasar ‘kan di dengarnya?”
Selena mengedikkan bahunya. “Terserah kamu deh…” cebiknya.
“Makan yuk, Sugar. Aku lapar,” ucap Dimas tiba-tiba.
“Yuk. Aku juga lapar."
“Aku tiba-tiba kepengen makan ayam betutu nih. Ada dimana ya?”
“Ayam betutu?” Selena mengernyit bingung. “Mana aku tahu ada dimana, Bi. Coba aku lihat dulu di aplikasi.”
Saat Selena sibuk mencari restoran yang menjual ayam betutu, Dimas tiba-tiba melontarkan kalimat yang membuat Selena semakin kebingungan.
“Aku jadi mau es cendol juga deh. Seger banget pasti panas-panas minum es. Iya nggak, Sugar? Oh, makan nasi bakar juga enak pasti. Ah….... kayaknya Hari ini kita harus kulineran, oke nggak tuh?” Dimas mengedipkan sebelah matanya, tersenyum kegirangan sambil menatap Selena.
“Ha?”
Selena hanya bisa bengong menyaksikan Dimas yang bersiul-siul senang membayangkan bermacam-macam makanan yang akan disantapnya nanti.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Hallo kakak-kakak Author ... Sehat-sehat semua kan?
Huaaa udah lama gak updet 😣😣 biasa deh.. keasyikan di real life jadii asa teu kudu gimana gituu 😂😂 (halah..apa sih😌😌)
Semoga author-author masih berkenan nyumbang jempol buat likee yaa 😆😆
Karena bingung mau mencuap apa lagi jadi cuman mau bilang terima kasih selalu buat author-author yang sudah mau mampir di karya abal-abal ini 😘😘