
"Sugar……”
Selena mendecih kesal. Sudah seharian ini, ia mendengar rengekan keluar dari mulut Dimas. Pria itu juga mengekori langkahnya seperti anak ayam. Sampai-sampai Bik Nini melongo heran melihatnya.
“Bu. Bapak baik-baik aja, kan?” tanyanya berbisik.
Selena yang sedang memotong sayuran, hanya mengedikkan bahunya.
Dari ekor matanya, ia melihat Dimas sedang menelungkupkan wajahnya di meja makan. Sesekali pria itu mendonggakkan kepalanya sambil merengek memanggil Selena.
“Hah!”
Kesal - Selena membanting pisau yang sedang dipakainya dan menghempaskan celemek birunya ke lantai.
Dimas yang terkejut langsung meluruskan posisi duduknya. Tanpa banyak bicara, Selena segera menyeret tangannya ke ruang tengah.
“Kamu mau sampai kapan kayak gini, sih?!” keluh Selena.
Penyebab rengekan Dimas sepanjang hari karena rencana Selena untuk menghadiri acara gaming yang tempo lalu diberitahukan oleh Leon.
“Sampai kamu bilang nggak bakal datang kesana.” Ucap Dimas.
Selena menghela napas panjang. “Kamu kan tahu, kalau aku udah lama banget nungguiin acara ini. Kamu juga ikut, kok. Lagian paling aku disana cuma sebentar. Nggak bakalan sampai malam. Apa sih yang buat kamu keberatan?” cecarnya.
“Disana ada Leon, kan?”
Selena mengangguk. “Kan yang ngasih undangan, dia.”
“Itu yang aku nggak suka. Pokoknya segala hal yang berhubungan dengan dia, aku nggak suka. Dan aku nggak mau kamu deket-deket sama pria itu.”
“Kenapa?” Selena memiringkan kepalanya, bingung.
“Kamu beneran nggak tahu?” Dimas memindai raut Selena yang terlihat jelas menunjukkan kalau wanita itu sama sekali tak mengerti maksud perkataannya.
“Haah…” Dimas menghela napas gusar. “Dia suka sama kamu, Sugar.”
Selena melongo heran, mengarahkan telunjuknya ke dirinya sendiri. “Leon suka sama aku?”
Selena mengerjap sesaat sebelum akhirnya tertawa kencang.
“Mana mungkin Leon suka sama aku. Kamu tuh kebiasaan. Setiap cowok yang deket sama aku, dibilangnya suka. Aku tuh bukan magnet, Bi. Yang bisa bikin semua orang tertarik sama aku. Aneh-aneh aja kamu. Udah ah. Jangan ngerajuk lagi. Atau gini deh, nanti disana aku bakal nempel terus sama kamu, gimana?”
Bi.
Ya, Selena sekarang memanggil Dimas dengan sebutan itu. Diambil dari kata 'Baby'. Itu pun karena Dimas yang terus menerus minta dibuatkan nama pasangan.
Meski awalnya menggelikan tapi lama kelamaan mulut Selena otomatis menyerukan kata itu.
Dimas terdiam sejenak, lalu kemudian mengerling jahil. “Bener ya? Nggak boleh jauh-jauh dari aku, loh.”
Selena mengangguk sambil beranjak kembali ke dapur. Tapi kemudian, ia membalikkan badannya, bertanya dengan raut muka penasaran.
"Bi. Aku pernah dengar, katanya kamu itu kalau di kantor galak banget. Tapi kok di rumah jadi begini?”
“Kamu mau aku galakin?” Dimas balik bertanya.
“Ya, nggak lah. Awas aja kalau kamu galakin aku!” Sergah Selena sambil mengacungkan ulekan di tangannya.
Dari sekian banyak pria yang mendekati Selena, hanya Leon yang sangat mengganggunya. Entah kenapa, ada perasaan aneh tiap kali ia melihatnya. Selain itu Dimas juga merasa seperti pernah mengenalnya. Tapi entah dimana.
****
Tampaknya Tuhan mengabulkan doa suami yang cemburuan. Karena sudah hampir 30 menit berada di ICE BSD City, Dimas dan Selena tak kunjung melihat Leon.
Padahal perusahaan SPYROGAMES ikut berpartisipasi mengumumkan peluncuran game terbaru mereka. Tapi sosok Leon yang merupakan CEO-nya, justru tak tampak disana.
Dimas tersenyum lebar, dia merasa senang sampai-sampai tak keberatan mengikuti Selena yang kegirangan mencoba berbagai game online keluaran terbaru.
Dimas baru cemberut saat Selena berfoto dengan para pemain E-sport yang kebanyakan adalah pria.
Hampir 2 jam lamanya, Dimas menemani Selena disana. Dan Selena tak juga menunjukkan gelagat mau pulang. Padahal Dimas sudah sangat bosan sampai membuatnya menguap beberapa kali.
Dimas memang tak pernah tertarik dengan yang namanya game. Seumur hidupnya, ia bahkan tak pernah memegang konsol game atau pun menginjak game center.
Dulu , disaat teman-teman sekolahnya mendatangi warnet, Dimas malah berlari ke perpustakaan. Dia lebih suka duduk sambil membaca ensiklopedia atau buku-buku berat lainnya.
Pilihan Dimas untuk menyegarkan otaknya adalah dengan membaca komik. Itu pun hanya sekedar doraemon atau pun detektif conan.
Setelah melalui bujukan dan rayuan panjang, akhirnya Dimas berhasil membawa Selena pulang. Wanita itu terlihat cemberut, menekuk bibirnya dan tak bersuara sepanjang perjalanan.
Merasa bersalah, Dimas akhirnya membelokkan mobilnya menuju sebuah mall.
Raut tertekuk Selena mendadak hilang saat Dimas mengajaknya ke salah satu toko yang menjual konsol game. Tanpa banyak berpikir, Dimas langsung membeli konsol game keluaran terbaru.
“Jangan ngambek lagi, ya.” Ujar Dimas sambil menggesek kartunya di mesin EDC toko. Dia tersenyum geli melihat binar tatapan senang Selena.
Selena mengangguk, menggelayut manja di lengan Dimas. “Makasih ya, Bi.”
Selena merasa senang karena akhirnya Dimas menyetujui penggunaan konsol game di rumah. Karena dulu Dimas sempat melarang Selena membawa konsol gamenya sendiri.
“Terlalu berisik, Sel.” Ucapnya kala itu. “Aku dulu punya teman serumah yang hobi maen PS. Dia kalau main pasti teriak-teriak. Udah gitu mainnya nggak tahu waktu.”
Selena hanya bisa menahan kecewa. Padahal dia sudah jauh-jauh hari mengepaknya. Alhasil konsol game itu malah berakhir berdebu di apartemennya saja.
Bak bocah kecil, kini Selena menenteng box konsol gamenya sambil tersenyum lebar. Sekarang giliran Selena yang merajuk ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
“Nggak mau makan dulu disini?” goda Dimas.
Selena menggeleng cepat. “Kan tadi masih ada makanan di rumah.”
Dimas tertawa gemas sambil mengecup kening Selena. “Yaudah, yuk pulang. Sini aku bawain.”
Dimas mengulurkan tangannya bermaksud untuk membawakan box konsol gamenya. Namun Selena langsung menepisnya.
“Nggak usah, Bi.” Tolaknya sambil bergegas menuju parkiran.
Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Beruntung, ia tak mengikuti saran dari Dirga.
Tadi siang, sekretarisnya itu menyarankan tas atau baju mahal jika ingin melunturkan emosi wanita. Tapi entah kenapa insting Dimas malah mengatakan itu justru akan semakin membuat Selena bertambah kesal.
DEG
Tiba-tiba saja jantung Dimas berdebar kencang tanpa alasan. Hatinya mendadak tak tenang. Seolah ada suatu hal besar yang akan terjadi. Dimas mengelus dadanya perlahan seraya berdoa semoga firasatnya salah.