The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kecemburuan



“Ah, besok-besok aku sendiri saja yang pergi belanja. Ngajakin kamu malah jadi boros!” keluh Selena seraya berdecak berkali-kali saat memeriksa selembar kertas bon yang membentang panjang.


“Ya, daripada nanti kita kekurangan. Mending kelebihan kan?” tukas Dimas sambil terkekeh.


“Sel, seat-belt mu sudah dipasang?”


Selena yang masih kesal, hanya menjawab dengan berdehem. “Hemm...”


Sambil melajukan mobilnya meninggalkan area parkiran mall, Dimas berusaha menahan tawa gelinya setiap kali melihat raut muka Selena yang masih cemberut.


Tapi beberapa detik kemudian, senyumnya menghilang dan berganti dengan kekesalan ketika mengingat kejadian tadi.


“Sel,” panggil Dimas.


“Apa?” jawab Selena dengan malas. Namun seketika dia merasakan atmosfir yang berubah di dalam mobil tersebut. Selena pun menoleh ke arah Dimas dan mendapati mata Dimas yang memandangnya lekat.


Selena langsung membuang muka, mengalihkan pandangannya. “Kenapa liatin aku kayak gitu?” tanyanya risih.


“Laki-laki tadi....,” Dimas sempat terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. “Apa kamu menyukainya?” tanya Dimas pelan.


**********


Beberapa jam sebelumnya.


“Kita belanja di AEAN mall aja ya. Lebih komplit , tapi lumayan jauh. Gimana?” usul Selena begitu Dimas masuk ke mobil.


“Gak masalah. Kan kamu yang lebih paham, Sel. Aku ikut kamu aja,” jawab Dimas. “Gak ada yang ketinggalan kan?”


Selena menggeleng. “Nope.”


“Oke. Kita berangkat.”


**********


Sesampainya di mall , mereka berdua langsung menuju supermarket. Sambil mendorong trolly , Dimas berjalan di samping Selena yang sibuk memilih-milih makanan.


“Ini atau ini ya? Tapi kok yang ini isinya lebih sedikit?” gumam Selena sambil menimbang-nimbang bahan makanan di kedua tangannya.


“Dua-duanya aja,” timpal Dimas seraya mengambil ke dua bahan makanan tersebut dari tangan Selena dan memasukkannya ke dalam trolly.


“Eh..eh..Dim!” Selena berusaha mencegahnya namun Dimas terus saja mendorong trollynya.


Tidak hanya itu saja , Dimas juga mengambil semua bahan makanan yang disentuh Selena. Tanpa basa basi , dia langsung memasukkan semuanya ke trolly. Selena berkali-kali mengomelinya namun dia akhirnya hanya bisa pasrah karena argumen mereka berdua menarik perhatian beberapa pengunjung disana.


Karena kesal, Selena pun akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri keperluan lainnya. Dia meminta Dimas untuk menunggunya di dekat kasir.


“Selena.”


Selena yang sedang memilih bumbu-bumbu dapur langsung menoleh saat mendengar seseorang memanggil namanya.


“Leon!” Selena berseru senang melihat kehadiran pria berparas Eropa tersebut.


“Apa kabar, Sel?” tanya Leon.


“Baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?”


“Lumayan. Oh iya , selamat untuk pernikahanmu ya. Maaf, aku tidak bisa datang.”


“Hu...,” Selena mengerucutkan bibirnya. “Padahal aku ingin mengenalkanmu kepada seseorang.”


“Siapa? Suamimu?” tanya Leon. “Kalau dia yang kamu maksud, tak perlu. Aku sudah mengenalnya sejak lama,” tambahnya sambil bergumam.


“Bukan Dimas. Tapi temanku yang waktu itu aku ceritakan, namanya Martin. Eh , kamu tadi bilang apa? Sudah kenal Dimas sejak lama?” Selena menatap bingung sosok Leon yang justru malah terlihat sibuk mencari-cari sesuatu di rak display.


“Oh, Martin yang kamu bilang mantan pemain E-Sport itu?”


Selena menggangguk kemudian menyikut pelan Leon. “Eii, tadi kamu bilang apa? Kamu kenal sama Dimas?”


Leon mendesah pelan seraya menoleh ke samping. “Tentu aku kenal Dimas. Semua orang mengenal keluarganya bukan?”


Selena terkekeh sambil membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ saat mendengar jawaban Leon. “Iya sih.”


Leon yang gemas melihat raut wajah Selena berniat mengulurkan tangannya untuk mencubit pipi Selena. Namun urung dilakukannya saat melihat seseorang berjalan menghampiri Selena.


“Ini Leon , dia tetangga sebelah apartemenku,” jawab Selena. Dia kemudian balik menoleh ke arah Leon. “Leon. Perkenalkan, ini Dimas.”


Leon tersenyum simpul seraya mengulurkan tangannya yang hanya dipandangi saja oleh Dimas.


Selena berdehem sambil menyikut Dimas pelan, memberi isyarat agar Dimas menerima jabatan tangan Leon. Tapi Dimas tidak mengubrisnya dan justru malah menarik tangan Selena.


“Ayo, kita pulang. Papi sama Mami mau datang ke rumah.”


“Ho? Mereka mau ke rumah?” tanya Selena terkejut yang dibalas anggukan oleh Dimas.


“Iya. Ayo, buruan,” ucap Dimas sambil


menggandeng Selena pergi.


“Eh..eh tunggu..tunggu,” Selena berniat melepaskan genggaman tangan Dimas.


Tapi Dimas mencengkramnya terlalu kuat.


“Aku belum pamitan sama Leon!”. Bisiknya pelan.


Dimas tak mengindahkan perkataan Selena dan semakin mencengkram tangan Selena sambil menariknya pergi.


“Lepas!!” Barulah setelah Selena membentaknya , Dimas mengendurkan cengkramannya.


Begitu pegangannya terlepas , Selena segera bergegas menghampiri Leon yang masih memperhatikan mereka.


“Maafkan sikap Dimas ya. Biasanya dia tidak seperti itu kok!”


Leon tidak menjawab, tapi matanya melirik ke arah belakang Selena. Dia tersenyum geli, melihat Dimas yang sedang memandanginya dengan kesal.


“Gak apa-apa Sel. Wajar kok kalau seorang suami cemburu.”


Selena tergelak mendengarnya. “Cemburu?!”.


Leon mengernyit bingung. Selena yang melihat raut kebingungan Leon pun buru-buru menyudahi percakapan mereka.


“Ya,sudah. Aku pergi dulu ya, Leon. Keep contact , oke? Salam buat Argo ya.”


“Oke. Hati-hati Sel.”


Leon masih memperhatikan pasangan suami-istri baru itu sampai mereka menghilang. Dia sempat tertawa kecil saat melihat Dimas melingkarkan tangannya di pinggang Selena yang kemudian menoleh ke belakang. Seolah-olah memberitahu Leon kalau Selena adalah miliknya.


“Dasar, tukang pamer!” gumam Leon pelan sambil berlalu pergi.


**********


“Tapi, ngomong-ngomong. Papi sama Mami mau datang jam berapa? Aku masak apa ya enaknya?” tanya Selena sambil membereskan barang-barang belanjaan.


“Mereka gak jadi datang.”


“Ha? Gak jadi? Kenapa? Kapan mereka bilangnya? Eh, tunggu. Perasaan, dari tadi kamu gak pegang-pegang ponsel deh.”


“Feeling,” ucap Dimas enteng.


Selena mengernyitkan alisnya. “Jadi maksudnya gimana sih? Mereka datang atau gak?”


“Mereka gak datang, Selena” ujar Dimas sambil mengacak-acak pelan rambut Selena. Dia gemas melihat raut kebingungan Selena yang lucu.


“Ah. Ngapain sih kamu,” gerutu Selena sambil berusaha mengibaskan tangan Dimas dari kepalanya. “Jangan ngacak-ngacak rambutku dong! Kayak Alvino aja nih.”


Dimas langsung tertegun mendengar ucapan Selena. Menarik kembali tangannya yang masih bertengger di rambut Selena.


“Alvino suka acak-acak rambut kamu juga?” Nada suaranya terdengar tajam dan kesal. Namun Selena tak menyadari hal itu. Ia sibuk mengomel sambil merapikan rambutnya yang kusut.


“Iya! Tsk! Heran , kenapa sih pada suka acak-acak rambut orang?!” Decak Selena kesal.


“Jadi ada dua orang ya?” Dimas bergumam sembari mengatupkan rahangnya.


Dan entah kenapa , hari itu Dimas merasakan kemarahan yang menjalari tubuhnya dan membuatnya tak nyaman sepanjang hari.