
Udara malam yang dingin langsung menerpa begitu menurunkan kaki dari pesawat. Memaksa Selena untuk menaikkan resleting jaket hingga menutupi tubuhnya dengan rapat. Sambil membawa koper , Selena yang ditemani oleh Niko dan Helen bergegas menuju pintu keluar bandara.
Seorang pria berbadan kekar dan berambut gimbal langsung menghampiri mereka begitu keluar dari bandara. Pria itu bernama Johan , orang yang menyewakan mobilnya selama mereka berada di Bali.
Setelah sedikit berkenalan dan beramah-tamah , Johan menyerahkan sebuah kunci mobil kepada Niko , yang juga merupakan teman baiknya.
Inilah salah satu alasan mengapa Selena mengikutsertakan Niko ke Bali. Selain karena mereka bisa mendapat mobil sewa yang murah. Dia juga mendapatkan seorang tour guide gratis karena Niko lahir dan besar di Bali sehingga sudah sangat hafal seluk-beluk jalanan kota Bali.
Sebelum beristirahat di hotel , mereka terlebih dulu mengisi perut di sebuah restoran yang berada di Kuta. Sambil makan , mereka bertiga membahas kembali persiapan untuk besok hari. Sekitar satu jam kemudian , barulah mereka bertiga pergi menuju hotel yang telah dipesan sebelumnya.
Begitu sampai di kamar hotel , Selena langsung membersihkan diri dan berganti baju piyama. Sementara itu Helen yang kelelahan , langsung terlelap begitu menyentuh kasur tanpa sempat mengganti pakaiannya.
Selena dan Helen memang berada di dalam kamar yang sama , sementara Niko berada di kamar seberang mereka.
Sebelum tidur , Selena mengecek ponselnya yang seharian ini tidak ia nyalakan. Dia cukup terkejut melihat banyaknya pesan yang masuk. Alis Selena berkerut mengetahui ada beberapa panggilan dari Dimas.
Dia berpikir sejenak , tapi karena rasa ngantuk yang menderanya , dia menaruh kembali ponselnya di nakas dan segera menyusul Helen ke alam mimpi.
Pagi harinya setelah sarapan , sesuai dengan rencana mereka bertiga mengunjungi pabrik makanan yang akan menjadi patner bisnis project mereka.
Sesampai disana Selena langsung bertemu dengan Pak Made , pemilik pabrik tersebut. Dan langsung diajak menuju kantornya yang terletak persis di sebelah pabrik.
Setelah mengadakan sedikit presentasi singkat , Helen menyerahkan sebuah kontrak yang langsung dibaca dengan serius oleh Pak Made. Tak butuh waktu lama bagi beliau untuk membubuhkan tandatangan dan stempel perusahaannya di atas secarik kertas tersebut.
Selena dan Pak Made kemudian berfoto bersama dan melakukan sedikit pengesahan kecil. Setelah itu mereka bertiga diajak tur berkeliling area pabrik.
Pak Made dibantu dengan asistennya menjelaskan dengan detil setiap proses yang ada di dalam pabriknya. Kunjungan tersebut baru berakhir siang hari setelah mereka semua selesai makan siang bersama.
Rencana mereka selanjutnya adalah pantai Tanjung Benoa. Begitu sampai disana , mata Selena langsung disuguhi keindahan pantai tersebut.
Hamparan pasir putih ditambah deburan ombak begitu indah walau diterpa teriknya panas matahari. Sesuai dengan tujuannya , Tanjung Benoa memang lebih disediakan untuk olahraga air. Tak butuh waktu lama bagi Selena , Niko dan Helen untuk mencoba berbagai macam permainan yang ada disana.
Barulah ketika matahari tenggelam , mereka bertiga kembali ke hotel. Setelah membersihkan diri , Niko mengajak Selena dan Helen untuk makan malam di Jimbaran.
Aroma harum seafood yang sedang dibakar langsung menyambut indera penciuman mereka. Setelah memilih berbagai macam jenis aneka seafood , Niko menuntun Selena dan Helen menuju meja yang terletak di bibir pantai.
Ketika Selena duduk , tiba-tiba seseorang menyapanya , “Selena!”
“Kukira aku sedang berhalusinasi saat melihatmu dari jauh. Ternyata benar kau. Kebetulan sekali kita bertemu disini. Apa kau sedang berlibur?”
“Bukan. Aku sedang melakukan perjalanan dinas. Kau sendiri bagaimana? Sedang berlibur?”
“Iya. Sekalian mengunjungi orangtuaku,” Leon menunjuk ke sebuah meja yang berisi pasangan paruh baya dan gadis muda yang dilihat Selena tempo hari.
Selena langsung mengalihkan pandangannya ketika gadis muda itu juga menatapnya. Dan tiba-tiba saja di depan mata Selena ada sebuah ponsel berwarna hitam. Dia mendongak dan mendapati Leon tersenyum lebar.
“Boleh aku minta nomermu?”.
“Untuk?”
Leon berpikir sejenak , “emm..untuk..membagi..diamond?”
“Berikan saja Bu. Dia ganteng dan kelihatannya baik,” bisik Helen kepada Selena yang sedang berpikir.
Dari kejauhan , Selena bisa merasakan tatapan mata si gadis muda itu. Selena pun menggeleng.
“Maaf Leon, tapi aku tidak mau membuat pacarmu marah.”
“Pacar?”
Selena mengangguk dan memberikan sinyal lewat matanya ke arah si gadis muda. Leon mengikuti arah tatapan Selena dan langsung tertawa keras.
“Hahahaha.. Sel. Dia bu....,” Ucapan Leon terputus karena kedatangan pelayan yang membawa makanan pesanan meja Selena.
“Leon , maaf. Tapi kami bertiga mau makan malam dulu,” ujar Selena dengan tegas.
“Oh...oke...,” Leon mengangguk pasrah dan berjalan kembali menuju mejanya sendiri.
Selena memperhatikan punggung Leon yang berjalan menjauh sambil berdecak kesal.
Dasar playboy!