The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Keisengan Alvino



Alvino mendelik ke arah sesosok makhluk berkacamata yang duduk di hadapannya. Sosok itu tampak santai menikmati sepiring nasi goreng. Tak ada kecanggungan atau rasa sungkan. Sosok itu bahkan berani meminta segelas teh hangat ke Bik Ninik.


“Nggak dimakan?” Senggolan pelan Selena menyadarkan Alvino. Pria itu hanya mengangguk dan mulai memasukkan nasi ke mulutnya sambil membuang muka sebal.


Sedari tadi sebenarnya Dirga sudah menyadari delikan tajam Alvino kepadanya. Namun ia berpura-pura tak peduli walau dalam hatinya ingin menjerit.


Emangnya cuman dokter aja yang nggak mau saya ada disini? Saya juga nggak mau dok.. Tapi saya bisa apa? Saya hanya menuruti perintah.


“Hari ini nggak ada pasien, Vin?” tanya Selena begitu menelan suapan terakhirnya. Dia sedikit heran karena semalam Alvino tiba-tiba memutuskan tidur di villa.


Alvino menggeleng. “Gue ambil cuti sehari.” Alvino mengerling jahil ke arah Selena. “Jalan-jalan yuk. Nggak bosen di villa terus?”


Dirga yang hendak menaruh piring kotornya ke dapur, sontak menghentikan langkahnya. Dia menatap cemas Selena yang sedang termenung memikirkan jawabannya.


Bisa dipecat aku kalau sampai Bu Selena pergi sama dokter Alvin.


“Bo…”


“Bu!” Tanpa sadar Dirga berteriak memanggil nama Selena sampai membuat Alvino dan Selena terkejut dan menoleh ke arahnya.


“Kenapa Dir?” tanya Selena.


“Emm.. itu…” Dirga bergerak-gerak gelisah. Dia menggaruk pipinya kebingungan mencari alasannya. Tanpa sengaja matanya bertubrukan dengan mata Alvino. Dokter itu terlihat kesal sambil memainkan garpunya. Dirga menelan salivanya.


Aduh..mati aku.


“Kalau nggak ada yang mau diomongin kenapa mesti manggil saya sekencang itu sih?” Selena jadi ikutan kesal. Jantungnya masih berdegup karena diteriaki Dirga.


“Eh ini Bu… saya baru ingat, kemarin Presdir bilang kalau mau jemput Ibu siang ini,” jawab Dirga berbohong.


Bodo amat lah, yang penting Bu Selena nggak kemana-mana. Urusan lainnya belakangan.


“Loh, bukannya malam?” tanya Selena bingung.


“Schedule Presdir dirubah, Bu.” Benar memang kata orang, sekali berbohong selanjutnya akan semakin gampang berbohong.


Selena membulatkan bibirnya berbentuk ‘O’. Dia tampak senang mendengar perkataan Dirga. Lain halnya dengan Alvino yang justru mengerucutkan bibirnya. Tiba-tiba sebuah ide melintas di otaknya.


“Dir, saya boleh minta tolong nggak?” tanya Alvino nyengir.


“Boleh dok. Dokter perlu bantuan apa?” Dirga tersenyum lebar melihat Alvino yang tak lagi marah padanya.


“Ikutin saya.”


Dirga mengikuti Alvino ke taman depan. Dia kebingungan melihat Alvino menyodorkan sebuah gunting rumput ke tangannya.


“Tolong banget… potongin rumputnya. Hari ini saya mau berberes villa. Mumpung libur..” Pinta Alvino. “Kamu bisa ‘kan motong rumput?”


“Bisa, dok. Dulu di rumah juga bagian beresin tanaman ibu saya.” Tanpa curiga Dirga segera menggulung celana panjangnya dan mulai berjongkok merapikan rumput-rumput liar di taman kecil milik Alvino.


Alvino tersenyum jahil. “Makasih ya. Saya tinggal ke dalam dulu.” Ujarnya sambil melesat masuk ke dalam villa.


Alvino bergegas mencari Selena. Wanita itu terlihat sedang duduk bersantai di sofa tengah. “Ikut gue yuk.” Kata Alvino sambil menarik lembut tangan Selena.


“Kemana?”


“Cari angin. Dimas datangnya masih siang 'kan?”


Selena termenung sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Oke. Tapi gue ijin dulu, ya.”


“Ijin? Sama siapa? Dimas?” Selena mengangguk mengiyakan. “Terserah lo deh.” Alvino mendesah kecewa.


Beberapa menit kemudian, Selena memasukkan ponselnya ke saku celana. “Yuk jalan.”


“Udah diijinin?” tanya Alvino heran.


Mata Alvino kembali berbinar senang. Tanpa berlama-lama ia segera menggandeng Selena ke garasi, memberikannya sebuah helm. “Naik motor ya.”


Selena mengangguk, memasang helm di kepalanya. Sedetik kemudian, dia sudah duduk dibelakang Alvino. Tangannya secara otomatis melingkar di pinggang Alvino.


“Bu Selena!!” Dirga memekik kaget melihat istri atasannya sudah berboncengan di atas motor dengan Alvino. Dia menjatuhkan gunting rumputnya, berlari menghampiri Selena namun sayang motor Alvino keburu melesat pergi. Sebelum menghilang, Dirga sempat melihat cengiran Alvino dari balik helmnya.


Dirga bergumam ketakutan sambil berlari menuju mobilnya. Dia harus membawa Selena kembali ke villa sebelum Dimas mengetahuinya.


****


SKYLOOK GROUP


Dimas baru saja menyelesaikan meetingnya saat membaca pesan text di ponselnya. Tak butuh waktu lama, dia segera menyambar kunci mobilnya dan berniat keluar. Baru saja mau melangkah, Martin keburu mencegatnya.


“Mau kemana?” tanyanya. Sejak kemarin Martin memang berada di kantor Dimas. “Kita masih harus bertemu pengacara.”


Siang ini mereka memang dijadwalkan menemui seorang pengacara yang akan mendampingi kasus Dimas.


“Puncak.” Jawab Dimas singkat.


“Disana ada Alvino. Ada sekretaris Anda juga, kan?” Martin mengamati Dimas yang hanya terdiam. “Jangan khawatir, saya yakin Alvino nggak akan melewati batas. Begitu juga Selena. Mereka hanya bersahabat baik.”


“Yah..semoga saja begitu.” Ucap Dimas lirih. Dia mengurungkan niatnya dan mendudukkan tubuhnya di sofa single.


“Bukti-bukti dari Jason masih belum cukup untuk menuntut Leon.” Martin mengutak-atik usb di laptopnya.


Kemarin Jason memberikan beberapa bukti chat percakapannya dengan Leon. Tapi masalahnya, chat tersebut bukanlah dari Leon secara langsung melainkan lewat perantara Anna – sekretaris Leon. Jika Dimas tetap mau menunjukkan bukti ini, mereka hanya bisa menjebloskan Anna dan bukannya Leon.


Dimas menghela napas panjang. Dari mana mereka bisa mendapatkan bukti lagi. Ini saja sudah susah. Leon memang pintar dengan tidak melibatkan dirinya secara langsung.


Tok..tok..tok..


Ketukan di pintu membuat pandangan keduanya menoleh ke pusat suara. Begitu Dimas menyuruh masuk, mereka terkejut mendapati Nayra berjalan masuk sambil menyapa mereka. Nayra tidak sendirian, dia datang bersama Jay.


“Aku punya bukti lain. Mungkin ini bisa membantu kamu.” Ucap Nayra saat Dimas menanyakan maksud kedatangannya.


“Bukti lain?”


Nayra mengangguk. Ini saatnya dia mengeluarkan kartu ASnya. “Leon udah gila, Dim. Dia punya ruangan khusus berisi foto-foto Selena. Dia juga sempat memata-matai Selena sebelum kalian berdua menikah.” Aku Nayra.


“Apa?!” Dimas melotot saking terkejutnya. Begitu pun Martin dan juga Jay.


“Aku pernah nggak sengaja masuk kesana. Kamu pasti kaget kalau tahu seperti apa di dalamnya. Dia benar-benar terobsesi sama Selena.” Nayra bergidik ngeri membayangkan kembali ruangan tersebut.


Foto-foto Selena memenuhi hampir penjuru ruangan. Bahkan ada patung marmer berbentuk persis seperti Selena. Nayra masih ingat kemarahan Leon saat dia tak sengaja menginjakkan kakinya disana. Leon hampir saja membunuhnya. Untung saja saat itu pelayan disana segera menenangkan Leon.


“Pantes, kamu tiba-tiba minta pengawalan bodyguard.” Kenang Jay. Nayra mengangguk pelan sembari memegangi lehernya yang sempat dicekik Leon.


“Jadi satu-satunya cara adalah masuk ke ruangan itu dan memotretnya.” Martin mengetuk-ketukkan jarinya di meja. “Tapi gimana caranya?”


Dimas, Martin, Nayra dan Jay terdiam membisu. Tak ada yang bisa menjawabnya. Mereka semua tahu siapa Leon. Pria itu bukanlah pria blasteran biasa melainkan cucu pengusaha retail terbesar di Asia. Sudah pasti rumahnya memiliki penjagaan berlapis.


“Bagaimana pun caranya kita harus bisa menjebloskan Leon ke penjara.” Geram Dimas emosi. Giginya gemertak membayangkan kegilaan Leon kepada istrinya.


Tak lama kemudian, ponsel Dimas berdering. Senyumnya seketika mengembang, dia bergegas beranjak meninggalkan Martin, Nayra dan Jay.


“Sugar….”


Tanpa sadar Nayra menoleh saat Dimas menjawab panggilan ponselnya sambil melenggang pergi. Nayra memalingkan mukanya, menarik napas dalam-dalam mencoba mengurangi rasa perih di dadanya.


Sadar Nay. Dia sudah bukan milikmu lagi.