
Rupanya Alvino membawa Selena menyusuri komplek villa. Kebetulan villa Alvino berada di komplek villa yang merangkap sebagai tempat wisata. Selena sendiri tak keberatan toh dia memang hanya ingin menyegarkan sejenak pikirannya.
Setelah memarkirkan motornya, Alvino mengajak Selena menaiki gondola. Ditemani seorang pria paruh baya yang bertugas mendayung, Alvino dan Selena menikmati keindahan danau kecil bernuansa Venezia.
“Lo bahagia nggak nikah sama Dimas?” tanya Alvino tiba-tiba.
“Bahagia dong. Nggak lihat badan gue jadi melar?” seloroh Selena sambil memperlihatkan pipinya yang semakin chubby.
Alvino tersenyum, mengacak-acak poni Selena gemas. Selena menjerit kesal sambil memukul-mukul tangan Alvino.
“Bagus deh kalo lo seneng, gue ikut seneng.”
Selena menoleh, menatap lekat Alvino. “Lo juga harus bahagia, Vin. Jangan mengharapkan wanita yang sudah menikah.” Gumam Selena pelan.
Alvino mengerjap, walau pelan tapi ia bisa mendengarnya dengan jelas. Sudah jelas sekarang posisi Alvino di hidup Selena. Selamanya mereka berdua akan selalu menjadi sahabat baik.
Alvino mengulum senyumnya. Ia menghormati keputusan Selena, toh sejak awal dia memang tidak pernah berniat merebut Selena dari Dimas. Dia hanya ingin bisa terus berada di samping Selena, menjadi pelindungnya.
Setelah menaiki gondola, Alvino mengajak Selena duduk di taman. Mereka duduk bersebelahan sambil memandangi hamparan bunga-bunga berwarna-warni.
Selena dan Alvino seolah kembali ke masa lalu, dimana mereka berdua saling tertawa, melempar ejekan tanpa melibatkan perasaan apapun.
“Vin, beliin itu dong.” Rayu Selena sambil menunjuk sebuah gerobak es krim tak jauh dari tempat mereka duduk.
“Beli sendiri sana. Uang lo lebih banyak.” Sergah Alvino. “Lo 'kan punya blackcard.” Sindirnya.
“Nggak bawa dompet, Vino…. Pelit banget sih.” Selena memanyunkan bibirnya.
Alvino memutar bola matanya jengah. “Iya..iya.. gue beliin.” Alvino beranjak pergi sambil mendumel.
Selena mengamati Alvino yang berjalan menghampiri penjual es krim tanpa menyadari kalau ada seseorang di belakangnya. Orang itu diam-diam menjulurkan tangannya berusaha menyentuh pundak Selena.
5 langkah..3 langkah… tinggal selangkah lagi dan orang itu akan bisa meraih Selena.
Sret.
Tiba-tiba saja orang itu menjerit kesakitan. Tangannya ternyata sudah terpelintir ke belakang. Dadanya membusung saking kuatnya cengkraman Selena.
“Sakit… sakit Bu..” Rupanya orang tersebut adalah Dirga.
“Eh, maaf Dir.” Selena berteriak panik sambil melepaskan cengkramannya. “Lagian ngapain kamu menyelinap di belakang saya?!”
Dirga meringis kesakitan sambil memutar-memutar bahunya yang nyeri.
“Saya mau nyamperin Ibu.”
“Loh, Dirga? Sudah selesai motong rumputnya?” Alvino yang baru datang, berpura-pura kaget. Dia sebenarnya tahu kalau sejak tadi Dirga mengikuti mereka. Hanya saja Alvino berlagak tak melihatnya.
Dirga melotot kesal. Jika saja Alvino bukan teman Selena, pasti dia sudah mengeluarkan amukannya. “Belum, dok. Nanti saya kerjakan.” Tukasnya kesal.
Alvino tertawa keras. “Nggak usah dikerjakan. Kasihan, besok tukang kebun saya nggak ada kerjaan.” Cengir Alvino.
What? Mata Dirga nyaris melompat keluar. “Dokter ngerjain saya?”
“Nggak kok. Saya emang mau rumputnya dirapiin. Tapi saya nggak tahu kalau besok tukang kebun saya datang.” Sahut Alvino santai sambil melahap es krimnya.
Dirga menarik napas dalam-dalam. Wajahnya memerah, kentara sekali emosinya sudah sampai di ubun kepalanya. Melihat hal itu, Selena buru-buru menepuk pundak Dirga.
“Maafin kelakuan Alvino ya Dir. Dia emang agak iseng orangnya.”
“Yah, pokoknya sekarang Ibu tolong kembali dulu ke villa.” Dirga memandangi Selena dengan raut memelas. “Kalau Presdir tahu Ibu keluyuran, saya bisa dipecat.” Jelasnya.
Selena berdecak. Dia segera mengambil ponselnya. “Saya telepon Dimas dulu. Masa saya harus terkurung di villa terus?” Ucapnya jengkel sambil berjalan menjauh dari Alvino dan Dirga.
Cukup lama Selena berbicara di telepon sampai akhirnya dia kembali. Alvino menyipit heran melihat raut suram Selena.
“Gue harus balik ke Jakarta.” Kata Selena tegas. “Sekarang.”
****
Selena melangkahkan kakinya lebar-lebar memasuki lobi kantor SKYLOOK Group. Di belakangnya Dirga mengikuti dengan raut muram.
Hilang sudah rencana rebahannya. Padahal ia sudah membayangkan akan bersantai di villa sambil menyelesaikan permainan gamenya yang kemarin belum selesai.
Selena langsung menghambur masuk ke ruangan kerja Dimas. Suaminya itu tampak terkejut tapi segera memeluk Selena.
“Aku kan sudah bilang bakalan jemput kamu nanti. Kenapa nggak sabaran sih?” Dimas bertanya gemas sambil mengecup kening Selena.
“Kelamaan. Aku juga mau tahu gimana perkembangannya.” Selena mengeratkan pelukannya sambil membenamkan kepalanya di dada bidang Dimas yang tertutup kemeja biru navy.
Itu bohong. Kenyataan sebenarnya, Selena sengaja datang cepat lantaran mengetahui kalau ada Nayra di kantor Dimas.
“Ehem…” suara dehaman Martin mengagetkan Dimas dan Selena.
Mereka berdua menoleh sambil tersipu malu. Selena melepaskan pelukannya dan ikut duduk di sebelah Martin. Sahabatnya itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa hari berada di ruangan yang sama dengan Dimas, ia jadi terbiasa dengan keromantisme pasangan suami istri itu. Ucapan ‘I Love You’ berkali-kali Dimas ucapkan tiap kali menelpon Selena.
Selena celingukan menjelajahi penjuru ruangan. “Loh, Nayra udah pulang, Bi?”
“Iya. Dia cuma sebentar disini.” Sahut Dimas dari balik komputernya. Dia terlihat sibuk memeriksa beberapa laporan di atas meja kerjanya.
Selena membulatkan bibirnya. Ada rasa lega mendera hatinya. Pandangannya kemudian dialihkan pada layar laptop milik Martin.
Disana ada potongan CCTV saat Leon dan Nayra mengobrol di meja bar. Selena mengamati adegan selanjutnya. Dia mendengus saat Nayra terlihat keluar pagi-pagi dan langsung menuju sebuah mobil.
“Hanya ini yang kita dapatkan?” Selena meneliti beberapa lembar kertas yang berisikan pengakuan penyebaran rekaman CCTV staff hotel Dimas. Tapi lagi-lagi itu semua dilakukan atas nama Anna.
“Kenapa kita nggak datengin Anna aja, Tin?” tanya Selena bingung. “Bukannya lebih gampang mengorek langsung dari dia?”
“Hah..” Martin menatap gemas Selena. “Kalau bisa, udah dari kemarin gue datengin, Sel. Masalahnya ini cewek nggak tahu kemana. Nggak masuk kantor bahkan apartemennya juga kosong. Gue sampai nyari catatan perjalanannya karena gue pikir dia mungkin kabur ke luar negeri atau luar kota. Tapi nihil, Sel. Dia benaran hilang kayak hantu.”
“Apa mungkin Leon nyembunyiin Anna?”
“Nah, gue sama Dimas juga mikir kayak gitu. Kita berdua udah lacak beberapa properti milik Leon tapi nggak ada juga. Kecuali satu tempat yang nggak bisa dilacak….” Martin merendahkan suaranya, menatap datar Selena. “Mansionnya.”
Mendadak, Selena teringat akan sosok Aleron. Dia baru saja akan membuka mulutnya saat deringan ponselnya terdengar.
“Aleron…” Desis Selena begitu melihat nomor Aleron tertera di layar. Tanpa menunggu lama, ia segera menjawabnya.
Panggilan telepon itu menarik perhatian Dimas dan juga Martin. Terlebih mendengar nama kakeknya Leon terucap dari mulut Selena. Kedua pria itu diam-diam mendengarkan percakapan Selena sambil berpura-pura sibuk.
Apa dibelakangku kamu berhubungan dengan keluarga Leon, Sugar? Kamu nggak mengkhianatiku kan? Batin Dimas.
Aleron? Gue nggak salah denger ‘kan? Kok Selena bisa tahu kakek Aleron? Batin Martin.