
"Hooek..hoeek..” Selena mencengkram tepi wastafel sembari memuntahkan isi perutnya. Beberapa menit kemudian, ia terkulai lemas.
Kepalanya berdenyut-denyut tapi rasa mualnya belum juga hilang padahal tidak ada yang bisa ia keluarkan lagi mengingat Selena baru saja bangun dari tidurnya.
Dengan tertatih-tatih Selena berjalan menuju pintu kamarnya bermaksud untuk meminta Bik Nini membawakannya obat herbal penolak masuk angin.
Namun baru saja tangannya memutar kenop pintu, perutnya sudah bergejolak dan rasa mual kembali melanda. Cepat-cepat dia berlari kembali ke wastafel.
Dimas yang kebetulan melewati kamar Selena, tanpa sengaja mendengar suara Selena yang sedang mengerang muntah-muntah. Dengan panik, Dimas menghambur masuk dan terkejut mendapati Selena terduduk di closet sambil memegangi kepalanya.
“Kamu kenapa?”
Selena mendongakkan kepalanya. Mulutnya hendak mengucapkan sesuatu tapi lagi-lagi rasa mual itu melanda. Tanpa sadar Selena mendorong Dimas dan kembali menundukkan kepalanya di wastafel.
“Kamu masuk angin ya?”
Dimas memijat-mijat tengkuk Selena sementara tangannya yang lain menggelung rambut Selena agar tak terkena percikan muntahan.
Cukup lama mereka berada di posisi seperti itu sampai akhirnya Selena merasa sedikit lega dan membasuh wajahnya dengan air keran.
“Makasih,” ucap Selena lirih.
Dimas mengangguk dan menuntun Selena agar berbaring di tempat tidurnya. Setelah menyelimuti Selena dengan selimut, tangan Dimas menyentuh kening Selena bermaksud untuk mengecek suhu tubuhnya.
Panas, gumam Dimas.
“Aku buatin teh manis dulu. Sekalian aku beliin bubur ayam. Badan kamu panas, jadi kamu harus minum obat sehabis makan.”
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Dimas segera pergi menuju dapur. Tangannya dengan cepat mengambil teh dan gula lalu menyeduhnya dengan air panas.
Sambil melakukan itu semua, Dimas memanggil Bik Nini. Wanita paruh baya itu sempat terkejut melihat majikannya membuat minuman sendiri. Niatnya untuk membantu segera ditolak oleh Dimas.
“Bibik tolong beliin bubur ayam di depan komplek. Jangan kasih kacang dan sambal,” ujar Dimas sambil menyerahkan selembar uang. “Jangan lama-lama belinya. Serobot aja antriannya.”
Bik Ninik mengangguk cepat. “Siap, Pak. Soal serobot-nyerobot mah Bibik jago!”
Dimas hanya tertawa dan bergegas kembali ke kamar Selena sambil membawa segelas teh hangat.
“Minum dulu, Sel.” Dimas mendudukkan Selena yang tampak lemas. “Maaf ya. Gara-gara nemenin aku ke proyek, kamu jadi sakit.”
Selena tersenyum tipis. “Bukan kok. Emang akunya ajah yang lemah. Gak bisa kehujanan sedikit.”
Dimas mengelus-elus pucuk kepala Selena yang sedang menyeruput teh hangatnya. Rasa bersalah mengelayuti Dimas melihat pias pucat Selena.
Kemarin sore, seperti biasa Dimas menjemput Selena di kantornya. Namun hari itu, Dimas mengajak Selena untuk ikut mengunjungi salah satu lokasi proyeknya. Saat sedang meninjau, hujan deras menguyur.
Sialnya, Dimas memarkir kendaraannya agak jauh dari lokasi proyek. Alhasil mereka berdua harus berlarian menerjang hujan, karena kebetulan lokasi proyek masih berupa tiang- tiang penyangga.
Lamunan Dimas terbuyarkan saat Selena kembali berlari ke arah wastafel. Dimas pun kembali membantu Selena.
Tok..tok..tok..
Terdengar pintu kamar Selena diketuk.
Bik Ninik pun masuk dan menaruh semangkuk bubur ayam di atas meja kecil. Saat hendak berjalan keluar , telinganya mendengar suara Selena dan seketika melompat girang.
Alhamdullilah, berarti hubungan Bapak sama Ibu baik-baik saja. Sebentar lagi, rumah ini gak akan sepi lagi. Jadi gak sabar nunggu 9 bulan.
****
“Kamu harus paksain makan walau gak nafsu sekalipun.” Dimas membujuk Selena seraya menyodorkan sesendok bubur.
Selena yang awalnya menolak akhirnya mengangguk pelan, dan membuka mulutnya. Dia membiarkan Dimas menyuapinya karena saat ini badannya terasa lemas bahkan hanya untuk sekedar mengangkat tangannya.
Baru beberapa suapan, Selena mendengar ponselnya berdering. Dimas mengambil gawai putih itu dari atas nakas dan mendapati nama Merry terpampang di layar.
“Telepon dari Mama. Aku angkat ya.”
Selena mengangguk.
“Halo, Mah ini Dimas. Selenanya lagi sakit jadi Dimas yang jawab. Ada apa, Ma?.....Selena mual-mual tapi ini lagi Dimas suapin kok....Ooo,Oke.....Siap,Mah.”
“Mama kenapa?” tanya Selena begitu sambungan berakhir.
“Gak kenapa-napa. Cuma nanya kabar sama suruh kamu jaga kesehatan. Tapi tadi suara Mama girang banget. Mama habis menang arisan ya?” Dimas balik bertanya sambil terus menyuapi Selena.
Selena mengangkat bahunya. "Gak tahu.”
****
Di seberang sana, Merry berteriak kegirangan sampai membuat Raymond terlonjak kaget.
“Mama mau punya cucu, Ray!!” ucapnya senang saat Raymond memprotes tindakannya.
"Yang bener,Mah?" Mata Raymond berbinar senang membayangkan dirinya akan memiliki seorang ponakan kecil yang lucu.
Merry mengangguk seraya tertawa lebar.
“Harus kabarin Vivi, nih!” Tangan Merry dengan cepat mulai menekan nomer besannya tersebut.
****
Kehebohan serupa juga melanda kantor Dimas dan kantor Selena. Berawal dari perkataan Dimas yang menelpon Direktur kantor Selena --- Handoko.
“Bro, istri gue sakit. Muntah-muntah terus. Jadi dia gak bisa masuk hari ini. Tolong maklumin ya!”
Handoko mengiyakan. Ia lalu menghubungi bagian HRD. “Selena dari bagian General Manager hari ini ijin. Dia sakit dan muntah-muntah. Tolong kamu urus absensinya, ya.”
Bagian HRD yang bernama Julia ,yang juga teman baik Selena – begitu mendengar perintah Handoko, langsung menduga kalau Selena mengalami morningsickness. Dia pun segera membagikan kabar bahagia tersebut ke karyawan kantor lainnya.
Di kantor Dimas, gosip itu menyebar lantaran Prita yang merupakan sekertaris Selena dan juga kekasih Dirga ------ mengabari pria berkacamata itu.
Dirga yang merasa senang, tanpa sengaja menceritakan hal itu kepada Jhoni. Yang langsung disebarkan kembali melalui pesan grup kantor.
Alhasil di hari itu, kedua kantor yang berbeda tempat tersebut antusias menyambut kehadiran calon penerus keluarga Soetedjo. Bahkan diantara mereka ada yang sudah menebak-nebak, seperti apa rupa wajah bayi perpaduan dari Selena dan Dimas.