The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kencan Buta



"Vin , lo baik-baik aja? Kok dari tadi diem aja sih?” tanya Selena.


Mereka berdua kini dalam perjalanan menuju apartemen Selena setelah menghabiskan sore di mall.


Alvino yang sedang menyetir hanya tersenyum. Dia melirik sekilas Selena yang sejak tadi menatapnya cemas. Tak ingin membuat Selena kepikiran , dia tertawa sambil mengacak-acak rambut Selena.


“Gue kan lagi nyetir. Masa suruh joget?”


“Ah, kebiasaan deh. Berantakan kan rambut gue” omel Selena sambil membetulkan rambutnya , “maksud gue , dari abis selesai makan lo udah diem aja.”


“Oh...gue cuman kepikiran soal rumah sakit.”


“Ada apa sama rumah sakit? Eh, jangan-jangan lo mau gantiin om Surya ya?” goda Selena.


Om Surya adalah adik ayahnya Alvino sekaligus kepala rumah sakit tempat Alvino nanti bekerja.


Belum sempat Alvino menjawab , tiba-tiba ponsel Selena berdering. Alvino dibuat heran melihat Selena yang tampak sedang menghitung sesuatu usai melihat ponselnya.


“Lo itung apaan Sel? Utang?”


“Ish." Selena memukul pelan lengan Alvino.


"Bukan , gue lagi ngitung jarak perjalanan dari tempat gue ke hotel The Grand.”


Alvino yang sudah tahu untuk apa Selena kesana langsung terdiam tanpa mengucapkan sepatah kalimat apapun sampai mereka tiba di tujuan. Sepanjang perjalanan pun , hanya alunan musik yang mengiringi. Selena sendiri juga tampaknya tak menyadari akan perubahan di raut muka Alvino.


“Oke. Makasih ya Vin” ujar Selena saat sudah sampai di depan lobi , “hati-hati pulangnya. Jangan bengong."


“Sel....” suara panggilan Alvino membuat gadis cantik itu berbalik.


“Ya? Kenapa?”


“Hmm..lo nanti pergi naik taxi ajah ya. Biar gue jemput pulangnya.”


Walau bingung , tapi Selena tetap mengiyakan. Mobil Alvino baru meluncur pergi setelah Selena masuk ke lobi.


“Oh , maaf .. maaf,” ujar Selena sambil menundukkan kepala dan bergegas masuk ke dalam lift.


Namun dia sempat melihat sekilas orang ditabraknya , seorang pria tinggi berkaos merah yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu. Namun sayang pintu lift telah tertutup.


“Aduh , keburu gak ya? Dasar manusia menyebalkan! Kenapa baru balas sekarang sih!!” gerutu Selena sambil melirik jam tangannya.


Sekarang jam 17.30 dan jadwal pertemuan mereka jam 19.00. Sementara jarak yang harus Selena tempuh sekitar 45 menit. Itu pun kalau lancar. Masalahnya malam ini adalah malam minggu , jalanan pasti akan macet.


Sampai di unitnya , Selena semakin dibuat kalut , karena ternyata dia belum mempersiapkan baju apapun. Karena itulah kini dia bergerak lincah kesana kemari seperti tupai. Kamarnya pun berantakan seperti kapal pecah.


Setelah melalui pemikiran yang singkat , pilihannya jatuh pada sebuah dress satin A-line berwarna merah maroon.


Selesai dengan urusan pemilihan baju kini Selena sibuk menata rambutnya yang akan dia buat menjadi long curly. Dan untuk makeup , Selena memilih untuk memakai riasan tipis. Tepat setelah dia selesai memoles bibirnya dengan lisptick berwarna berry , ponselnya berdering. Sebuah notifikasi dari taxi online muncul. Begitu memastikan tampilannya sempurna di depan kaca , Selena pun bergegas keluar menuju taxi onlinenya.


Sepanjang perjalanan , jantung Selena berdebar kencang. Rasa gugup menjalar di seluruh tubuh. Berulang kali dia menarik dan membuang napas untuk meredakan kegugupannya. Tapi debaran itu makin kencang kala dia sampai di hotel The Grand.


Di hotel mewah yang cukup terkenal di Jakarta ini , ada sebuah restoran bintang 5 yang berada di lantai atas. Dengan dibantu staff hotel , Selena diarahkan menuju ke restoran tersebut.


Saat tiba di restoran , seorang pelayan menghamprinya. Begitu Selena menyebut namanya , ekspresi pelayan tersebut langsung berubah. Sangat sopan dan ramah. Begitu pun saat Selena berjalan masuk menuju meja , para staff disana seperti bersikap hormat seakan-akan Selena adalah atasan mereka.


“Nah disini mejanya ,Bu.” Pelayan tersebut menunjuk dengan sopan sebuah meja di dekat jendela. Jantung Selena kembali berdetak kencang saat pertama kali melihatnya.


Di meja itu ada seorang pria tinggi berkulit putih , memakai jas berwarna hitam. Hidungnya mancung dengan garis rahang yang tegas. Mata hitam jernihnya bertatapan dengan Selena sejenak. Sebelum akhirnya dia berdiri.


“Silakan duduk,” ujar pria tersebut.


Layaknya pria gentlemen , pria itu bahkan membukakan kursi untuknya. Dia bahkan menanyakan makanan yang mau Selena pesan , dengan ramah. Tak ayal , sikap pria yang bernama Dimas ini mampu membuat Selena menjadi lebih rileks. Namun ekspresi Dimas berubah ketika pelayan pergi meninggalkan mereka berdua.


“Jadi , namamu Selena? Ijinkan saya memperkenalkan diri lagi. Saya Dimas. Senang bertemu dengan anda......Selena.”


Penekanan kalimat yang diucapkan Dimas membuat Selena tersentak , walau Dimas mengucapkannya sambil tersenyum tapi ada nada dingin di suaranya. Selena yang merasa kesal , langsung mengangkat dagu tinggi-tinggi dan memandang lurus ke arah Dimas.


“Senang juga bertemu dengan anda , Pak Dimas.”