The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Sebuah Nasihat



Nayra duduk termenung sendirian di tengah temaram lampu. Matanya beberapa kali menoleh ke arah pintu dan jam dinding secara bergantian.


Senyumnya mengembang ketika ponselnya bergetar. Namun raut wajah cerianya kembali muram begitu mendapati nama Jay yang tertera di layarnya.


Terdengar nada putus asa Jay di seberang sana , membuat Nayra akhirnya bangkit berdiri. Dengan tersenyum getir , Nayra memandang sekeliling ruangan yang sunyi dan remang. Langkahnya terkulai lemas dan air matanya kembali jatuh saat berjalan pelan meninggalkan apartemen milik Dimas.


**********


Seperti yang telah diduga Selena , di pagi hari ponselnya langsung dipenuhi pesan text dari mama , Raymond , dan Gina.


Semalam -- begitu Selena memberitahu mereka , dia langsung mematikan ponselnya dan bergegas tidur.


Mamanya terdengar sangat antusias dan bahkan berencana untuk kembali ke Jakarta siang ini. Begitupun dengan Raymond yang juga sangat gembira mendengar berita tersebut. Sepertinya selama ini diam-diam Raymond dan Dimas saling menjalin komunikasi. Entahlah , itu hanya asumsi Selena saja.


Lain halnya dengan Gina yang tidak percaya dan menganggap kalau Selena sedang bercanda dengannya. Cukup lama Selena berbicara dengannya di telepon , berusaha meyakinkan Gina kalau dia serius dengan ucapannya.


Gina terdengar syok dan memaksa Selena untuk meluangkan jam makan siang bersamanya. Dia ingin memastikan sendiri berita tersebut dari mulut sahabatnya itu. Tentu saja Selena mengiyakan. Kebetulan juga sudah lama mereka tidak bertemu.


Sambil menenteng tas coklat besarnya , Selena berjalan keluar dari unitnya dan melihat Leon tengah berdiri di depan pintu lift yang masih menutup.


Leon tersenyum lebar dan menyapa Selena begitu melihatnya. Mereka mulai terlibat percakapan sambil berjalan bersama menuju basement. Sejak pertemuan mereka di Bali , komunikasi diantara mereka berdua memang lebih akrab dan cukup sering.


Sebelum mereka menuju mobil masing-masing , Leon sempat memberikan setangkup sandwich sayuran yang ia buat sendiri. Selena tersenyum berterimakasih sebelum bergegas menuju mobilnya.


*****


“Apa Pak?” pupil mata Dirga membesar tanda tak percaya. Namun raut wajahnya terlihat senang. Dia sedikit mendekat ke arah Dimas. “Tunangan?”


Tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang tengah dibacanya , Dimas berkata , “iya. Jadi coba kamu bantu Mami mengurus semuanya.”


Dirga mengangguk cepat , “baik Presdir.”


“Ah tunggu...,” tangan Dimas yang hendak menulis mendadak berhenti , menggantung di atas kertas. Dia menoleh ke arah seketarisnya. “Saya harus menyiapkan cincin kan?”


“Tentu saja. Apa mau saya pesankan? Presdir , mau model seperti apa?” Dirga mulai membuka tabletnya dan bersiap mencari.


Dirga kembali mengangguk. Dan setelah menerima dokumen yang diberikan Dimas , dia segera kembali ke mejanya dengan langkah riang. Namun begitu sampai di mejanya , dia tertegun -- mendadak ingat dengan Nayra.


Apa Presdir benar-benar sudah putus hubungan dengan nona Nayra ya? Ah sudahlah. Jangan ikut campur terlalu jauh Dirga , batinnya mengingatkan dirinya sendiri sebelum kembali fokus bekerja.


****


Gina melirik gelisah jam tangan biru yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Matanya terus menatap ke arah pintu sambil menyeruput segelas ice chocolate dengan tidak sabar.


Dia semakin gelisah ketika pelayan datang membawa nampan makanan sementara yang ia tunggu belum datang juga.


Dia baru saja hendak menelpon ketika melihat sosok yang ditunggu-tunggunya. Sambil mengangkat tangan dan mengoyang-goyangkannya , Gina setengah berteriak memanggilnya. Selena yang melihatnya kemudian bergegas menghampiri meja Gina.


Gina menunggu Selena meminum segelas ice moccachinonya dengan sabar. Sambil bertopang dagu , matanya terus menatap lekat Selena.


“Ehem..,” Selena berdehem, jengah ditatap intens oleh sahabatnya.


Sambil mengiris sepotong steak yang sudah dipesan Gina sebelumnya , Selena mulai bercerita bagaimana awalnya dia bisa menyetujui pertunangan tersebut. Gina mendengarkan cerita Selena nyaris tanpa berkedip. Dia bahkan sampai lupa pada makan siangnya.


“Jadi...gara-gara itu?” Gina manggut-manggut menarik kesimpulan.


Sedetik kemudian dia berkata dengan nada tegas , “Sel , gue sebagai sahabat lo pasti selalu dukung apapun pilihan hidup lo. Tapi gue minta lo berpikir sekali lagi sematang-matangnya. Pakai logika lo juga jangan Cuma kebawa suasana. Inget Sel , pertunangan itu jalan selangkah menuju pernikahan. Dan lo gak boleh main-main sama yang namanya pernikahan! Pernikahan itu kalau bisa ya sekali seumur hidup!"


Selena terdiam , berpikir sejenak , “Gin , tapi ada satu hal yang menganggu pikiran gue ......,”


Begitu Selena menyelesaikan ceritanya , mata Gina berbinar-binar senang bercampur haru. Bagaimana tidak , dari cerita Selena , dia dapat menyimpulkan kalau sahabatnya ini telah menaruh hati pada sosok Dimas. Gina memeluk gemas Selena yang justru malah asyik menghabiskan makan siangnya.


“Jadi kapan lo mau kenalin Dimas secara resmi ke gue?” tanyanya sambil mengerling nakal.


Selena melirik layar ponselnya , “nanti malam. Kebetulan dia ngajakin gue makan malam hari ini.”


Gina bertepuk tangan pelan , “bagus. Nanti kabarin gue ya.”