The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kencan?



Selena menatap bingung pria yang kini tengah duduk santai menyeruput kopi. Matanya memandang sekeliling cafe yang saat itu cukup ramai oleh pengunjung. Ketika tanpa sengaja mata Selena bertatapan dengan mata pria itu , tanpa sadar dia menundukkan kepala.


“Kamu kenapa?” tanya Dimas keheranan.


“Oh,gak Kak. Gak apa-apa," jawab Selena cepat sambil meminum jusnya.


“Kamu gak suka jalan sama Kakak?!” pertanyaan Dimas yang tajam hampir membuat Selena tersedak.


“Gak kok. Aku suka jalan sama Kakak. Tapi kenapa Kakak selalu ngajak mendadak?”.


“Loh,kita kan sudah janjian”.


Selena mengernyit bingung , “janjian? Kapan?”.


“Waktu di rumahmu. Di depan orang tua kita. Ckckck...” Dimas menjawab dengan sedikit kesal.


Loh, jadi permintaan Om Goenawan itu serius bakal dilakuin? Berarti setiap weekend nih harus seperti ini?


Cttak.


Sebuah sentilan kecil di jidat Selena , sukses membuatnya menjerit kecil.


“Aduh.. sakit! Kakak ngapain sih?”.


“Makanya jangan kelamaan mikir. Sekarang tentukan kita mau kemana”.


Kok gue yang harus mikir? Kan dia yang ngajak keluar.


“Sebentar ya, Kak. Aku pikirin dulu mau kemana,” tukas Selena cepat begitu melihat Dimas yang keliatan tidak sabar.


Selena berpikir keras. Jika dia bersama dengan Alvino tentu dia akan memilih nonton bioskop atau bermain game center. Tapi dia ragu-ragu, takut Dimas akan menolaknya.


Namun akhirnya setelah mengumpulkan sedikit keberanian, dia mengusulkan untuk menonton bioskop yang langsung dijawab dengan Dimas tanpa ragu.


“Oke.”


Mereka berdua pun berjalan bersama menuju bioskop yang berada di lantai atas. Selena sempat dibuat risih saat melihat tatapan kekaguman dari pengunjung yang berpapasan dengan mereka. Barulah Saat melihat pantulan mereka di dalam lift , Selena menyadarinya.


Oalah ,pantas mereka melihat ke arah sini. Merhatiin Kak Dimas rupanya.


Begitu sampai di tempat tiket bioskop , Dimas tampak kaget saat mengetahui film yang dipilih Selena. Sebuah film bergenre horror yang menurut review pernah membuat seisi studio lari ketakutan.


Selena tersenyum geli melihat raut pucat Dimas ketika mereka berdua berjalan memasuki ruangan teater. Padahal Selena sudah berkali-kali menyarankan agar mereka mencari film yang lebih ringan. Tapi seperti biasa Dimas selalu bergaya cool dan tetap bersikeras menontonnya.


Seperti yang sudah diprediksi Selena , Dimas benar-benar menujukkan ekspresi ketakutan di dalam sana. Tangannya sampai mengenggam erat pada pegangan kursi.


Apalagi jika dirasa adegannya semakin menyeramkan , dia akan menunduk , berpura-pura hendak mengambil popcorn yang terjatuh. Tak ayal sikapnya membuat Selena tak fokus menonton karena menahan tawa.


“Filmnya bagus ya Kak,” Selena melirik jahil ke arah Dimas begitu mereka keluar dari bioskop.


Jadi ini sisi lain dari seorang Dimas Soetedjo? Lucu juga.


Selena terkikik geli melihat raut kekesalan di wajah Dimas. Tapi kemudian dia berdeham membuang muka saat Dimas menatapnya curiga.


“Kamu lagi mikir kotor ya? Senyum-senyum sendiri”.


Selena langsung memukul Dimas , “sembarangan nih, kalau bicara”.


“Terus sekarang kamu mau kemana lagi? Eh, sebentar....” Dimas mengambil ponsel yang berdering dari saku celananya dan mulai membacanya.


“Kenapa Kak?” tanya Selena melihat ekspresi Dimas yang berubah setelah melihat ponselnya.


“Sel , maaf ya. Tapi kamu bisa pulang naik taxi gak? Kakak ada urusan mendadak. Maaf banget ya. Lain kali kita pergi lagi. Take care,” Dimas menepuk bahu Selena sebelum bergegas pergi meninggalkan Selena yang masih terbengong.


Seperkian detik Selena baru menyadarinya.


Gila , ini jadinya gue ditinggalin begitu aja? Padahal dia yang bangunin dan bawa paksa gue kesini!! Oh oke..oke.. gue ikutin cara mainnya!!


Selena yang kesal pun memutuskan untuk memutari area mall dan bersenang-senang sendirian.


Gak ada untungnya marah-marah sama manusia kasat mata.


Selena langsung memasuki area game center dan memilih game pukul tikus sebagai tujuan pertamanya. Dia memukul-mukul palu dengan keras ke setiap kepala tikus yang muncul , tentu saja sambil membayangkan kalau tikus itu adalah Dimas. Cara ini sukses membuat Selena mendapatkan poin tertinggi.


Puas bermain di game center , Selena menuju toko buku. Saat sedang melihat-lihat novel , seseorang menepuk bahunya , “Sel..”.


Selena menoleh dan melihat Alvino di belakangnya , “Vin!”.


Alvino tersenyum , “lo kesini sama siapa Sel?”.


“Sendiri. Kalau lo?”.


“Sama. Huuu....Tahu gitu tadi kita pergi bareng. Eh, udah makan belom?”.


“Belum dua kali...”.


“Hahaha...Yaudah ikut gue yuk. Kebetulan ada tempat yang mau gue cobain” ajak Alvino yang disambut anggukkan Selena.


Selena dibuat bingung saat Alvino menggandengnya menuju parkiran mall. Rasa bingungnya pun semakin besar tak kala mobil Alvino melaju di jalan tol.


“Vin , kita mau makan dimana? Jauh bener. Bandung??” tanya Selena asal.


Alvino mengangguk. “Binggo. Kita pergi ke Bandung , oke? Kita kulineran disana”.


“Hahaha...gila. Tapi, yaudah lah. Kebetulan gue juga lagi butuh suasana baru. Banyak banget kejadian mendadak di hidup gue,” timpal Selena sambil menatap kosong ke luar kaca mobil.


Tanpa perlu dijelaskan, Alvino sudah tahu kejadian yang dimaksud Selena. Karena itu dia hanya bisa mengacak-acak rambut Selena yang malah membuat Selena kesal dan langsung mencubitnya.