
Hujan membasahi kota Jakarta seharian ini. Udara lembab bercampur angin dingin tak melunturkan semangat warga ibu kota untuk mengais rezeki meski bulan sudah menampakkan diri.
Pak Ujang contohnya, pria paruh baya berumur 50-an itu masih setia berdiri menanti pelanggan yang mungkin akan membutuhkan jasa supirnya. Menggenakan celana panjang hitam yang sudah pudar dan kemeja yang sedikit lusuh, mata Pak Ujang terus memperhatikan lalu lalang keramaian orang-orang di sekitar pintu keluar-masuk bandara.
Lelah berdiri, Pak Ujang akhirnya memutuskan untuk duduk di bawah pohon ceremai kecil. Sudah jam 7, tapi dia masih belum dapat penumpang satu orang pun.
“Apa Bapak pemilik mobil ini?”
Suara bariton seorang pria menyandarkan Pak Ujang dari lamunannya. Pak Ujang mendongak dan melihat seorang pria tegap sudah berdiri di samping mobilnya. Dia pun bergegas berdiri dan menghampirinya.
“Iya, betul..Mister. Mau saya antar kemana?”
Pak Ujang selalu memanggil penumpang bule dengan sebutan ‘Mister’ meskipun mereka fasih berbahasa Indonesia.
“Hotel Indonesia,” sahut pria itu singkat sambil membuka pintu kursi penumpang.
Meski sempat heran karena pria tersebut langsung masuk mobil tanpa menanyakan tarifnya, tapi Pak Ujang tetap menyalakan mesin mobil dan membawa pria tersebut ke tempat tujuannya.
************
Pak Ujang mengetuk-ketukkan jarinya di kemudi setir, menunggu antrian pintu tol. Walaupun jarak bandara ke Hotel Indonesia cukup dekat, tetapi kemacetan membuatnya terasa lama.
Diam-diam Pak Ujang melirik kaca spion. Dia melihat customernya duduk bersandar sambil menopang dagu dengan sikut menempel di pintu. Sementara pandangannya terarah ke luar.
Pak Ujang menatap lekat pria tersebut. Dia tadi sempat terhenyak melihat betapa tampannya wajah customernya kali ini. Apalagi manik indah abu-abunya yang membuat Pak Ujang berdecak kagum. Sampai membuatnya berpikir seandainya dia memiliki wajah seperti itu, apa hidupnya bisa berubah juga?
Pak Ujang tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala.
Aku iki mikir opo toh sekarang? Ada-ada saja. Wis tuo kok malah mengkhayal sing aneh-aneh.
“Apa ada yang lucu Pak?” tiba-tiba saja pria itu bertanya, membuat Pak Ujang terkesiap kaget.
“Eh..enggak Mister, hanya sedikit membayangkan saja.” Jawab Pak Ujang sambil terus tersenyum.
“Membayangkan apa?”
Pak Ujang melirik kaca spion. Begitupun dengan pria tersebut. “Emm..nganu.. bayangin kalau saya punya wajah seganteng Mister. Hehehe…” ungkapnya polos. “Mungkin saya sudah jadi artis terkenal.”
Tawa renyah terdengar dari kursi penumpang, “terima kasih untuk pujiannya. Baru Bapak yang bilang saya ganteng.”
Mata Pak Ujang membelalak, “ah.. moso toh Mister? Memangnya pacar Mister nggak pernah muji Mister?”
Pria itu menggeleng, “saya tidak punya pacar.”
“Kalau istri?”
“Saya belum menikah.”
Lagi-lagi Pak Ujang tercengang, “walah, seriusan Mister? Masih single?”
Pria itu mengangguk, “Kisah cinta saya kurang mulus.” Ada jeda sejenak, sebelum pria tersebut melanjutkan kalimatnya, “ada satu wanita yang saya cintai. Tapi mustahil untuk saya miliki.”
“Memangnya kenapa Mister?”
“Dia sudah menikah.”
Pak Ujang meringis canggung sambil menggaruk-garuk kepalanya, kebinggungan menanggapinya. Mau menasehati, takut dianggap memarahi. Mau menyarankan pantang menyerah, tapi wanitanya sudah bersuami.
Pak Ujang akhirnya memilih berdeham, “insya Allah nanti Mister suatu saat akan bertemu jodoh yang tepat. Karena setiap manusia dilahirkan berpasang-pasangan. Kalau memang wanita tersebut adalah jodoh Mister, pasti Tuhan akan memberikan jalan.”
Pria tersebut mengulum senyum. Sedikit terhibur meski dia tahu hal seperti itu tidak akan pernah terjadi. Bukannya dia bermaksud mendahului rencana Tuhan, tapi terkadang manusia memiliki insting kuat seperti itu bukan?
“Ngomong-ngomong, Mister mau berapa lama di Jakartanya?” pertanyaan Pak Ujang mengalihkan perhatiannya. Dia melirik spion dan kembali bertubrukan dengan manik hitam pekat Pak Ujang.
“Belum tahu Pak. Mungkin beberapa bulan.”
Pak Ujang melotot kaget. “Mister mau nginep di hotel terus? Mohon maaf nih Mister, apa tidak sayang uangnya? Saran saya, lebih baik Mister cari apartemen atau kontrakan rumah.” Pak Ujang melirik pandang ke spion.“Kalau Mister butuh bantuan, saya siap mengantar,” tambahnya seraya mengulas candaan penuh arti.
Pria itu hanya terdiam. Dia tak menimpali candaan Pak Ujang bahkan sampai mereka tiba di lokasi tujuan.
Pak Ujang jadi tidak enak. Dia merasa kalau kata-katanya pasti terdengar kurangajar di telinga pria tersebut.
Begitu mereka sampai di depan lobi, Pak Ujang membantu menurunkan kopernya sambil bermaksud untuk mengucapkan permintaan maaf.
“Kalau Bapak besok free, tolong jemput saya disini jam 9 pagi. Saya perlu seseorang untuk mengantar saya. Itu pun kalau Bapak bersedia.”
Pak Ujang masih melongo sambil menatap lembaran uang di tangannya. Dia baru tersadar setelah pria tersebut mengguncang bahunya.
“Eh..oh..siap Mister siap. Jam 9 saya sampai disini. Tapi Mister…ini kebanyakan,” Pak Ujang mengembalikan beberapa lembar yang langsung ditolak pria tersebut.
“Ambil saja. Anggap ini salam perkenalan dari saya.”
Pak Ujang menelan salivanya.
Orang bule kalau kenalan nganggo duit toh? Angel wes angel.
“Eh tapi Mister, saya belum tahu nama Mister siapa.” Pak Ujang tersentak menyadari dirinya belum mengetahui identitas customernya.
Pria itu tersenyum, “nama saya Leon,” jawabnya singkat sambil menyeret kopernya.
“Mister Leon,” Pak Ujang bergumam pelan sambil menatap punggung Leon, “terimakasih banyak, Mister.”
.
.
“Tunggu..tunggu..” pekikan seseorang yang tengah berlari, membuat tangan Leon refleks menahan pintu lift.
Seketika itu juga seorang gadis muda muncul sambil menenteng paper bag di kedua tangannya, “makasih,” ucapnya dengan napas terengah-engah.
Leon hanya menganggukkan kepalanya dan fokus menekuri ponselnya. Meski perhatiannya terpusat sepenuhnya pada benda pipih di tangannya, tapi Leon bisa merasakan kalau seseorang sedang menatapnya diam-diam.
Alis Leon berkerut. Jika Biasanya dia akan merasa jengah ditatap seperti itu, tapi kenapa saat ini dia merasa biasa saja?
Penasaran, dia akhirnya menolehkan kepalanya dan langsung bertubrukan dengan sepasang manik hitam yang jernih. Si pemilik manik hitam tersebut seketika salah tingkah dan bergegas menundukkan pandangannya. Semburat merah tampak jelas di pipi chubbynya.
Leon tersenyum geli. Tanpa sengaja matanya menelisik penampilan si pemilik manik hitam tersebut dari ujung kepala hingga ke kaki.
Gadis bertubuh mungil, berkulit kuning langsat dan berambut pendek sebahu. Menggenakan hodie abu-abu kebesaran dan celana jeans pipa dengan sneaker putih bermerek ‘G’. Leon menebak kalau gadis di sampingnya ini mungkin seorang mahasiswi atau pelajar.
Jelas, bukan tipe wanita kesukaan Leon. Tipe wanita Leon adalah seorang wanita cantik berkulit putih dengan tubuh tinggi semampai, berpenampilan feminim dan elegan.
Classy. Seperti Selena.
Leon menghembuskan napas gusar. Bahkan sampai detik ini pun, sosok Selena masih bertahan di hatinya. Tak tergantikan meski dia sudah beberapa kali mencoba menemui wanita lain.
Tring..
Leon tersadar dari lamunannya saat gadis tersebut melewatinya dan melesat keluar. Refleks, kaki Leon bergerak seolah ingin mengejar gadis tersebut. Tapi tiba-tiba, gadis itu berbalik.
Seketika itu juga, tubuh Leon menegang. Ada gelanyar aneh saat gadis itu tersenyum padanya. Sampai pintu lift tertutup, Leon masih berdiri terpaku. Dia terdiam sambil merasakan irama jantungnya yang mendadak bergemuruh kencang.
Ini debaran yang sama seperti saat pertama kali dia bertemu Selena.
Aneh, padahal selama ini Leon berpikir, tidak akan ada wanita lain yang bisa menggetarkan hatinya selain Selena.
Tanpa sadar seutas senyum kecil terukir di bibirnya. Kali ini ia bertekad untuk bergerak cepat. Dia tak boleh lagi kehilangan gadisnya untuk kedua kalinya.
❤❤❤ TAMAT ❤❤❤
Akhirnya.. selesai juga karya pertama saya ini. Terimakasih buat kakak-kakak yang bersedia mampir di karya berantakan ini. Mohon maaf kalau masih banyak typo bertebaran atau alur yang berantakan. Maklum masih pemula ..hihihi...
Ke depannya, saya akan sering-sering mampir ke karya othor-othor lainnya. Jangan bosen kalau nemu komenan saya ya.. Hehehe..
Karena saya suka happy ending, makanya karya ini pun berakhir dengan ending bahagia untuk semua tokohnya.
Selena dan Dimas bersama jagoan kecil mereka, Sky.
Gina dan Martin dengan dua anak mereka.
Alvino dan Nayra, si pengantin baru.
Dan juga Leon, yang saya sisipkan secuil pertemuan dengan cinta sejatinya kelak.