
Selena yakin, Dimas pasti bisa mendengar degup jantungnya yang berdetak kencang. Atau melihat rona merah di pipinya. Atau mungkin menyadari kegugupan dirinya.
Efek pengakuan Dimas berhasil membuatnya salah tingkah. Terlebih pria itu mengatakannya sambil meremas tangannya dan menatapnya lekat. Selena bisa merasakan keseriusan dan ketulusan di balik iris hitamnya yang jernih.
“Oke, akan aku pertimbangkan.” Selena tak tahan lagi mendengar kalimat Dimas yang mungkin bisa membuat jantungnya melompat keluar.
Dimas membelalak. “Pertimbangkan? Nggak mau! Aku maunya kamu setuju kita mulai dari awal! Aku ingin memulai rumah tangga yang sebenarnya sama kamu. Kalau kamu bilang pertimbangkan, berarti ada kemungkinan kamu bakalan tinggalin aku dong!”
Selena menggeleng. “Maaf, Dim. Kata-katamu memang sedikit menggodaku. Tapi itu semua nggak ada artinya kalau hanya terucap dari mulutmu aja. Aku butuh bukti kalau kamu memang beneran cinta sama aku. Terlebih, Nayra masih nggak mau lepasin kamu. Dan barusan kamu sendiri yang bilang, kalau kamu nyaman sama dia. Bisa aja kan, kalau tiba-tiba rasa nyaman itu berubah jadi cinta? Aku nggak mau sakit hati 2x, Dim.” ucap Selena tegas.
Dimas terdiam beberapa saat sebelum mengangguk pasrah. Tapi sejurus kemudian, dia seolah teringat sesuatu. “Sebentar! Barusan kamu bilang nggak mau sakit hati 2x. Apa selama ini kamu udah suka sama aku?”
Selena menghela napas. Apa semua laki-laki memang tidak peka seperti ini ya? Atau hanya Dimas?
“Memangnya selama ini kamu nggak ngerasa?” Selena balik bertanya dengan gemas. Dia mengalihkan pandangannya, sibuk menghitung dedaunan yang tertata di pojok ruangan. Dia malu harus menjawab pertanyaan blak-blakan seperti itu.
Grep.
Sepasang tangan tiba-tiba memeluknya. Selena terkejut tapi tak menolaknya. Entah kenapa pelukan itu terasa hangat dan nyaman. Dimas membenamkan kepalanya di bahu Selena hingga wanita itu bisa merasakan hawa panas dari napas Dimas. Jantung Selena makin berdetak tak terkontrol. Dia bisa merasakan pipinya merah membara.
“Makasih. Aku janji bakal buktiin keseriusanku.” Ucap Dimas lirih. “Sugar…” Dimas mengecup pucuk kepala Selena sebelum melepaskan pelukannya.
****
Terhitung 5 hari sudah Selena dan Dimas menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka dan perubahan mulai terjadi di dalam hubungan mereka.
Tentu saja yang paling banyak berubah adalah Dimas. Pria itu benar-benar menepati janjinya. Bersikap selayaknya seorang suami bahkan bisa dibilang terlampau berlebihan.
Contohnya, setiap hari Dimas selalu mengirimkan sebuket bunga ke kantornya. Kalau hanya sebuket bunga kecil masih bisa Selena maklumi. Tapi Dimas mengirimkan buket bunga seukuran hampir meja kantornya!
Selena mengomel tanpa henti saat pertama kali menerimanya. Tapi kemudian ia hanya bisa pasrah setelah Dimas mengadukan hal itu pada Mamanya.
Ada juga kelakuan Dimas yang rajin mengorderkan makanan untuk Selena dan anggota teamnya. Tidak hanya makan siang saja tapi juga cemilan hingga dessert. Alhasil, Selena sampai mengeluh bobot tubuhnya bertambah hanya dalam hitungan hari.
****
“Kamu ngapain?” Selena melongo melihat Dimas sibuk melakukan sesuatu di dapur pagi ini. “Nggak ke kantor?”
“Bapak lagi bikin bekel, Bu.” bisik Bik Ninik.
Alis Selena terangkat. “Bekal? Buat siapa, Bik?”
“Buat kamu dong, Sugar! Memangnya siapa lagi yang ada di rumah ini?” sahut Dimas dari balik bahunya. “Siang ini aku ada peninjauan hotel jadi kita nggak bisa lunch bareng. Tunggu ya, bekal dari suami tercinta sebentar lagi siap!”
“Ha?” Selena langsung menghampiri Dimas. Feelingnya sudah terasa janggal dan benar saja sedetik kemudian Selena memekik kaget. “Ini aku bawa ke kantor?!”
Dimas berdecak pura-pura kesal. “Yang namanya bekal, udah pasti buat di kantor kan?” Dimas mencubit pelan ujung hidung Selena.
“Jangan lihat dari tampilannya, Sugar. Pokoknya dijamin kamu pasti nagih!” Lanjut Dimas sambil mengacungkan jempolnya dan tersenyum bangga.
Mulut Selena terbuka lebar menatap box tupperware kuning yang sudah berisikan nasi berbentuk bulat dengan sayur-sayuran yang disusun hingga membentuk tampilan wajah seorang wanita. Plus ayam suwir yang Dimas presentasikan sebagai rambut.
“Dim, aku mau kerja bukan karyawisata. Lagian, kamu kan bisa orderin aku makanan seperti biasanya.” Selena membujuk Dimas agar tak menyuruhnya membawa makanan yang tampilannya mirip seperti kotak makanan anak tetangganya.
Dimas langsung beranjak ke lantai 2 meninggalkan Selena yang masih terbengong di depan pantry. Matanya menatap nanar kotak kuning yang terpampang di hadapannya.
“Bawa aja, Bu. Bapak masaknya dari subuh loh,” sahut Bik Ninik yang tiba-tiba muncul dari belakang dapur.
Selena menghela napas pasrah sambil menutup box tupperware kuning itu lalu memasukkan ke dalam tas yang sudah disiapkan Dimas.
Rupanya Dimas tak hanya menyiapkan nasi, tapi juga buah-buahan iris dan sekotak susu cokelat.
Selena tersenyum kecil. Kekesalan seakan menguap begitu saja. Wanita itu kini malah menenteng tas makanan itu dengan bangga. Karena di dalam tas itu, ada bukti keseriusan Dimas untuknya.
****
Siang harinya, Selena dikejutkan dengan kedatangan Gina di kantornya yang langsung menodongnya untuk menceritakan tentang hasil hypnotherapynya. Selena tak bisa menolaknya karena ia memang sudah berjanji akan menceritakannya. Terlebih Gina datang di jam makan siang hingga Selena tak punya alasan untuk mengusirnya.
“Gue kira cerita macam gini, cuma ada di dunia FTV. Ternyata ada juga di dunia nyata,” Gina menggeleng-gelengkan kepala sambil berdecak heran usai mendengarkan cerita Selena.
Dia menyandarkan punggungnya, mengedarkan pandangannya dan kemudian berdiri menghampiri suatu objek yang sejak tadi menarik perhatiannya.
“Ini apa, Sel?” Selena mengikuti arah pandang Gina dan langsung terkejut melihat tangan Gina terulur membuka tas makanannya.
“Jangan, Gin. Itu….,”
“HAHAHAHA !!!!!” Tawa Gina pecah. Dia terpingkal-pingkal sambil mengangkat tuppeware kuning dan mengarahkannya ke Selena. “Ini apaan, woy?! Hahahaha..!!!”
“Berisik!” Selena langsung menyambar benda kuning itu, menutupnya kembali lalu memasukkannya ke dalam tas makanan berwarna biru.
Selena mengomeli Gina yang seenaknya menggeledah ruangannya. “Ceritanya udah selesai. Sekarang balik gih, ke alam lo!” usir Selena kesal.
“Maaf deh maaf,” Gina mengusap ujung matanya yang berair saking kencangnya ia tertawa. “Habisnya gue kaget aja lihat bentuknya. Apa ya, mirip..mirip..,” Gina memiringkan kepalanya, matanya terarah ke atas sementara dagunya terangkat sedikit, mencoba mengingat sesuatu.
“Mirip uka-uka?” timpal Selena sengit. “Lo mau bilang berantakan kan? Asal lo tahu ya, itu bikinan dari Dimas! Spesial buat gue!” Selena memamerkan kotak makanannya bangga.
“Dimas??” Mata Gina membelalak. “Hubungan kalian berdua udah baikan ya? Bagus lah Sel, gue seneng dengarnya. Gitu dong, akur. Jadi bisa cepet bikinin gue ponakan. Buruan bikin satu yang lucu.”
“Heh! Emangnya bikin anak sama kayak bikin kue?!” Protes Selena.
“Ya, sama kan. Ada adonan terus….,”
Plak. Sebuah pukulan di lengan Gina menghentikan ucapannya.
“Sana pulang!” Selena mulai kesal. “Ganggu aja deh.”
Gina mencebikkan bibirnya. “Iya..iya. Gue pulang deh. See you tonight, beb.” Gina memeluk Selena sejenak sebelum melangkah keluar dari ruangan Selena.
“Oke. Hati-hati,” Selena melirik sekilas dan kembali fokus pada layar komputernya.
Dia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sore ini, karena malam ini ia harus menemani Dimas menghadiri sebuah acara perkumpulan yang diadakan di salah satu hotel milik suaminya itu.
“Harus selesai sebelum jam 5!” Tekad Selena sambil menyuap sesendok besar nasi bekalnya.