
Nayra gelisah, mengigiti kuku jari tangannya sambil berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Berkali-kali dia mencoba menelpon Leon, tapi panggilannya selalu dialihkan.
Sudah dari pagi dia terkurung di apartemennya. Kak Jay melarangnya keluar walau hanya sekedar turun ke lobi. Jay juga melarangnya menonton TV dan mengambil ponselnya.
Dia takut kalau penyakit Nayra akan kambuh lagi. Padahal tanpa sepengetahuannya, sebenarnya Nayra memiliki 1 ponsel lain.
Setelah memastikan Jay pergi, Nayra kembali memainkan ponselnya. Dadanya sesak dan matanya berkabut saat melihat hujatan dan makian netizen untuknya.
Tapi sekarang bukan waktunya bersedih. Dia harus mencari tahu kabar Dimas. Soalnya tak hanya dirinya saja yang dihujat tapi Dimas juga ikut dicaci.
Manik hitam Nayra membulat, mencerna tiap baris kalimat yang tertulis di ponselnya. Sedetik kemudian, dia kembali mencoba menelpon Leon. Tapi lagi-lagi jawabannya selalu sama.
“Kamu sedang apa, Nay?” Saking fokusnya menelpon, Nayra tak menyadari kehadiran Jay di kamarnya. “Ponsel siapa itu?” Jay menatap tajam ponsel merah di tangan Nayra.
“Ponselku.” Nayra mencoba bersikap santai walau hatinya ketakutan. Saat ini sorot mata Jay seperti akan menelannya hidup-hidup.
Belum juga Kak Jay membuka mulutnya, Nayra sudah terlebih dulu berucap. “Ini semua ulah Leon, Kak."
Sudah tak ada lagi embel-embel kata ‘Pak’ yang biasanya ia sematkan untuk Leon. Bagi Nayra saat ini, Leon tak lebih dari sekedar pria terkutuk.
“Leon? Pak Leon dari perusahaan SPYROGAMES?" tanya Jay.
Hanya ada satu orang bernama Leon yang dikenalnya. Dan orang itu adalah CEO perusahaan gaming terbesar di Asia.
"Jangan bercanda, Nay!" timpal Jay.
Nayra berdecak kesal sambil menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan kanannya. “Sudah aku duga, Kakak pasti nggak bakalan percaya. Dengar ceritaku dulu.”
Setelah mereka berdua duduk besebelahan di sofa tengah, Nayra mulai menceritakan semuanya. Awal perkenalannya dengan Leon terjadi saat Nayra di dapuk menjadi Brand Ambassador perusahannya.
Jarak umur mereka yang tak terlalu jauh ditambah sikap ramah Leon, membuat hubungan mereka tampak seperti seorang teman.
“Kakak ingat, malam dimana aku menyelinap pergi ke hotel?”
Jay mengangguk. Bagaimana bisa dia lupa, hari itu dia kelimpungan mencari keberadaan Nayra. Wanita itu tak ada di apartemennya semalaman. Ponselnya juga tak bisa dihubungi. Lalu tiba-tiba besok paginya, Nayra muncul dengan mata yang sembab.
“Malam itu, Dimas memutuskanku, Kak. Aku kira dia hanya bercanda, tapi dia beneran ninggalin aku…” Nayra mulai terisak membayangkan kembali kejadian malam itu.
“Nay, maafkan aku. Ternyata aku mencintai Selena dan aku ingin jadi suami yang baik untuknya. Jadi maaf, lebih baik kita akhiri hubungan kita sekarang.” Ucap Dimas kala itu.
“Udah, jangan diingat-ingat lagi.” Hibur Jay sambil mengusap-usap lembut punggung Nayra.
Nayra mengusap ujung matanya dan melanjutkan kembali ceritanya. Selepas kepergian Dimas, Nayra yang masih shock memutuskan menghibur dirinya di sebuah bar.
Disana dia bertemu Leon. Leon mengajaknya ke sebuah kamar hotel yang terletak di lantai bawah bar, karena takut ada orang-orang yang mengenali Nayra.
Mereka berdua mulai mengobrol sambil meminum wine. Nayra yang masih sedih tanpa sengaja menceritakan soal hubungannya dan Dimas. Tapi tanpa ia duga, rupanya Leon juga mengetahui soal hubungan itu.
Nayra mengedikkan bahunya. “Aku nggak tanya. Pokoknya saat itu aku lagi kacau. Dan tiba-tiba Leon nawarin sesuatu.” Nayra merendahkan suaranya. “Dia bilang bakal bantuin aku biar Dimas dan Selena berpisah.”
“Apa?! Pak Leon bilang seperti itu? Berarti jangan-jangan foto-foto itu…..” Jay menggantung kalimatnya, menatap tajam Nayra. “Kamu yang sengaja nyebarin? Kalian bersengkongkol?”
Nayra menggeleng cepat. “Sumpah, bukan aku, Kak. Aku malah sama sekali nggak tahu kalau foto-foto itu dia ambil!” Nayra berteriak frustasi. Dia bangkit sambil menggertakan giginya.
Foto-foto yang saat ini beredar luas di internet, sebagian diantaranya adalah koleksi pribadi Nayra di ponselnya. Karena itulah Jay selama ini mencurigai orang-orang di sekeliling Nayra sebagai penyebarnya.
“Aku mabuk dan nggak ingat apa-apa lagi. Begitu aku bangun, Leon udah nggak ada. Tapi dia kirim pesan seperti ini.” Nayra menunjukkan isi pesan Leon ke Jay.
Aku kirimkan supir untuk membawamu pulang. Maaf aku tak bisa menemanimu. Jangan bersedih lagi. Tenang saja, akan kubuat Dimas segera kembali ke sisimu.
Jay mengepalkan erat tangannya usai membaca text pesan itu. Dia tak menyangka kalau ternyata dalang dibalik semua ini adalah Leon. Tapi buat apa pria seperti Leon mau membantu Nayra? Mereka bukan saudara, bukan juga sahabat baik.
“Karena Leon menyukai Selena.” Ucap Nayra.
Entah sudah berapa kali hari ini Jay dibuat terkejut tiap kali Nayra membuka mulutnya.
“Aku pernah nemuin foto Selena di ponselnya.” Lanjut Nayra.
Sebenarnya ada satu lagi yang diketahuinya, tapi saat ini lebih baik dirinya saja yang tahu. Nayra bertekad akan mengungkapkannya ke hadapan publik, jika Leon masih saja mengganggu Dimas.
“Kak..” Nayra menepuk pundak Jay, menyadarkan pria itu dari keterkejutannya. “Tolong bantu aku selesaikan masalah ini. Aku nggak mau lihat Dimas terus-terusan dihujat. Aku yang salah. Padahal aku tahu kalau Dimas nggak pernah cinta sama aku, tapi aku tetap maksa buat pacaran sama dia.” Nayra menghembuskan napas panjang. “Aku nggak pernah lihat dia senyum sebahagia itu waktu sama aku.”
Jay meremas tangan Nayra, memberinya kekuatan. “Kamu butuh bantuan apa?”
Nayra terdiam sejenak, memandang lekat Jay. “Tolong buatkan konferensi pers. Aku mau mengakui semuanya.”
Jay membelalakan matanya. “Semuanya? Jangan gila, Nay. Kita nggak punya bukti. Nggak akan ada yang percaya hanya dengan 1 pesan text itu.”
Nayra menggeleng. “Aku nggak akan bawa-bawa Leon. Biar aku yang tanggung ini semua. Lagian, tujuan Leon adalah menghancurkan Dimas agar dia bisa ngerebut Selena. Kalau aku bisa bikin nama baik Dimas kembali, Selena nggak akan ninggalin Dimas, bukan?”
Jay terdiam. Ide Nayra memang cukup bagus. Tapi kalau Nayra mengakui semuanya, bisa-bisa….
“Kamu yakin, Nay? Kariermu bisa tamat sampai disini.”
Nayra menghela napas gusar. “Aku tahu. Tapi aku mau mempersulit rencana Leon. Aku nggak mau pria itu mendapatkan keinginannya. Anggap aja ini bentuk balas budiku buat Dimas. Kakak juga tahu kan, aku bisa seperti ini pun, semua karena bantuan Dimas. Entah gimana hidupku kalau nggak ketemu Dimas. Mungkin aku masih berkeliling sambil membawa kotak rokok.”
“Yasudah, kalau memang itu kemauanmu. Kakak akan dukung kamu.”Jay mengusap lembut rambut Nayra. “Tapi Kakak harus tetap bicarakan ini ke Bu Gina. Oke?”
Nayra mengangguk. “Makasih,Kak.” Ucapnya sambil memeluk Jay.
Jay membalasnya sambil mengusap-usap lembut punggung Nayra. “Jangan sedih, Kakak akan selalu ada di samping kamu. Mau gimana pun, kamu tetap adik kesayangan Kakak.”
Air mata Nayra lolos tanpa bisa ditahannya. Tuhan mungkin mengambil Dimas darinya, tapi setidaknya Tuhan masih meninggalkan seorang kakak untuknya.