
Dimas memegang stir kemudinya erat-erat sementara kakinya menginjak pedal untuk menambah kecepatan. Berkali-kali dia mengumpat kesal saat mobilnya tertahan di lampu merah. Tapi begitu lampu hijau menyala , dia langsung melaju kencang sambil berdoa agar semuanya baik-baik saja.
Setelah sampai di tempat tujuannya , dia setengah berlari menuju sebuah kamar. Dia bahkan tak menghiraukan tatapan heran para pengunjung. Begitu sampai disebuah kamar bertuliskan VIP 003 , Dimas segera masuk ke dalam. Barulah dia bernapas lega saat melihat Nayra tersenyum senang menyambutnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dimas sambil memeluk Nayra.
Nayra mengangguk.
“Menurut dokter kenapa?” pandangan Dimas kini beralih ke seorang pria berbadan tinggi yang memandang Dimas dengan takut.
“Itu..emm..kata dokter kecapekan” jawab Jay gugup.
Dimas melotot kesal , “Saya kan sudah bilang untuk tidak memberinya banyak pekerjaan!”
Jay hanya bisa menunduk takut. Jay yang sudah bekerja sebagai manager Nayra sejak awal kariernya , tahu betul bagaimana menyeramkannya Dimas jika sudah seperti ini.
“Sayang...” Nayra memegang lengan Dimas berusaha untuk meredakan amarahnya , “aku yang mau ambil semua job itu. Bukan salah kak Jay.”
Amarah Dimas seketika menguap saat melihat Nayra yang tampak pucat dengan selang infus di tangan kirinya. Dia kemudian menoleh ke arah Jay dan menyuruhnya unuk meninggalkan mereka berdua.
“Kamu mau aku belikan sesuatu? Atau ada yang masih sakit?” tanya Dimas khawatir.
Nayra menggeleng , “gak. Kamu temanin aku sebentar aja ya sampai aku tidur. Boleh?”
“Boleh lah. Kenapa harus tanya sih? Apa perlu sekalian aku tidur disini?”
“Jangan. Soalnya nanti ada orang agensi yang datang.”
Dimas mengangguk-angguk tanda mengerti. Selama ini memang hanya sebagian orang terdekat Dimas dan Nayra saja yang tahu mengenai hubungan mereka.
Nayra sengaja tidak ingin mempublikasinya sebab ingin menjadi model terkenal terlebih dahulu. Dia tidak mau dianggap menumpang nama Dimas. Dan Dimas pun mengikuti keinginan Nayra sampai sekarang.
“Lalu nanti siapa yang menjagamu? Marsya?”
Nayra mengangguk. Marsya adalah kakak kandung Nayra sekaligus karyawan di salah satu perusahaan Dimas.
“Ya sudah. Nanti beritahu Marsya , aku berikan dia libur sampai kamu sembuh. Sekarang lebih baik kamu tidur ya.”
Nayra kembali mengangguk dan mulai berbaring. Setelah memastikan Nayra tertidur pulas , Dimas pergi keluar untuk membeli beberapa buah-buahan. Dia juga membeli sebuket bunga mawar putih.
“Saya pulang dulu. Besok saya kesini lagi. Tolong kamu jaga Nayra dengan baik. Jangan sampai dia telat makan! Langsung hubungi saya jika ada sesuatu” perintah Dimas yang dijawab dengan anggukan sopan dari Jay.
Walau jarak mereka cukup jauh , tapi wanita itu mengenali sosok Dimas. Dia terkejut ketika melihat Dimas tapi kemudian dia memilih untuk tidak peduli dan berjalan masuk menuju sebuah kamar.
“Selamat sore, Bu Gina,” sapa Jay sopan saat melihat sosok Gina yang masuk ke kamar rawat.
“Selamat sore Pak Jay. Bagaimana keadaan Nayra? Apa dia baik-baik saja?” tanya Gina sambil menyerahkan sebuah bungkusan.
“Jangan bangunkan dia. Saya hanya sebentar saja disini,” lanjut Gina saat melihat Jay yang hendak membangunkannya.
“Oh baik Bu ...” Jay mendadak menjadi kikuk begitu mendengar ucapan Gina. “Jadi menurut dokter, Nayra hanya sedikit kecapekan dan butuh istirahat beberapa hari.”
“Oh begitu..” Gina manggut-manggut sambil memperhatikan Nayra yang sedang tertidur pulas.
Pandangannya kini tertarik pada sesuatu yang berada di atas meja.
“Apa kalian habis kedatangan pengunjung?’ tunjuk Gina.
Jay melihat arah yang ditunjuk Gina dan langsung pucat saat mengetahuinya. Sebuah buket bunga mawar putih segar pemberian dari Dimas.
”Ah...oh...itu..” Jay gelagapan berusaha mencoba menjelaskan tapi kemudian Gina mengangkat tangannya mengisyratkan Jay untuk berhenti berbicara.
“Sudah..sudah saya mengerti kok. Nayra cantik dan masih muda. Tentu aneh jika dia tidak memiliki kekasih bukan?” Gina melirik Jay yang terlihat serba salah dan bingung.
“Tenanglah Pak Jay , saya tidak seketat ayah saya kok. Selama Nayra tidak melakukan hal yang merugikan perusahaan , saya tidak masalah jika Nayra memiliki kekasih atau tidak. Hanya saja....”
Jay menelan ludah menunggu kalimat Gina selanjutnya , “hanya saja Bu?”.
“Hanya saja sebaiknya cukup kita saja yang tahu mengenai hal ini. Untuk sementara, beritahu Nayra untuk tidak bertemu dulu dengan kekasihnya. Nayra masih baru di industri ini , jangan sampai menimbulkan skandal. Sebagai manager , itu adalah tugasmu untuk melindungi Nayra” jelas Gina panjang lebar.
Jay mengangguk-anggukkan kepala , “baik Bu. Saya akan mengingatnya.”
“Baiklah , saya pergi dulu. Pastikan Nayra untuk beristirahat total ya, Pak Jay” ujar Gina sambil pergi meninggalkan kamar rawat meninggalkan Jay yang masih terlihat gugup.
Begitu sampai di mobilnya , rasa penasaran Gina kembali muncul. Dia mengambil ponselnya dan mulai menelpon.
“Halo.. Sel? Eh , gue mau nanya emang keluarganya Dimas ada yang sakit ya? Apa? Oh gak , Cuma tadi gue lihat Dimas ada di rumah sakit..... Ngomong-ngomong lo lagi dimana ni? Ha? Bandung? Sama siapa? Ikut!!! Tungguin , gue sama Martin ya.”
Begitu pembicaraan berakhir , Gina pun segera tancap gas sambil Tersenyum senang memikirkan akan berlibur bersama dengan sahabat dan pacarnya.