The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Selembar Kontrak



Sudah 2 hari berlalu sejak Dimas memberitahukannya soal Nayra -- wanita yang ternyata telah lama berpacaran dengan Dimas.


Dia belum menceritakan soal ini kepada siapa pun. Termasuk ke Gina atau bahkan Alvino.


Padahal Selena sudah menumpahkan air matanya di dalam mobil Alvino. Tapi sampai tangisannya berhenti , Alvino tetap tidak menanyakan alasannya menangis. Seakan-akan dia menunggu hingga Selena sendiri yang siap menceritakannya.


Tapi gara-gara peristiwa itu , Selena jadi sedikit malu untuk bertemu dengan Alvino. Apa lagi saat Selena ingat kalau dia hampir menghabiskan sekotak tissu milik Alvino.


“Hah....,” Selena menghembuskan napas pelan seraya menepuk-nepuk wajahnya.


Ini bukan waktunya memikirkan hal itu. Ada yang lebih penting untuk dipikirkannya saat ini.


Sekarang Selena sedang berada di dalam mobilnya yang terparkir di sebuah restoran. Di tempat ini , nantinya Dimas berencana memberitahukan tentang pembatalan pertunangannya di hadapan keluarganya dan keluarga Selena.


Selena mengigit ujung bibirnya. Dia masih belum siap. Lebih tepatnya belum siap untuk mendapati raut kecewa dari mama atau pun dari Goenawan dan Vivi. Sebab mereka bertiga lah yang paling bahagia dengan pertunangan ini.


Selena sendiri sudah tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Dimas. Walaupun Dimas masih selalu menanyakan kabarnya setiap hari.


“Hah!!” Selena mendengus kesal. Memikirkan Dimas membuatnya kesal dan sakit hati.


Ya sudah ,ayo kita hadapi saja. Toh , dari awal yang setuju pertunangan ini kan gue. Life must go on , right?


Selena menyemangati dirinya sendri sebelum akhirnya melangkah masuk menuju ke restoran.


Disana Dimas , Goenawan dan Vivi serta mamanya sudah datang terlebih dulu. Setelah Selena mencium pipi Vivi dan mamanya , Dimas berdiri -- bersiap untuk membukakan kursi di sampingnya. Tapi Selena melengos dan justru memilih kursi di samping mamanya.


Mama sempat menyikutnya pelan tapi Selena hanya tersenyum berpura-pura tidak tahu. Makan malam berjalan dengan penuh cerita dan tawa. Sampai tiba waktunya bagi Dimas untuk mengutarakan niatnya.


“Pi , Mi , Tante. Ada yang mau Dimas dan Selena bicarakan.”


Selena menatap Dimas tak percaya.


Hei , yang mau bicara itu Anda!


Goenawan , Vivi dan Merry (Mama Selena) memandang Dimas dengan raut wajah penasaran.


“Kami berdua memutuskan untuk.....,”


Ucapan Dimas terputus karena tiba-tiba ponsel Goenawan berdering.


Goenawan mengangkat tangannya , isyarat agar Dimas menghentikan sejenak pembicaraannya. Dimas hanya bisa pasrah membiarkan Goenawan menerima panggilan teleponnya.


Beberapa menit kemudian , wajah Goenawan berseri-seri.


“Kalian tahu tadi siapa yang menelepon Papi?” tanya Goenawan.


Dimas dan Selena kompak menggeleng.


“Pak Presiden. Beliau bilang, akan jadi saksi pernikahan kalian berdua!”


“Ha?!” Dimas dan Selena terkejut berbarengan dan saling berpandangan.


“Jadi..tadi kalian mau bilang apa?”


Dimas terdiam kebingungan. Dia tampak ragu-ragu untuk mengucapkan kalimatnya. Ditambah lagi , saat ini Goenawan , Vivi dan Merry sedang menatapnya dengan rasa penasaran.


Selena yang kesal melihat keadaan itu , langsung mengucapkan sebuah kalimat yang membuat mata Dimas melotot.


****


“Maksud kamu apa Sel?! Pernikahan yang sederhana?!” tanya Dimas kesal ketika Goenawan , Vivi dan Merry telah terlebih dulu meninggalkan restoran. Menyisakan Selena dan Dimas yang saat ini berada di parkiran.


“Lalu Kakak mau bagaimana? Kakak lihat sendiri kan , mereka semua terlihat bahagia dengan pernikahan kita. Terutama Om Goenawan.”


Dimas terdiam membenarkan perkataan Selena. Memang benar , sejak Dimas dan Selena memutuskan bertunangan , kesehatan Goenawan memang menjadi lebih baik.


Bahkan menurut Maminya , sekarang Papinya selalu bisa tertidur lebih cepat dan lebih banyak tertawa.


“Tapi , kamu....,” Dimas bertanya dengan ragu-ragu. “Apa kamu bahagia nantinya dengan pernikahan kita?”


Selena terdiam lalu menatap mata Dimas.


“Kakak sendiri , apa nanti juga akan bahagia?”


****


Dimas menyesap kopinya dengan tenang sembari melirik ke arah pintu. Di depannya ada sebuah map amplop berwarna cokelat.


Tapi ketenangan berubah menjadi kegugupan saat melihat Selena berjalan menghampirinya.


Tidak ada senyuman yang biasanya selalu terukir di bibir Selena ketika melihat Dimas. Sekarang yang ada hanya sorot mata yang dingin persis seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Entah kenapa perasaan Dimas sedikit terluka tapi Selena memang pantas untuk bersikap seperti itu , mengingat Dimas sudah terlalu menyakiti hatinya. Dan kali ini , Dimas sudah pasrah jika Selena membencinya seumur hidup.


“Itu apa?” tanya Selena begitu mendudukkan tubuhnya ke kursi.


Jangan dibuka. Kalimat itu ingin keluar dari mulut Dimas , tapi tidak bisa terucap. Dia hanya bisa terdiam.


Selena yang penasaran pun langsung mengambil amplop tersebut dan membukanya. Mata Selena melotot begitu selesai membaca lembaran kertas di dalamnya.


“Kontrak perceraian?!” desis Selena. Mata cokelatnya menatap Dimas yang masih terdiam.


“Anda gila?!” teriak Selena sambil membanting kertas itu ke meja.


Beruntung restoran yang dipilih Dimas , memiliki ruangan privat yang menjadi tempat mereka berada sekarang. Sehingga Selena bisa bebas berteriak atau bahkan memaki Dimas --- jika ia mau.


Selena mendengus kesal ketika Dimas masih tetap terdiam. Dia pun akhinya bangkit , bersiap untuk pergi dari ruangan itu.


“Saya anggap kertas itu tidak pernah ada. Saya pamit dulu , Presdir Dimas!”


Dimas baru bereaksi setelah mendengar kata-kata Selena. “Tunggu Sel.”


Tepat saat itu pintu terbuka dan seorang wanita muncul perlahan berjalan masuk menghampiri Dimas.


Wanita itu sempat tersenyum simpul sekilas , yang justru menambah kemarahan di hati Selena.


“Oh. Jadi ini soal kalian?” Selena tersenyum sinis melihat ke arah Dimas dan wanita itu bergantian.


“Sel, kamu harus....,” Dimas buru-buru bangkit , bermaksud untuk mendekat ke arah Selena. Namun Selena refleks memundurkan langkahnya seraya memberikan tatapan tajam.


“Oke.” Selena cepat-cepat mengambil amplop cokelat tersebut dan menaruhnya di dalam tasnya. “Saya baca dulu. Saya juga harus ambil bagian di dalam kontrak ini!”


Baik Dimas dan Nayra hanya bisa terdiam merasakan aura kebencian dari sorot mata Selena yang berjalan meninggalkan mereka berdua.