The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Menghindar



Dimas baru saja merebahkan tubuhnya saat ponselnya berdering. Dia mengernyit melihat nama Nayra tertera di layarnya.


Baru mengucapkan kata ‘Ada apa’, terdengar rancauan suara Nayra sambil menangis di seberang sana. Alis Dimas berkerut. Nayra terdengar meratap memilukan sambil tak henti-hentinya mengatakan maaf.


Merasa ada yang tak beres, Dimas mematikan sambungan teleponnya dan bergegas mengetuk pintu kamar Nayra. Tapi pintu itu tetap tak terbuka. Dimas menempelkan telinganya di pintu kamar Nayra. Sayup-sayup terdengar suara tangisan Nayra.


Panik, Dimas segera membuka pintu kamar Nayra. Sebagai pemilik hotel, Dimas memang memiliki kartu khusus yang bisa ia gunakan untuk membuka semua pintu kamar hotel.


Begitu pintu terbuka, dia terkejut mendapati Nayra sudah tergeletak di bathub. Tanpa pikir panjang, Dimas segera menggotong Nayra dan membaringkannya di atas kasur.


Tak berapa lama kemudian, dokter yang dihubungi Dimas, akhirnya datang. Dokter mendiagnosis Nayra mengalami pingsan karena pengaruh obat yang ditelannya.


Dokter juga menyarankan agar malam ini Nayra tidak dibiarkan sendirian.


Mendengar saran Dokter membuat Dimas kebingungan. Dia tak mungkin meninggalkan Nayra sendirian di sini, karena Jay tak bisa dihubunginya.


Sepertinya Jay sedang mengunjungi pacarnya. Karena seingat Dimas dulu, Jay memiliki calon istri di kota ini.


Dimas mengacak rambutnya kesal. Jika dibiarkan sendiri, ia takut Nayra berbuat nekat. Tapi jika ditemani, sama saja Dimas melanggar janjinya untuk tak berdekatan dengan Nayra.


“Maafkan aku, Sugar. Aku hanya akan menemaninya sampai Jay pulang.” Gumam Dimas sambil menutup pintu kamar hotel Nayra.


****


Selena baru saja sampai ke rumah saat ponselnya bergetar. Ada pesan text masuk ke ponselnya.


Pesan itu dikirim dari nomer tak dikenal dan tulisannya hanya ‘BUKA EMAILMU’.


Karena penasaran, Selena bergegas naik ke kamarnya dan langsung menyalakan laptopnya. Alisnya bertautan karena ada inbox masuk dari alamat email yang tak dikenalnya.


Netra cokelat Selena melotot tak percaya melihat isi inboxnya. Di layar laptopnya kini terpampang beberapa foto-foto Dimas dan Nayra di koridor hotel.


Darahnya semakin mendidih tak kala melihat kedua mantan pasangan itu, masuk ke kamarnya masing-masing yang ternyata bersebrangan.


Tangan Selena semakin bergetar hebat saat menscroll ke bawah, dia bahkan sampai membekap mulutnya tak percaya. Di layar laptopnya, ia melihat Dimas masuk ke kamar yang sebelumnya dimasuki Nayra.


Jantung Selena berdenyut perih. Air matanya tiba-tiba mengalir. Sambil bergetar, Selena mengambil ponselnya dan menelpon suaminya.


Selena tertegun, menatap kosong layar laptopnya. Tangan kanannya yang mengenggam ponsel sekarang terjuntai lesu. Dimas tak mengangkat panggilannya walau sudah dihubunginya beberapa kali.


Selena menundukkan kepalanya, mencoba berpikir positif. Dia juga mencoba menghubungi nomer yang tadi mengirimkannya pesan text. Tapi nomer itu ternyata tidak terdaftar. Selena mengepal erat tangannya. Marah, kesal, perih dan kecewa melebur menjadi satu di hatinya.


Dia lalu bangkit dari duduknya, berjalan ke kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya di shower.


Dia merosot di tengah guyuran air dingin showernya. Menekuk lututnya seraya berharap bisa menghilangkan ingatan tentang foto-foto yang baru diterimanya.


****


Pagi-paginya seperti biasa Selena duduk di depan meja riasnya bersiap untuk bekerja. Dia menggerutu menyadari matanya yang sembab akibat tangisannya semalam.


Setelah mengompres matanya dengan bongkahan es batu, Selena mulai mengaplikasikan sejumlah riasan.


“Ibu begadang lagi ya?” Bik Ninik bertanya cemas saat melihat Selena di ruang makan. “Jangan terlalu keras kerjanya, Bu. Nanti sakit.”


“Kelihatan ya, Bik?” Selena mengambil kaca kecil dari dalam tasnya, dan menelisik area matanya. “Padahal sudah ditutupi make-up.”


Selena mengangguk sambil menelan suapan terakhir serealnya. “Saya berangkat dulu ya, Bu.”


“Iya, Bu. Hati-hati. Ohiya Bu, hari ini Bapak pulang ya? Mau dimasakin apa?”


Selena termenung sesaat lalu mengedikkan bahunya. “Terserah Bibik saja. Asal masaknya jangan banyak-banyak. Paling yang makan dia doang.” Gumamnya.


“Gimana maksudnya, Bu?” Tanya Bik Ninik bingung.


Selena tersenyum simpul. “Maksud saya, terserah Bibik saja mau masak apa. Saya ikut aja. Sudah ya, Bik. Saya pergi dulu.” Pamit Selena seraya beranjak pergi.


****


Di kantor, Selena melampiaskan rasa sakit hatinya melalui pekerjaannya. Seharian ini dia sama sekali tak menyentuh ponselnya. Dia membiarkannya bergetar sepanjang waktu. Selena tahu, kalau Dimas mencoba menghubunginya seharian ini.


Ini bukan karena Selena sengaja menolak panggilannya tetapi memang hari ini ia memiliki banyak pekerjaan yang menunggu diselesaikannya.


“Bu, saya mau izin, meninjau pabrik kardusnya dulu.” Pamit Niko – salah satu anggota teamnya.


Selena melirik jam tangannya. Terdiam sejenak lalu berdiri. “Saya akan ikut. Bawa tasmu juga. Kita sekalian pulang. Saya akan hubungi HRD.” Perintah Selena.


Mendengar kata ‘PULANG’, wajah Niko berseri-seri. Tanpa disuruh 2x, pria itu segera pergi ke kubikelnya lalu kembali menghampiri Selena dengan tas yang sudah tersampir di pundaknya.


Menggunakan mobil Niko, mereka berdua pergi keluar dari kantor jam 3 sore. Lokasi pabrik kardus yang berada di kota Cikarang, membuat mereka baru sampai di Jakarta jam 7 sore.


“Tolong antarkan saya ke Gold Luxury Apartement ya.” Pinta Selena saat mobil Niko baru keluar dari jalan tol lingkar dalam.


“Loh, Ibu bukannya tinggal di perumahan .. apa namanya ya? Emm…” Niko bertanya bingung sambil berpose berpikir.


“Jangan banyak tanya. Antarkan saja kesana!” Potong Selena kesal.


Niko segera mengangguk cepat dan menutup mulutnya rapat-rapat.


Menyadari intonasinya yang meninggi, Selena berdeham sambil merendahkan suaranya. “Maaf, Nik. Saya nggak bermaksud membentakmu.”


Niko nyengir, memerkan deretan giginya yang terpasang behel. “Nggak apa-apa, Bu. Saya orangnya nggak baperan, kok.” Sahutnya santai.


Selena mengulas senyumnya. Beruntung Niko bukanlah tipe anak buah yang kepo, sehingga Selena tak perlu harus menjelaskan alasannya kenapa ia memilih pulang ke apartemen dan bukannya ke rumah.


****


Sementara itu, Dimas terlihat tak sabaran. Berkali-kali ia meminta Pak Pendi - supirnya, untuk melajukan mobilnya lebih cepat agar ia bisa cepat sampai ke rumah.


Dimas merasa gelisah. Sejak tadi pagi, Selena tak menjawab panggilannya sama sekali. Padahal biasanya, wanita itu selalu membalas pesannya walau hanya sekedar ucapan ringan.


“Sugar….kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?” Gumam Dimas sambil mengenggam erat ponsel hitamnya.


Hallo, kakak-kakak author tercinta. Apa kabarnya? Sehat terus kan?


Maaf, baru bisa update sekarang huhuhu... Udah hampir 2 minggu bedrest di rumah 😢


Makanya maaf banget, kalau lama berkunjung ke karya author lainnya. Tapi diusahakan pasti mampir kok 😘😚..


Pokoke Terimakasih banyak buat author-author yang sudah mampir disini dengan komen dan likenya. Dukungan dari author semua bikin imun naik nih.. Hehehehe....😘😘😘