The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Feel



SELENA POV


Manik cokelatku terus saja memandangi keindahan pemandangan malam Samudera dari atas tebing Uluwatu. Kuhirup dalam-dalam udara malam sambil memejamkan mata. Suara deburan ombak terdengar seperti sebuah melodi di telingaku. Benar-benar relaksasi yang menyenangkan.


“Apa kau menyukai tempat ini?”


Sebuah suara lembut membuyarkan lamunanku. Kubuka mataku dan kutolehkan kepalaku menghadapnya.


Aku tidak menjawabnya dengan kalimat melainkan dengan anggukan kepala dan senyuman lebarku.


Pria itu tampak puas melihat jawabanku. Ada gurat kelegaan yang terpancar dari wajah tampannya.


Tiba-tiba dia mengangkat tangannya dan tak lama kemudian seorang pelayan pria datang dengan sebotol champagne dan 2 buah gelas.


Sorot keenganan pasti terlihat jelas di wajahku, karena Dimas langsung menyakinkanku.


“Ini tanpa alkohol. Jadi, minum sebanyak apa pun, tak akan membuatmu mabuk,” ujarnya sambil menyunggingkan senyuman lembut.


Awalnya aku sempat skeptis. Karena setahuku minuman seperti ini, mau bagaimana pun isinya tetap saja ada kadar alkoholnya. Tapi kemudian aku memilih untuk mempercayai ucapan Dimas. Dia pasti lebih paham soal ini ketimbang diriku.


Entah apa karena suasana hatiku yang sedang bagus atau karena pemandangannya yang indah, minuman itu jadi terasa sangat manis di lidahku.


Selang beberapa menit kemudian, pelayan itu datang lagi. Kali ini dengan 2 piring putih di tangan kanan dan kirinya. Saat pelayan itu menaruh piring di hadapanku, hidungku langsung disambut dengan aroma daging panggang yang harum.


“Tadinya aku ingin memesan appetizer terlebih dulu. Tapi sepertinya langsung ke menu utama justru lebih baik,” ujar Dimas yang sedang fokus mengiris-iris steaknya.


Aku tak menanggapinya karena konsentrasiku kuarahkan sepenuhnya pada potongan besar daging wagyu kecoklatan di depanku. Kuraih garpu dan pisau di kedua tanganku -- bersiap untuk mengiris.


“Tunggu sebentar!” seruan Dimas sontak menghentikan gerakan tanganku.


Kuletakkan kembali garpu dan pisauku dengan raut kesal. Sejurus kemudian, daging wagyu besar di piringku sudah berganti menjadi daging wagyu berukuran kecil-kecil.


“Nah, sekarang kau boleh makan.” Dimas tersenyum sambil menaruh piring yang masih berisi daging utuh ke hadapannya.


Aku terkesiap, tak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari dirinya.


"Daging itu akan mengerut kalau kau terus melototinya," Dimas tersenyum geli melihatku yang hanya memandangi piring putihku.


Aku berdecak sebal. Niatku tadinya ingin menunggunya selesai mengiris daging di piringnya agar kami bisa makan bersama.


Tapi karena ucapannya itu, kulupakan niat baikku dan tanpa basi basi lagi, langsung kumasukkan daging itu ke dalam mulutku.


Tadinya kupikir makan malam ini akan membosankan. Tapi ternyata justru menyenangkan. Kami berdua cukup nyambung saat mengobrol.


Malam itu Dimas benar-benar membuka dirinya di depanku. Dia menceritakan segala hal tentang kehidupannya kecuali tentang Nayra. Aku pun tak berniat untuk menggorek-korek tentang wanita itu. Aku menunggu hingga Dimas sendiri yang bersiap untuk menceritakannya.


*****


Usai makan malam, kami berdua memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak ke pantai. Kebetulan, jarak dari resort menju pantai tidak terlalu jauh sehingga kami bisa langsung pergi kesana.


Hembusan angin malam yang dingin membuatku sedikit mengigil. Tapi tak menghentikan niatku untuk terus berjalan menyusuri tepi pantai sambil menikmati butiran pasir lembut di sela-sela kakiku.


Jantungku mendadak berdegup kencang saat tangan Dimas tiba-tiba mengenggam tanganku. Dia juga semakin menyempitkan jarak di antara kami hingga aku bisa merasakan aroma tubuhnya.


Padahal ini bukan pertama kalinya aku bergandengan dengannya, tapi entah kenapa malam ini aku merasakan sesuatu yang berbeda. Kami berjalan berpegangan tangan hingga sampai ke depan kamarku.


Kami berdua berdiri berhadapan di depan pintu kamarku sambil tetap berpegangan tangan. Tampaknya Dimas tak berniat untuk melepaskan kaitan tangan kami. Begitu pun denganku yang mendadak enggan untuk berpisah dengannya.


Tiba-tiba saja Dimas mendekatkan tubuhnya ke arahku. Aku terkesiap dan mendongak. Manik cokelatku langsung bertemu dengan manik hitamnya yang jernih.


Tangan Dimas kini beralih mengusap-usap lembut pipiku yang terasa panas. Lalu tangannya bergerak pelan ke bawah, menyusuri bibirku. Perlahan-lahan dia mulai mendekatkan wajahnya. Hawa panas langsung terasa menyentuh wajahku.


Kupejamkan mata. Dan kemudian aku merasakan ada benda lembut yang menempel di bibirku.


Sebuah ciuman yang terasa lembut dan hangat. Dimas tampaknya cukup pintar menahan diri untuk tak memaksaku terlalu jauh. Padahal aku bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang.


Cukup lama kami berciuman sampai akhirnya pagutan itu terlepas. Mata kami saling bertatapan. Dia kemudian menempelkan dahinya ke dahiku. Tak ada yang berbicara selain suara jantung kami yang saling mempompa cepat.


Dimas kemudian memelukku dengan erat yang kubalas dengan tanganku yang juga melingkar erat di pinggangnya.


“Tidurlah,” ujarnya begitu pelukan kami terlepas.


Aku mengangguk mengiyakan – bersiap untuk membuka pintu kamarku. Tapi kemudian aku membalikkan badan. Dan kulihat Dimas masih berdiri menungguku masuk. Dia tampak bingung melihatku yang kembali berbalik.


“Emm...,” aku menundukkan kepala sambil bergumam dengan ragu-ragu.


“Kenapa? Apa ada yang sakit?” tanyanya dengan nada khawatir.


Aku menggeleng dan mendongakkan kepala. Kutelan salivaku dengan susah payah. Dengan nada canggung dan malu-malu, aku akhirnya bertanya.


“Apa malam ini kau bisa tidur disini?” tanyaku sambil mengarahkan pandanganku ke pintu kamarku.


Dimas tersenyum dan segera mengangguk. “Tentu saja.”


Di kamar itu, walau tak ada sentuhan fisik yang terjadi tapi aku dan Dimas mulai merasakan perubahan yang terjadi di dalam hubungan kami berdua.