The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pengakuan Jujur Selena



Dimas tersenyum sumringah menyambut Selena di ruang kerjanya. Pria itu sampai terburu-buru menyelesaikan meetingnya.


“Aku hanya mampir. Sekalian bawa ini.” Selena menaruh kotak kue di atas meja hitam berbentuk persegi panjang. “Siapa tahu kamu lapar.”


Dimas mengerucutkan bibirnya. “Hanya mampir? Aku kira mau menungguku pulang kerja.”


Selena tertawa. “Aku bakal tunggu, tapi kalau kamu nggak lembur.”


“Bener yah?” Dimas nyengir sambil mengendurkan dasinya. “Aku kerja dulu kalau gitu. Biar cepat selesai.”


Dimas kembali menekuri pekerjaannya. Dari tempatnya duduk, Selena mengamati lekat suaminya.


Mengenakan kemeja navy polos, Dimas terlihat sexy dengan rambut acaknya. Apalagi raut seriusnya semakin menambah nilai ketampanannya.


Suara pesan masuk di ponselnya membuyarkan lamunan Selena. Wanita itu terkesiap melihat isi pesannya.


“Siapa yang kirim pesan?” Suara lembut Dimas bak sengatan listrik yang mengejutkan Selena.


Wanita itu tampak panik, tapi kemudian menjawabnya dengan suara ragu.


“Leon.”


Mendengar nama itu, Dimas sontak menghentikan kegiatannya. Dia berdiri dari kursi kebesarannya, berjalan menghampiri Selena dan duduk di sampingnya.


“Boleh aku lihat?”


Selena mengigit bibirnya. Dia tampak ragu tapi tetap menyerahkan ponselnya ke tangan Dimas. Beberapa menit kemudian, Dimas menyerahkan lagi ponsel Selena.


“Apa maksudnya itu, Sugar?” Tatapan dalam Dimas menelisik netra cokelat Selena. “Kamu tadi ketemu sama dia?”


Selena terdiam, menundukkan pandangannya sambil memilin jari-jarinya. Dia terkesiap saat tiba-tiba kedua tangan Dimas menangkup lembut wajahnya.


“Jawab aku, Sugar. Aku nggak akan marah.”


Selena melepaskan tangkupan tangan Dimas di wajahnya. “Maaf. Aku nggak bilang sama kamu. Sebelum kesini, aku pergi ke kantor Leon dulu…”


Selena mulai menceritakan semuanya termasuk soal pertemuannya dengan Nayra. Sambil bercerita, Selena memperhatikan ekspresi suaminya.


Kentara sekali kalau Dimas berusaha meredam emosinya. Selena mengigit bibirnya cemas, mungkin sebentar lagi suaminya itu akan memarahinya.


Namun alih-alih marah, Dimas justru memeluknya. Selena terkejut, dia sampai bengong tak mampu berucap apapun.


“Kamu…nggak marah?” tanya Selena bingung.


Dimas membenamkan kepalanya di pundak Selena. “Aku marah.. marah banget.”


“Terus kenapa diam aja?”


“Aku takut kamu menjauh….” Ungkap Dimas.


Selena melepaskan tangan Dimas di pinggangnya. Menatap langsung manik hitam Dimas. “Kalau kamu mau marah, marahlah. Jangan ditahan. Aku nggak akan menjauh hanya karena kamu ngomel atau marah-marah. Selama marahmu benar, aku nggak masalah. Toh, yang sekarang ini salahku. Harusnya aku ijin dulu sama kamu. Tapi yah… aku keburu emosi duluan dengar adikku kerja disana.”


Dimas sempat terdiam beberapa saat, sebelum bertanya dengan suara lesu. “Kenapa Raymond nggak magang di tempatku?”


“Bi.. adikku itu nggak pernah ngelamar di kantor mana pun. Dia bisa kerja disana, karena dia sempet ikut klub E-sport asuhan Leon. Entah bener atau nggak, Leon bilang dia merekrut Raymond karena kemampuannya bermain komputer.” Jelas Selena.


“Kamu tahu ‘kan adikku itu lebih tertarik bermusik? Dia udah janji sama aku, kalau hanya magang sebentar di sana. Hanya sekedar untuk nilai tambahannya.”


Dimas terdiam sejenak tapi kemudian mengangguk sambil mengecup kening Selena. “Aku percaya.”


“Maafin aku ya…” Selena menatap lirih pria di hadapannya sambil memeluknya.


Dimas tersenyum kecil sambil mencium puncak kepala Selena. “Gimana bisa aku marah kalau kamu menatapku seperti itu? Kayaknya seumur hidup, aku nggak akan bisa marah sama kamu deh. Jadi..jangan lakukan itu lagi ya Sugar. Dan tolong ….. jadikan aku orang pertama yang selalu tahu segala hal tentangmu.” Pinta Dimas sambil mengelus rambut Selena.


****


Alvino baru saja menyelesaikan pekerjaannya, saat melihat seseorang yang menarik perhatiannya.


Orang itu terlihat melamun di bangku taman. Alvino mengernyit, menyadari kalau dia mengenal sosok familiar itu.


“Sedang apa? Dokter Samuel hari ini nggak ada.” Sapa Alvino tiba-tiba sambil mendudukkan tubuhnya di samping orang tersebut.


Nayra berjengit kaget. Dia menatap bulat Alvino yang mengulurkan sekotak susu cokelat kepadanya.


“Tanganku pegal.” Keluh Alvino.


“Oh..maaf.” Nayra yang sadar dari keterkejutannya, langsung mengambil susu cokelat itu dan meminumnya perlahan. “Makasih.” Ucapnya pelan.


“Apa dokter Samuel nggak kasih tahu kamu, kalau dia lagi cuti?” tanya Alvino. Dokter Samuel adalah dokter yang melakukan terapi konseling ke Nayra.


Nayra mengangguk. “Aku tahu.”


Alvino mengernyit. “Terus kalau tahu, kenapa datang kesini?”


“Di sini nyaman.”


“Ha?” Alis Alvino semakin mengkerut mendengar jawaban singkat Nayra. Dia memandang sekeliling. “Nyaman? Ini rumah sakit, loh. Tempat orang sakit. Apanya yang nyaman?”


“Suasananya..” Nayra tersenyum tipis. “Di sini nggak ada yang memperhatikanku.”


Alvino terdiam saat menyadari perkataan Nayra. Mendadak, rasa sedih menyergap batinnya. Nayra memang salah, tapi sejujurnya Dimas juga ikut berperan andil. Pria itu tetap memacari Nayra walau sudah menikahi Selena. Seketika Alvino merasa tidak adil.


Kenapa hanya wanita yang mendapat sanksi sosial? Sementara si pria bisa berkeliaran tanpa dosa?


Tiba-tiba Alvino bangkit dari duduknya, membuat Nayra terkejut. Wanita itu mendongak dan mendapati Alvino tersenyum tulus padanya.


“Ada tempat yang lebih nyaman lagi. Mau kutunjukkan? Di sana kamu bisa bebas tanpa ada orang yang memperhatikanmu.”


Air mata Nayra mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tak menyangka kalau masih ada orang yang bersikap baik padanya. Terlebih Alvino, orang yang seharusnya membencinya karena sudah merusak rumah tangga Selena.


“Yasudah, kalau nggak mau.” Alvino berpura-pura kesal sambil melenggang pergi.


“Tung-tunggu, dok.” Nayra setengah berlari mengejar Alvino yang sengaja berjalan pelan. Sambil mengusap airmatanya, Nayra berjalan sambil tersenyum di belakang Alvino.