The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Pertengkaran



“Selena?!” Leon berseru senang sekaligus kaget saat melihat Selena di apartement.


“Oh, hai Leon. Apa kabar?” tanya Selena lembut.


“Kabarku baik. Ngomong-ngomong kamu baru pulang kerja?” Leon menelisik tampilan Selena. “Tumben kamu kesini. Eh.. maksudku…” Leon sedikit gelagapan menyadari perkataannya.


Selena tertawa kecil. “Untuk sementara waktu, aku akan tinggal di sini lagi. Mohon bantuannya lagi ya, tetangga sebelah.” Canda Selena sambil melangkah masuk ke unit apartemennya.


Leon terbengong sesaat. Pria itu baru menyadari maksud perkataan Selena, setelah wanita itu masuk ke unit apartementnya sendiri.


Senyuman lebar langsung terukir di wajahnya. Sambil bersenandung kecil, Leon memasuki unit apartementnya yang terletak di sebelah Selena.


****


“Selena belum pulang?” Dimas bertanya heran.


Bik Ninik mengangguk. “Belum, Pak. Kemarin Ibu malah sampai rumah jam 9 malam. Kasihan, Pak. Ibu begadang terus. Tadi pagi wajahnya Ibu sampai bengkak.” Adu Bik Ninik seraya menyodorkan segelas kopi di hadapan Dimas.


Dimas menyeruput kopinya. “Terimakasih, Bik. Bibi istirahat aja. Biar saya yang tungguin Selena pulang.”


Bik Ninik mengangguk dan beranjak pergi ke kamarnya, meninggalkan Dimas yang duduk sendirian di ruang tengah.


“Kamu dimana sih, Sugar?” Keluh Dimas sambil mencoba menghubungi ponsel Selena. Tapi lagi-lagi panggilannya dialihkan ke pesan suara.


Beberapa kali Dimas berjalan mondar-mandir di ruang tamu sembari mengecek ponselnya. Barulah setelah jam menunjukkan pukul 10 malam, Dimas memutuskan pergi, melajukan mobilnya guna mencari keberadaan Selena.


Tujuan pertamanya adalah apartemen Selena. Instingnya mengatakan kalau wanita itu ada di sana.


Tapi begitu sampai disana, Dimas baru tersadar kalau dia tak memiliki kartu access untuk bisa menaiki lift menuju lantai unit Selena. Dengan terpaksa, Dimas menunggu di lobi sambil berharap ada penghuni apartemen yang melintas.


Setengah jam duduk di lobi, akhirnya Dimas melihat ada 2 orang melewati lobi dan berjalan menuju lift. Tanpa pikir panjang, Dimas bergegas mengikuti mereka masuk ke dalam lift.


Begitu keluar dari lift, Dimas langsung menuju unit apartement Selena.


“Sugar.. kamu ada di dalam?” Dimas mengetuk-ketuk pintu unit apartement Selena sambil menekan bel pintu.


Tak ada jawaban, tapi sayup-sayup Dimas mendengar deringan ponsel Selena dari dalam unit apartement.


“Sugar! Ini aku! Buka pintunya,” Dimas menaikkan nada suaranya.


Ceklek..


“Jangan berteriak di tempat orang!” Seruan Leon mengagetkan Dimas.


Pria itu tertegun melihat Leon keluar dari unit sebelah Selena. “Kenapa kamu ada disini?!” tanya Dimas jengkel.


“Seharusnya saya yang tanya! Kenapa Anda bisa ada disini? Disini tempat tinggal saya!” jawab Leon sengit.


“Kamu tinggal disini? Di sebelah istri saya?!” Dimas terlihat kesal. Dia lupa kalau Selena pernah mengatakan perihal Leon yang menjadi tetangga apartemenya.


Leon mendecih. “Memangnya Selena tidak pernah cerita?!”


Dimas mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia mengibas-kibaskan tangannya ke udara. “Aku sedang tidak ingin berdebat. Pergi! Masuk sana ke unitmu!” Usir Dimas.


Setelah mengatakan itu, Dimas kembali mengalihkan pandangannya ke pintu Selena yang masih tertutup rapat. “Sugar… buka pintunya. Please….” Pinta Dimas.


Leon menyadarkan tubuhnya di pintu seraya menyilangkan tangannya di dada. Seringai ejekan terukir di bibirnya. “Dia tak akan mau membuka pintunya. Jadi lebih baik Anda pergi saja.”


Dimas mengepalkan erat tangannya. Emosinya seketika meluap naik. “Tutup mulutmu. Dan jangan campuri urusan rumah tanggaku!” Desis Dimas tajam.


Leon berdecak. Dia malah semakin memprovokasi Dimas. “Bagaimana ya? Saya menyukai Selena, jadi urusan Selena berarti urusan saya juga.” Timpalnya.


“Barusan kamu bilang apa?!” Dimas membalikkan tubuhnya hingga berhdapan dengan Leon. Jarak mereka kini hanya beberapa inci saja.


“Saya menyukai Selena, jadi…”


BUGH


Belum sempat Leon menyelesaikan kalimatnya, Dimas sudah keburu meninju wajahnya.


“Wah..wah..wah.. Anda memakai kekerasan. Pantas kalau Selena kabur.” Seringai Leon seraya menyeka ujung bibirnya yang berdarah.


“Kurang ajar!” Dimas mengangkat tinjunya, bersiap untuk memukul Leon sekali lagi.


Pria itu segera berbalik dan langsung menghambur bermaksud untuk memeluk Selena.


PLAK


Dimas melotot kaget karena Selena tiba-tiba menampar pipinya. Pria itu tertegun seraya memegangi pipinya.


“Sugar, kamu kenapa nampar aku? Apa salahku?”


“Ini salahmu!” Selena menyodorkan ponselnya tepat di hadapan Dimas. Wanita itu menunjukkan foto-foto yang ia terima kemarin.


“I-ini..kamu dapat darimana?” Dimas gelagapan sambil berusaha mendekati Selena. Tapi wanita itu malah berjalan mundur, menjauh dari Dimas.


“Gak penting aku dapat darimana. Jawab aja pertanyaanku. Apa foto-foto itu benar? Kamu dan Nayra berada di hotel yang sama? Dan kamu masuk ke kamar Nayra?” Tuntut Selena.


Dimas terdiam.


Selena mendecih kesal. “Kamu nggak bisa jawab karena itu semua benar, kan?” Selena menyibakkan rambutnya ke belakang sambil menatap jijik Dimas. “Bisa-bisanya aku tertipu 2x sama kamu!”


“Aku bisa jelasin. Kemarin itu…”


“Bla..bla..bla…” Selena menutup kedua telinganya. “Jangan beralasan denganku, Dim. Kamu sudah berbohong dan itu faktanya. Sekarang pergilah. Jangan sampai aku memanggil sekuriti kesini. Nama baikmu bisa tercoreng…” Selena merendahkan suaranya, menatap dingin Dimas. “Lagi.”


BRAK


Tanpa menunggu jawaban Dimas, Selena langsung masuk ke unit apartementnya setelah membanting pintunya tepat di hadapan Dimas.


“Seharusnya Anda tak melakukan itu.” Sahut Leon tiba-tiba.


Dimas menoleh dan mendapati Leon sedang menyeringai padanya. “Apa maksudmu?!” tanya Dimas kesal sekaligus bingung.


“Maksudku… pertemuanmu dengan Nayra. Seharusnya kau lebih berhati-hati lagi.” Sahutnya licik sambil menutup pintu unitnya.


“Apa?!” Dimas yang menyadari maksud perkataan Leon sontak menendang kencang pintu unit apartemen Leon. “Keluar kamu! Baj*ngan! Kamu yang merencanakan semua ini kan?!”


Dimas mengedor dan menendang pintu unit apartemen Leon cukup lama sampai akhirnya seorang satpam mendatanginya dan mengusirnya keluar.


****


Keesokan paginya, Selena dikejutkan dengan kehadiran Leon yang sudah menunggunya di depan pintu lift.


Pria berparas Eropa itu tersenyum lebar sambil mengulurkan sepotong sandwich daging dan sekotak susu cokelat. Selena tertegun, teringat kalau dulu Dimas sering membawakannya sekotak susu cokelat.


“Maaf. Lain kali akan aku bawakan susu strawberry.” Ucap Leon saat Selena menolak menerima susu kotaknya.


Selena tersenyum tipis. “Nggak usah minta maaf. Kamu kan nggak tahu.”


Saat Selena menekan tombol lantai lobi, Leon mengerut bingung. “Kenapa di lobi? Bukannya kamu mau ke basement?”


“Aku mau naik taxi. Mobilku masih ada di rumah Dimas.”


“Biar aku yang antar. Kalau menunggu taxi, kamu bisa terlambat masuk kerja.” Tawar Leon cepat.


“Nggak usah. Aku nggak mau merepotkanmu. Lagipula kantor kita juga berbeda arah.”


“Tidak repot, kok. Justru aku senang bisa mengobrol lagi denganmu..” Timpal Leon. “Boleh ya, aku mengantarmu?”


Selena terdiam, menimbang sejenak. “Oke.” Ucap Selena kemudian sambil tersenyum lembut.


DEG


Jantung Leon berdegup kencang melihat senyuman Selena yang terlihat persis seperti di mimpinya selama ini. Saking senangnya, dia seolah terhipnotis dan baru sadar saat dicolek Selena.


“Ayo, kamu mau naik lagi ke lantai atas?” Goda Selena sambil berjalan keluar dari lift.


“Hehehe..” Leon hanya bisa nyengir sambil berjalan di samping Selena.


Tanpa mereka sadari ada 2 pasang mata mengawasi mereka berdua, dari kejauhan.


“Kita ikuti?” tanya seseorang dari balik kemudi.


“Jangan terlalu dekat.” Jawab seseorang di kursi penumpang.