
Dimas berjalan cepat menyusul Selena yang tak kunjung memperlambat langkah kakinya, walau tahu kalau Dimas mengejarnya.
Beruntung Dimas dianugerahi kaki yang panjang hingga dengan cepat menyusulnya dan langsung menariknya ke balkon.
Dimas menutup pintu balkon berbahan material kaca setelah sebelumnya memberi perintah kepada seorang waiter pria untuk menghalangi pintu agar tak ada yang bisa masuk.
“Ngapain kita kesini? Aku mau keluar. Minggir!” Selena berusaha membuka kenop pintu namun langkahnya terhenti karena Dimas tiba-tiba memeluknya dari belakang.
“Tolong jangan begini. Dengarkan aku dulu.”Pinta Dimas sambil membalikkan pelan tubuh Selena.
Kini mereka berdua saling berhadapan. Jarak mereka hanya beberapa inci tapi entah mengapa Dimas merasa jauh. Seolah tembok transparan itu hadir kembali di antara mereka.
“Tadi Nayra mengirim pesan. Katanya ada yang mau ia bicarakan soal terapinya. Dia bilang kalau media sudah mencurigainya dan dia butuh bantuanku buat nanganin masalah ini. Maafin aku, Sugar. Ini semua salahku. Harusnya aku nggak kesana. Maaf….” Suara Dimas terdengar lirih. Matanya menatap sendu Selena.
“Dan soal ciuman itu, aku sama sekali nggak tahu kalau Nayra akan berbuat seperti itu. Tapi sumpah, aku sama sekali nggak membalas ciuman itu.”
Dimas menyakinkan Selena sambil berusaha menatap bola mata cokelat favoritnya. Namun sayang si pemiliknya malah memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Hening. Tak ada yang berbicara lagi. Yang terdengar hanya suara desiran angin malam yang bertiup rendah. Untungnya Selena masih mengenakan jas hitam milik Dimas di tubuhnya. Malah sekarang justru Selena merasa khawatir melihat Dimas yang hanya berbalutkan kemeja putih.
“Sugar… Maaf..” Sekali lagi Dimas berusaha mencari celah untuk bisa menatap manik cokelat Selena.
“Tolong jangan diam seperti ini. Marahlah atau berteriak. Atau memukulku. Atau….”
Dimas tak menggenapi kalimatnya karena Selena tiba-tiba mengulurkan selembar tissue. Alisnya mengernyit namun sedetik kemudian dia mengerti maksudnya.
Tanpa banyak bicara, Dimas segera mengusap-usapkan bibirnya dengan tissue tersebut. Sudut bibirnya terangkat sedikit melihat Selena yang tak lagi menghindari kontak matanya. Cukup lama Dimas melakukan hal itu sampai akhirnya Selena menahan tangannya.
Dimas kira Selena akan menyuruhnya berhenti tapi justru sebaliknya. Sekarang malah Selena sendiri yang mengusapkan tissue itu ke bibirnya. Dimas meringis perih karena Selena menggosok keras bibirnya seolah ada noda yang tak kunjung hilang.
Namun Dimas tak protes. Dia lebih memilih Selena melampiaskan kemarahannya seperti ini ketimbang mendiamkannya berhari-hari.
“Jangan pernah menemuinya lagi.” Tiba-tiba Selena mengeluarkan suaranya. “Jangan tersenyum padanya. Abaikan dia kalau tanpa sengaja kalian berpapasan, bisa?”
Dimas mengangguk cepat. “Tentu bisa, Sugar. Hal seperti ini nggak akan terulang lagi…” Dimas menangkupkan wajah Selena. Menatap lekat kedua bola mata cokelat jernih Selena. “Aku janji.”
Selena memindai wajah Dimas, memastikan tak ada kebohongan disana. Senyumnya terukir tipis sambil menyentuh kedua tangan Dimas yang menangkup wajahnya.
“Jangan buat aku kecewa lagi.” Pinta Selena dengan suara lembutnya.
“Pasti, Sugar.” Dimas merengkuhkan Selena ke dalam dekapannya. Sementara Selena melingkarkan tangannya di pinggang pria itu.
Dimas mencium puncak kepala Selena. Menghirup dalam-dalam wangi rambut yang selalu dirindukannya. Ia mengeratkan pelukannya, merengkuh Selena semakin dalam.
Selena memejamkan matanya, menikmati sensasi kenyamanan tubuh Dimas. Cukup lama mereka berpelukan, sampai akhirnya Dimas melepaskannya duluan.
Tangan Dimas mengusap lembut bibir tipis Selena. Ingin rasanya dia mengecup bibir merah tersebut tapi Dimas sadar diri, mengingat kesalahan yang baru ia lakukan.
Cup.
Kedua bola mata Dimas terbuka lebar saat Selena menciumnya terlebih dulu. Wanita itu bahkan sampai sedikit berjinjit untuk mengimbangi tubuhnya yang tinggi.
Dimas mengulum senyumnya. Dia menundukkan dan memiringkan sedikit kepalanya. Tangannya memegang tengkuk Selena.
Ciuman yang tadinya hanya sekedar kecupan singkat berlanjut menjadi intim. L*dah Dimas menerobos masuk, mengabsen deretan gigi-gigi putih Selena.
Wanita itu berjengit kaget namun kemudian nalurinya otomatis mengikuti ritme permainan Dimas.
Cukup lama pertukaran saliva itu terjadi sampai Dimas menarik bibirnya memberikan Selena jeda untuk mengambil oksigen.
Namun sayang, Dimas terpaksa harus menahan gairahnya lantaran seseorang terus-menerus mengetuk pintu balkon.
Dimas menatap tajam seorang waiter pria yang telah berani menganggu kesenangannya.
Waiter itu menciut ketakutan, tapi apa boleh buat. Saat ini banyak tamu sedang mencari atasannya tersebut.
Dimas menggeram kesal. Dia baru ingat kalau malam ini ia adalah tuan rumahnya. Setelah Selena merapikan dandanannya yang sedikit berantakan, mereka berdua masuk kembali ke dalam ballroom.
****
Selepas acara berakhir, Dimas mengajak Selena menuju salah satu kamar hotelnya. Mereka memang memutuskan untuk menginap sehari sebelum kembali ke Jakarta.
“Mau dilanjutkan yang tadi?” goda Dimas sambil memeluk Selena dari belakang.
Pipi Selena bersemu merah membayangkan kejadian di balkon. “Nggak. Aku mau mandi. Terus tidur.” Ucap Selena.
“Yakin?” Dimas berbisik rendah di telinga Selena sambil meniup-niupnya. Selena berjengit kegelian.
Menyadari gairahnya yang bisa semakin memuncak, Selena segera membalikkan tubuhnya dan mendorong tubuh Dimas menjauh. “Jangan menggodaku lagi, Dim.”
“Kenapa? Bukannya tadi kamu juga menikmatinya?” Dimas masih berusaha menggoda Selena sambil memeluknya dengan agresif.
Selena menggeleng, meronta di pelukan Dimas. “Kamu masih ingat dengan kontrak perjanjian kita?”
Sebenarnya Selena tak ingin membahas kontrak mereka lagi, tapi saat ini libido mereka berdua sangat tinggi dan bisa berbahaya jika diteruskan.
Selena sadar, suatu saat Dimas pasti menginginkan haknya, tapi Selena tak ingin melakukan hal ‘itu’ sebelum merasa yakin.
Dimas serta merta melepaskan pelukannya, kedua matanya membola. Alisnya mengernyit bingung. “Kamu masih simpan kontrak itu? Buat apa, Sel? Bukannya kita sudah sepakat?”
“I-itu….” Selena gelagapan. Dia keceplosan karena sebelumnya mereka berdua memang sudah sepakat untuk merobek surat perjanjian masing-masing.
“Apa kamu masih nggak percaya sama aku?” selidik Dimas.
Selena menghela napas. “Maaf. Jujur, aku masih nggak yakin sama perasaanmu. Walau kadang aku ngerasa kalau kamu memang cinta sama aku. Tapi Aku masih berpikir kalau nanti kamu bisa aja kembali sama Nayra dan ninggalin aku…”
“Itu nggak akan terjadi, Sel! Kamu tahu sendiri gimana perasaanku aku ke dia!” Potong Dimas cepat.
“Aku tahu. Tapi perubahanmu berjalan beberapa minggu, Dim. Apa menurutmu, aku bisa secepat itu percaya sama kamu? Tolong lihat dari sudut pandangku, Dim.
Dan satu lagi, mungkin kamu lupa kalau saat itu aku hanya bilang ‘pertimbangankan’. Itu artinya aku belum sepenuhnya menerimamu. Jadi maaf, kalau aku belum bisa memberikan hakmu sebagai suami.” Tutur Selena tegas.
Dimas mengusap wajahnya kasar. Apa sih yang sebenarnya dia harapkan? Mana mungkin Selena akan semudah itu mempercayainya? Apalagi sampai berpikir kalau mereka akan bisa melakukan malam pertama.
“Baiklah.” Dimas mengangguk pasrah. “Tapi, aku masih boleh kan tidur di sebelahmu? Aku janji nggak akan berbuat aneh-aneh. Hanya sekedar memelukmu. Nggak akan lebih dari itu.”
Selena tersenyum tipis seraya mengangguk pelan. “Boleh. Tapi jangan lakukan seperti yang di balkon tadi. Itu sedikit….”
Selena bergumam rendah, hampir seperti berbisik, “membuatku bergairah.”
Dimas yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur otomatis kembali terduduk. Alisnya mengernyit bingung.
“Kamu bilang sesuatu, Sugar?”
“Nggak..nggak! Lupakan!” Selena buru-buru melangkah masuk kamar mandi meninggalkan Dimas yang menatapnya keheranan.