The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
The Plan (part.1)



Note : Jangan lupa ya, kalau part ini mundur ke belakang. Awal mula Selena, Dimas dan Nayra memulai rencana pembalasan.


“Brengsek!!” Makian Dimas terlontar kencang seiring dengan gerakan tinjunya ke meja. Matanya berkilat marah. Napasnya memburu naik turun.


Di seberang sofanya, Nayra menatapnya takut-takut. Dia masih belum terbiasa melihat kemarahan Dimas. Saat dulu mereka masih berpacaran, Dimas jarang sekali meluapkan emosinya.


Maklum, proses perkenalan mereka sebelum ke tahap pacaran terbilang cepat, hanya 3 bulan. Pacaran selama 2 tahun pun di lalui lewat LDR. Wajar bila Nayra masih tak tahu banyak hal mengenai Dimas.


“Kenapa kamu nggak bilang dari awal, Nay?!”


Guncangan tangan Dimas di bahunya mengejutkan Nayra. Entah sejak kapan pria itu sudah berada di sampingnya. “Seharusnya kamu cerita sama aku, Nay. Kita kan bukan orang asing.”


Kita memang orang asing sejak kamu mutusin aku, Dim. Untaian kalimat itu ingin sekali ia lontarkan. Namun sayangnya Nayra hanya mampu mengucapkannya dalam hati.


“Maaf…” Lirihnya pendek. Nayra mendesah gusar, apa keputusannya untuk mengadu pada Dimas sudah benar?


“Jadi, Leon mengancammu dengan menggunakan Marsya? Dia bilang apa tentang Marsya? Apa dia pernah menemui Marsya secara langsung?” todong Dimas sembari menggertakan giginya.


Marsya adalah kakak kandung Nayra sekaligus anggota team sekretaris Dimas.


Nayra mengedikkan bahu. “Nggak tahu. Sepertinya nggak. Soalnya Kak Marsya nggak pernah bahas tentang Leon sama sekali.”


Dimas menghembuskan napas lega. Menegakkan posisi duduknya, dia mulai mengetik pesan di layar ponselnya. “Lusa aku mau ke Surabaya,” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Mulut Nayra hanya membulat sambil menganggukkan-anggukkan kepalanya.


Dulu, saat mereka masih berpacaran, Nayra sudah pasti akan menghujaninya dengan berbagai pertanyaan kecil, ‘Mau ngapain? Berapa lama? Menginap atau pulang pergi?’


Tapi sekarang Nayra harus memendam keingintahuannya. Mereka bukanlah pasangan kekasih lagi. Dia sudah tidak berhak menanyakan pertanyaan seperti itu lagi.


.


.


“Beres.” Satu kalimat Dimas membuat Nayra menolehkan kepalanya.


“Apanya?”


“Sekarang kamu nggak usah khawatir lagi. Marsya sudah aman. Aku udah minta anak buahku untuk mengawasi Marsya secara diam-diam,” Dimas menjeda kalimatnya, “Sebenarnya akan lebih baik kalau kalian berdua pindah ke tempat yang aman, tapi aku khawatir itu bisa menimbulkan kecurigaan Leon.”


Nayra terdiam. Ini semua karena kesalahannya. Kalau saja saat itu dia terlena dengan pertemanan yang ditawarkan Leon, tentu masalah ini tak akan terjadi.


Kebaikan yang diberikan Leon membuatnya menceritakan segala hal tentang dirinya. Termasuk hubungannya yang dijalaninya bersama Dimas. Padahal kak Jay sudah mewanti-wantinya agar tak menceritakannya ke sembarang orang.


Dengan berpura-pura mendukungnya sebagai teman, Leon selalu menyarankan Nayra agar terus mempertahankan hubungannya dengan Dimas. Nayra semakin merasa nyaman berteman dengan Leon.


Tapi sejak mengetahui tentang kamar rahasia Leon dan melihat sosoknya yang sebenarnya, Nayra baru sadar kalau Leon hanya memanfaatkannya saja.


Apalagi saat Leon berhasil mengambil video-video lama miliknya dan menggunakannya untuk menghancurkan hubungan Dimas dan Selena.


Video-video tersebut rupanya dijadikan alat bagi Leon untuk memaksa Nayra agar mau menuruti perintahnya. Saat rencana Leon dengan menggunakan video tersebut gagal, pria itu beralih menggunakan kakaknya sebagai ancaman.


“Apa yang kamu pikirkan?”


Suara lembut Dimas membuyarkan lamunannya. Nayra terkesiap, lalu menarik napas panjang dan menggeleng pelan. “Nggak ada.”


“Jangan bohong!” Dimas memutar tubuh Nayra, membuat keduanya berhadapan. “Aku mengenalmu, Nay. Apa sekarang kamu lagi merasa bersalah?”


“Jangan pernah merasa bersalah. Yang salah itu aku. Keputusanku membuat kita semua kesusahan. Maafin aku ya Nay. Aku ud ……”


Kalimat Dimas terputus karena Nayra tiba-tiba membekap mulutnya. Dimas mengernyit bingung, memandang Nayra yang menggeleng tegas.


“Jangan bicara apa-apa lagi,” putus Nayra dengan suara yang bergetar. Dia tak ingin mendengar kalimat permintaan maaf lagi dari Dimas. Pria itu selalu terdengar seolah-olah seperti menyesal telah mempertahankan hubungan mereka berdua.


Nayra memilih untuk segera pamit pulang. Berada terlalu lama di sini justru semakin menyiksanya.


“Aku pulang dulu, Dim. Terimakasih sudah mau membantuku. Sampaikan salamku pada Selena. Minta dia untuk berhati-hati selalu."


Nayra bangkit dari duduknya. Dimas mengikutinya dan mengantarnya ke depan pintu.


Sesaat sebelum Nayra membuka pintu, Dimas sempat mengenggam tangannya, “kabarin aku kalau Leon mengusikmu lagi. Jangan sembunyikan apapun dariku lagi.” Pintanya.


Nayra berjengit, refleks menepis tangan Dimas. Nayra yang menangkap keterkejutan di muka Dimas, buru-buru mengulas senyum lebarnya, “iya, Dim. Kamu akan jadi orang pertama yang aku kabarin.”


*********


Sudah dua hari Leon tidak menghubunginya. Nayra tersenyum lega. Dia berpikir mungkin Leon sudah sadar kalau ternyata usahanya untuk mendapatkan Selena sia-sia belaka. Tapi dugaannya salah.


Pagi ini Nayra di kejutkan dengan perubahan jadwal syutingnya. Sebagai brand ambbasador SpyroGames, seharusnya siang ini Nayra melakukan syuting iklan di studio Jakarta. Tapi entah bagaimana, lokasi syutingnya tiba-tiba berubah menjadi di Surabaya.


Bahkan Jay – selaku manager Nayra pun cukup terkejut dengan perubahan mendadak ini. Tidak ada penjelasan yang diberikan perusahaan SpyroGames.


Mereka hanya menghubungi Jay lewat telepon pagi ini dan mengirimkan pembelian tiket pesawat via email. Jay tidak bisa berbuat banyak selain menuruti keinginan perusahaan.


Sambil berkemas, Nayra berusaha menelpon Dimas. Namun sayangnya pria tersebut tak kunjung menjawab panggilannya. Nayra pun hanya bisa mengabarkan kepergiannya ke Surabaya melalui pesan singkat.


Selama berada di pesawat, Nayra sibuk menerka-nerka perintah apa lagi yang di siapkan Leon untuknya.


Begitu sampai di Surabaya, Nayra dan Jay disambut oleh seorang pria dari pihak perusahaan. Rupanya pria tersebut sudah di tugaskan untuk mengantar Nayra dan Jay selama berada di Surabaya.


Betapa terkejutnya Nayra saat mobil yang dikendarai pria tersebut, membawanya ke salah hotel milik Dimas. Sebelum melangkah keluar, pria tersebut diam-diam menyerahkan sebuah botol vitamin kepada Nayra.


“Vitamin C dari Pak Leon. Beliau bilang jangan sampai ada yang tahu,” ucap pria tersebut. Kening Nayra mengerut. Tapi toh dia tetap menerimanya juga.


Sesampainya di lobi, Jay begitu kesal ketika mengetahui kalau kamarnya dan Nayra berbeda lantai. Sambil mengomel karena tak bisa memesan kamar lain, Jay mengantarkan Nayra sampai ke depan kamarnya.


Setelah memastikan kamar Nayra dalam keadaan aman, barulah Jay menuju ke kamarnya sendiri sambil berpesan agar Nayra tidak keluar kamar tanpa sepengetahuannya.


Sepeninggal Jay, Nayra langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Otaknya sudah lelah memikirkan berbagai hal. Baru saja matanya mau terpejam, tiba-tiba Nayra mendengar suara ketukan.


Nayra langsung terduduk. Saat hendak beranjak menuju pintu, dia baru sadar kalau suara ketukan itu berasal dari dalam kamarnya.


Bulu kuduk Nayra langsung berdiri. Samar-samar dia mendengar seseorang memanggil namanya.


“Nay …. gue masuk ya…” Suara tersebut terdengar semakin jelas. Nayra mengedarkan pandangannya mencari sumber suara seraya merapal doa pengusir setan. Netranya membulat ketika mendengar suara berisik dari dalam lemari.


Tubuh Nayra menegang kaku. Kakinya seakan membantu. Jantung Nayra berdegup kencang. Dia tak bisa bergerak saking takutnya. Piasnya memucat saat perlahan-lahan pintu lemarinya terbuka dari dalam.


Nayra langsung menjerit ketakutan sambil menutup matanya, “Kyaaa….. embppp….,”


Teriakan Nayra terhenti karena merasa sesuatu membungkam mulutnya. Nayra berontak dengan mata yang masih terpejam. Tapi kemudian dia merasakan hembusan angin di dekat telinganya.


“Sssttt!! Ini gue, Nay! Buka mata lo,” perintah suara tersebut.