The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
The Plan (part.2)



“Jadi, Leon masih belum hubungin lo juga?”


Nayra hanya bisa mengangguk. Dia masih syock. Sambil mengelus dadanya yang masih berdebar kencang, Nayra hanya bisa memandangi Martin yang terlihat sibuk menelpon seseorang.


Perhatian Nayra beralih ke lemari pakaiannya yang terbuka. Nayra melongokkan kepalanya. Seketika mulutnya langsung terbuka lebar.


Ternyata di dalam lemarinya terdapat sebuah pintu yang terhubung dengan kamar yang ada di sebelahnya. Nayra menolehkan kepala ke arah Martin, bermaksud meminta persetujuan untuk masuk. Tapi pria tersebut terlihat masih sibuk menelpon.


Nayra menyeringai jahil, dia memutuskan masuk tanpa menunggu Martin terlebih dulu.


Nayra menyembulkan kepalanya terlebih dahulu, dia ingin memastikan apa ada orang selain Martin di dalam kamar tersebut. Begitu mengetahui bahwa kamar tersebut kosong, Nayra berlari kecil memasukinya.


Kamar Martin memiliki interior yang hampir sama seperti kamar hotelnya. Ada balkon, sofa panjang beserta meja. Lalu lemari di depan kamar mandi.


Serta TV layar datar berukuran besar yang tergantung di depan tempat tidur. Bedanya hanyalah di ukuran tempat tidurnya. Jika kamar Nayra berkasur single, di kamar Martin berisi double bedroom.


Perhatian Nayra kemudian tertuju pada 3 buah laptop yang berjejer di atas meja. Nayra mendudukkan tubuhnya di sofa sambil memandang lekat layar laptop yang menyala.


“Wah….,” Nayra berdecak kagum. Dia tersenyum antusias. Matanya bergantian memandangi dari satu layar ke layar lainnya.


Rupanya Martin tengah mengawasi hotel melalu kamera CCTV yang terpasang di setiap koridor lantai hotel, pintu lobi hotel serta basement parkiran hotel.


Saking terpukaunya, Nayra sampai tidak menyadari kalau Martin sudah duduk di sampingnya, “Lo liat bayangan di deket pot?” Martin menunjuk sebuah pot besar di salah satu lorong koridor.


Nayra memajukan sedikit tubuhnya, matanya menyipit menyoroti arah yang ditunjuk Martin. Dia memekik kaget sekaligus memundurkan tubuhnya saat menangkap sorot mata dari balik dedaunan.


“I-itu apa?” Nayra menatap Martin takut. “Hantu?”


Martin tergelak geli. “Mana ada hantu pagi-pagi begini, Nay. Coba perhatikan lagi.”


Meski enggan, Nayra tetap menuruti perkataan Martin. Dia memajukan kembali tubuhnya, mengamati lebih tajam lagi. Dia berjengit saat sebuah bayangan kembali tertangkap netra hitamnya.


Barulah setelah beberapa menit mengamati, Nayra bisa melihat sosok yang bersembunyi di pot besar tersebut. Seorang pria mungil berkacamata hitam tampak sedang mengawasi sesuatu.


“Dia orang suruhan Leon. Namanya Mick. Menurut lo, dia kelihatan lagi ngapain?” tanya Martin.


Nayra berpikir sejenak. “Lagi nungguiin sesuatu,” jawabnya ragu. “Eh, bentar.. Ini bisa diperbesar nggak?” sekilas Nayra melihat sesuatu yang mengganjal.


Martin mengangguk. Mata Nayra memandang jeli gambar di layar laptop. Tak berselang lama, dia akhirnya menemukan kejanggalan tersebut.


“Dia lagi ngawasin kamar gue.” Nayra mendesis takut. Dia memandang Martin, “bener kan?”


Martin mengangguk. “Yup. Dan lo tahu, di depan kamar lo ada kamar siapa?”


Tanpa pikir panjang Nayra langsung menjawab, “Dimas,” gumamnya pelan.


Martin menjentikkan jarinya. “Bingo! Pinter juga lo, Nay!”


Nayra hanya tersenyum simpul menanggapi gurauan Martin sambil tak melepaskan pandangannya dari layar laptop. Matanya awas memperhatikan orang suruhan Leon yang masih bersembunyi di antara pot besar.


Seketika, pikirannya langsung tertuju pada vitamin yang diberikan supir suruhan Leon.


Apa itu benar vitamin C ya? Kayaknya aneh.


“Lo lagi mikirin apa Nay?” Martin langsung melempar pertanyaan begitu menyadari perubahan raut muka Nayra.


Nayra tergagap. Wanita cantik itu dengan cepat menyembunyikan kekhawatirannya di balik senyum lebarnya. “Nggak mikir apa-apa.”


Alis Martin mengerut. Jelas sekali kalau dia tidak mempercayai perkataannya. Meski baru bertemu beberapa kali, Nayra bisa menebak kalau Martin memiliki intuisi yang tajam dan cerdas.


Pria itu pasti bisa melihat kejanggalan dari tingkah lakunya. Karena itulah Nayra bergegas pamit kembali ke kamarnya.


Martin hanya menganggukkan kepalanya sementara matanya menatap lekat punggung Nayra yang perlahan menghilang di balik pintu.


******


Sambil bergelung dari balik selimutnya, tangan Nayra meraba-raba nakas mencari ponselnya yang berdering. Matanya langsung terbuka begitu melihat nama Leon terpampang di layar.


“Jangan gugup begitu dong, Nay. Aku knggak akan memakanmu,” kekeh Leon geli.


Nayra bergidik. Suara tawa Leon terdengar mengerikan. Leon pasti sedang menyeringai jahat di seberang sana.


“Ada perlu apa menelponku?” tanya Nayra. Sejurus kemudian dia baru tersadar kalau Martin bisa saja bisa mendengar percakapan mereka. Sambil mengendap-endap, Nayra berjalan menuju kamar mandi.


“Kamu lagi di kamar mandi?” tanya Leon saat mendengar suara pancuran shower. Dia menggerutu kesal. “Kenapa dijawab teleponnya kalau sedang mandi?! Aku hubungi lagi nanti.”


“Eh, jangan!!” Sadar responnya mencurigakan, Nayra buru-buru melanjutkannya. “Aku belum mandi kok, baru mengisi bathub.”


Leon terdiam beberapa menit. Jantung Nayra berdebar kencang sementara napanya tercekat cemas. Dia baru bisa bernapas lega setelah mendengar suara Leon di seberang sana.


“Tadi supir suruhanku memberikanmu sesuatu kan?” tanya Leon memastikan.


“Iya. Katanya itu vitamin C.”


“Dimana vitaminnya sekarang?”


“Ada di tas. Kenapa? Itu beneran vitamin C?”


Leon tertawa kencang begitu mendengar pertanyaan polos Nayra. “Menurutmu?” tanyanya balik di sela-sela tawanya.


Nayra hanya diam. “A-apa itu racun?” lirihnya pelan.


“Bukan.” Jawaban pendek Leon melegakan perasaan Nayra. Tapi kalimat Leon selanjutnya membuat matanya melotot. “Itu obat tidur.”


“Obat tidur? Buat apa kamu kasih aku obat tidur?” Sedetik kemudian Nayra menyadari sesuatu. “Please, jangan suruh aku buat mencelakai Dimas.”


Leon tertawa sinis di seberang sana. “Bodoh! Siapa juga yang menyuruhmu mencelakai Dimas?! Itu untukmu, Nay.”


“Buat aku? Maksudnya?”


Nayra mengenggam kencang pinggiran bathub saking takutnya mendengar tawa Leon. Pria itu sudah meninggalkan trauma buruk bagi Nayra meskipun hanya terdengar suaranya saja.


“Telan pil-pil itu. Lalu hubungin Dimas. Pastikan dia masuk ke kamarmu.” Perintah Leon.


“Gila! Kamu menyuruhku mati?!” Tanpa sadar Nayra memekik kencang sembari berdiri.


“Kamu nggak akan mati. Dosisnya ringan,” sanggah Leon. Dia menjeda kalimatnya sejenak. “Yah, kecuali kamu punya cara lain untuk membuat Dimas bisa masuk ke kamarmu.”


“Buat apa Dimas masuk ke kamarku?”


BRAK.


Terdengar suara benturan di seberang sana.


“Turuti saja perintahku!!!” Suara Leon menggelegar marah.


Nayra refleks berjengit. Menjauhkan ponsel dari telinganya. Jantungnya memompa kencang. Badannya bergetar saking takutnya mendengar bentakan Leon.


“I-iya…,” Nayra terbata-bata sambil terisak.


“Bagus. Camkan baik-baik, keselamatan Marsya ada di tanganmu. Jangan gagal lagi. Kuberi waktu sampai besok pagi!” Ancam Leon sebelum menutup panggilannya.


Nayra menarik napas panjang. Pelan-pelan dia mengendurkan pegangannya di bathub. Netranya menatap kosong kuku-kuku jarinya yang terluka.


Nayra beringsut bangkit keluar dari kamar mandi. Dia lalu mengambil botol obat tidur dari dalam tasnya. Memandang lekat botol tersebut seraya memikirkan rencananya.


Nayra dilema. Meski Dimas sudah menjamin keselamatan kakakknya, namun Nayra masih ragu. Dia yang paling tahu seperti apa kepintaran seorang Leon.


Mungkin saja saat ini Leon sudah mengetahui tentang bodyguard suruhan Dimas. Nyawa kakaknya ada di tangannya. Apa dia harus mempercayai Dimas atau menuruti perintah Leon seperti sebelumnya?


Setelah berpikir cukup lama, Nayra menghembuskan napas panjang. Dia sudah mengambil keputusan.


Semoga ini keputusan yang benar, Tuhan.