
Suasana semakin panas dengan kehadiran Leon di antara mereka berlima.
Gina yang sejak dulu tak pernah menyukai Leon, menunjukkannya secara terang-terangan. Dia selalu berkomentar pedas, tiap kali Leon berbicara.
Begitu juga dengan Dimas. Pria itu dibuat jengkel karena Leon selalu berusaha mendekati Selena. Terlebih lagi, saat ini Leon sedang membahas sesuatu hal yang hanya diketahui oleh dia dan Selena saja.
“Argo semakin gemuk. Sepertinya aku harus membuat program diet untuknya.” Keluh Leon tiba-tiba.
“Oh ya? Mana coba aku lihat………Hahahaha...Dia jadi mirip gumpalan benang ya?" Selena tertawa melihat foto Argo yang tengah tiduran di ponsel Leon.
“Argo siapa, Sugar?” tanya Dimas yang ikut-ikutan mengintip. “Kamu suka kucing? Apa perlu kita pelihara juga di rumah?”
Belum sempat Selena menjawab, Gina yang ingin segera mengusir Leon mendadak mendapat sebuah ide.
“Bentar..bentar. Tadi kayaknya gue denger sesuatu yang aneh deh,” Gina menyeringai jahil, menatap Dimas dan Selena bergantian. “Sugar? Who?”
“Emm….,” Selena tersenyum kikuk. Ia mengalihkan pandangannya seraya menyentuh tengkuknya.
“Sugar itu Selena.” Seolah mendapat kesempatan, Dimas secara tiba-tiba merangkulkan tangannya di pinggang Selena sambil menariknya mendekat hingga tak menyisakan jarak di antara mereka berdua.
“What?! Seriously? Kalian berdua punya nama panggilan masing-masing?! Terus kalau lo manggil dia apa, Sel?” tanya Gina dengan rasa penasaran dan ekspresi berlebihan.
Selena semakin salah tingkah. “Gue nggak pernah bikin. Itu……”
“Kamu malu ya? Takut ketahuan?” Potong Dimas, nyengir. “Yaudah deh. Cukup kita berdua aja yang tahu ya?” seloroh Dimas sambil tertawa.
Selena menggerutu sebal sambil memukul lengan Dimas. “Nggak usah aneh-aneh deh!”
Dimas tertawa senang melihat ekspresi malu-malu Selena.
Diam-diam Gina melirik ke arah Leon. Pria berparas Eropa itu kentara sekali dipaksakan tertawa dengan muka masamnya.
Gina menyeringai senang. Idenya hampir berhasil. Sekarang tinggal mengusir Leon menjauh dari Selena.
“Ngomong-ngomong, kita nggak mau duduk ya? Sayang banget kalau nggak nyobain dessert disini.” Celetuk Gina.
Dia mengedarkan pandangannya diikuti Selena. “Yuk, Sel. Temenin gue makan. Biar para lelaki saling bercakap.”
Gina menggamit lengan Selena. Namun kemudian ia teringat sesuatu. Karena terlalu fokus memikirkan Leon, Gina sampai lupa dengan keberadaan Nayra. Gina mengernyit heran melihat raut muram Nayra.
“Kamu sakit, Nay?”
Nayra menggeleng. “Saya baik-baik saja. Emm..maaf Bu, saya mau kembali ke meja saya saja. Permisi.” Ucap Nayra sambil menunduk sopan di hadapan Gina.
Sambil menunduk, Nayra mencuri-curi pandang ke arah Dimas. Berharap pria itu akan berusaha menahannya pergi, seperti yang dulu sering ia lakukan.
Namun nyatanya, bukan hanya membiarkannya pergi. Pria itu bahkan tak meliriknya sama sekali.
Nayra tersenyum getir. Perkataan Dimas tentang mengakhiri hubungan mereka dan segala omong kosongnya tentang cinta ternyata benar-benar dilakukannya.
Tangan Nayra terkepal erat, menahan buncahan kecemburuan melihat tatapan cinta di mata Dimas untuk Selena.
Tak lama kemudian, dari kejauhan dia memperhatikan Dimas yang mulai berjalan meninggalkan mejanya. Tangan Nayra langsung bergerak lincah di atas gawai putihnya. Sejurus kemudian Nayra mengulum senyumnya, bangkit berdiri dan bergegas pergi.
****
“Sugar, aku kesana sebentar ya.”
Selena mengikuti arah pandangan Dimas sekilas dan menggeleng.
Sudah jelas jika obrolan mereka pasti tak akan jauh dari putaran bisnis dan hal-hal berat lainnya. Selena sudah di buat stress dengan pekerjaannya. Buat apa juga ia menambah beban pikirannya lagi dengan sesuatu yang bukan ranahnya?
“Yasudah. Aku tinggal dulu sebentar,ya.” Pamit Dimas sambil berdiri.
Tiba-tiba Dimas melepaskan jas hitamnya dan menyampirkan ke pundak Selena. “Pakai ini. Aku nggak mau kalau kamu sampai masuk angin.”
Sebelum Selena sempat menjawab, Dimas sudah keburu memakaikannya. Jantung Selena seakan melompat keluar mendapat perlakuan seperti ini.
Gina yang duduk semeja dengan mereka, menatap iri pemandangan romantis di hadapannya. Ia melirik Martin sebal. Pacarnya itu malah terlihat asyik menekuri puding dessertnya.
Ya, Tuhan kenapa pasangan gue berbeda sih?! Kalo nggak cinta, udah aku loakin kamu dari dulu, Yank!
“Tolong jagain Selena ya.” Pinta Dimas sambil menatap Gina dan Martin. “Terutama dari makhluk satu itu.”
Tanpa menyebutkan namanya, Gina dan Martin sudah tahu makhluk mana yang dimaksud Dimas. Mereka berdua hanya tertawa mengiyakan.
“Kayaknya Dimas bener-bener tulus sama lo, Sel. Syukur deh. Gue seneng liatnya.” Ujar Gina tulus yang diangguki Selena malu-malu.
****
Seorang wanita terduduk di lantai tangga darurat sambil terisak. Tak dihiraukannya rambut cokelatnya yang tergerai berantakan maupun riasannya yang mulai luntur.
“Apa aku udah nggak ada artinya lagi buat kamu, Dim?!” tanya Nayra di sela-sela tangisnya.
Di depannya ada Dimas yang berdiri dengan perasaan bersalah. Dia merasa terluka melihat bulir airmata di pipi Nayra. Jika tak ingat dengan janjinya kepada Selena, mungkin saat ini Dimas sudah menghampiri Nayra dan memeluknya.
Dimas mengepalkan tangannya erat, berusaha menahan keinginannya.
“Maaf. Aku sudah berusaha, tapi….”
“Tapi apa?!” Potong Nayra kesal. Dia berdiri, berjalan mendekati Dimas yang refleks mundur hingga membentur dinding.
“Apa selama 2 tahun, sama sekali nggak ada cinta di hati kamu? Lalu ciuman dan pelukan yang kamu kasih ke aku itu apa kalau bukan cinta?!”
Dimas terdiam.
“Jawab aku, bren*sek!” Nayra yang kesal, memukul-mukul dada bidang Dimas sambil menangis kencang.
“Nay, hentikan! Nanti orang-orang bisa mendengar kita!” Dimas mencengkram erat kedua tangan Nayra hingga wanita itu terkejut dan mendongak.
“Aku udah jelasin kan? Aku sayang sama kamu, Nay. Tapi itu bukan cinta. Itu….eumphh….”
Nayra mendaratkan bibirnya ke bibir Dimas sebelum pria itu sempat menyelesaikan kalimatnya.
“Kalian ngapain?!” suara seorang wanita mengagetkan Dimas dan Nayra.
Dimas yang terkejut, refleks mendorong Nayra menjauh. Mereka berdua menoleh ke sumber suara itu dan terkejut mendapati Selena sudah berdiri sambil menyilangkan tangannya di dada. Selena memandangi Dimas dan Nayra sekilas lalu membalikkan badannya.
“Selesaikan urusanmu, Dim. Lalu cepat keluar dan temui kolegamu. Sejak tadi mereka semua mencarimu!” Perintah Selena dari balik bahunya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, dia langsung pergi tanpa menghiraukan seruan Dimas yang memanggilnya.
“Selena!!”