
"Gantengnya anak Mama.”
Selena menyilangkan tangan di dada sambil bersandar di pintu. Tersenyum melihat Sky bercermin sambil merapikan jas putihnya. Tapi kemudian dia terkejut saat Sky tiba-tiba menyemprotkan mousse di telapak tangannya lalu menaruhnya di atas kepala dan mulai menata rambutnya.
“Mousse punya siapa, Kak?” Selena mengambil botol mousse tersebut. Belum sempat Sky menjawab, Selena kembali bertanya, “ini bukannya punya Papa?”
Sky mengangguk. “Memang punya Papa. Papa yang kasih,” jawab Sky sambil menyisir rambutnya, membentuk poninya lalu merapikan bagian belakangnya. “Biar ganteng kata Papa.”
Selena tergelak menahan tawa lalu beranjak duduk di tepi kasur. Matanya awas memperhatikan Sky yang sekarang tengah menyemprotkan parfum di leher dan pergelangan tangan.
Dia menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan tingkah putranya yang baru menginjak usia 4 tahun. Cara Sky merias diri sama persis seperti yang biasa Dimas lakukan.
Kamu kasih contoh anakmu apa lagi sih, Bi?
“Selesai.” Sky tersenyum puas seraya membalikkan badannya, menghadap Selena. Menaruh kedua tangannya di saku celana. “Aku udah rapi kan Ma?”
Selena menggeleng. Dia lalu bangkit dan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sky. “Dasinya miring, Kak.” Selena merapikan dasi pink yang membelit di kerah kemeja Sky. “Nah begini baru namanya rapi.”
Saat Selena hendak berdiri, tiba-tiba Sky memeluknya. “I love you, Ma,” ucapnya sambil mendaratkan ciuman di pipi Selena.
“I love you more, Kak.”
Dimas yang sedari tadi juga berdiri di ambang pintu, langsung melayangkan protes. “Sama Papa enggak ‘I love you’ nih?”
Sky tertawa menampilkan deretan gigi susunya yang putih. “I love you, Papa.”
Dimas sumringah, membungkukkan badan bersiap untuk menggendong Sky. Tapi putra kecilnya itu menolak dengan tegas.
“No! Nanti jas aku kusut.” Tolaknya. “I’m not kids anymore, Papa.”
Selesai berucap begitu, Sky pun melenggang pergi. Berjalan santai sambil menaruh kedua tangannya di saku celana. Saat menyadari orang tuanya tidak juga bergeming, dia lantas membalikkan badannya.
“Ayo. Ma. Pa. Nanti kita telat. Onti Nayra pasti udah nungguin,” kata Sky sambil berjalan keluar.
Dimas tergelak menahan tawa melihat tingkah putranya yang bertingkah seperti orang dewasa. Sementara Selena menyikut lengan Dimas.
“See? Makanya aku enggak suka kalau kamu ngajakin dia ke kantor. Dia bisa jadi dewasa sebelum waktunya, Bi!” bisik Selena.
Dimas tertawa, “tapi itu kemauan Sky, Sugar. Dia sendiri yang ngotot mau ikut aku ke kantor.”
“Tapi kan bisa kamu tolak. Alasan apa kek, kamu mau meeting seharian atau urusan proyek. Bisa kok alasan gitu. Jangan ‘iya-iyain aja. Aku tuh mau Sky lari-larian di taman bermain bukannya di kantor.”
Melihat kilatan amukan di mata Selena, Dimas pun akhirnya mengangguk, menyudahi perdebatan kecil mereka. Karena kalau diteruskan bisa-bisa malam ini Dimas kehilangan hak teritori kasur. Dan pindah tidur ke sofa.
“Aku janji deh, besok-besok kalau Sky mau ikut ke kantor, aku bikin alasan meeting di luar. Atau paling enggak, ijin kamu dulu deh. Gimana?” Dimas merangkulkan tangannya di pinggang Selena, menatap dalam wanita yang dicintainya.
Selena diam. Beradu netra dengan Dimas. “Hemm..” angguknya setuju.
Dimas tersenyum sambil mengusap lembut bibir Selena. Mengunci manik cokelat Selena dan perlahan memajukan wajahnya mendekat.
Debaran jantung keduanya terdengar, memompa gairah andrenalin. Selena menutup matanya bersiap untuk menerima kecupan cinta dari suaminya.
“Ehemm…ehemm…”
Belum sempat penyatuan bibir terjadi, Raymond mendadak muncul mengagetkan keduanya. Selena dan Dimas refleks melepaskan diri. Tertawa canggung sambil melirik Raymond.
Adik laki-laki Selena itu melempar pandangan kesal melihat keduanya masih berada di kamar, padahal dia sudah cukup lama menunggu mereka di lobby.
Selena tersipu malu, menyembunyikan wajah merahnya di balik punggung Dimas. Sementara Dimas hanya cengar-cengir melihat lekukan cemberut di bibir adik iparnya.
********************************
Nayra berdiri menatap tampilannya di cermin. Memutar-mutar badannya mencari-cari noda di gaunnya.
Tapi tak ada noda atau pun kotoran di gaun putih tersebut. Bukannya lega, Nayra malah semakin gelisah.
Perhatiannya sekarang mengarah pada tiara kecil yang tersemat di atas kepalanya. Memeriksa dengan teliti barang kali ada berlian yang hilang atau terlepas. Tapi hasilnya sama seperti gaunnya, tidak ada cela di tiara kecilnya.
Nayra memeriksa penampilannya sekali lagi dan akhirnya menyerah. Tidak ada satu kesalahan pun di dirinya saat ini. Tapi kenapa dia terus merasa gelisah?
Perutnya melilit, jantungnya berdegup kencang sementara tangan dan kakinya gemetar.
Ah.. Sepertinya Nayra mengerti kenapa dirinya merasa segelisah ini. Mungkin karena beberapa menit lagi, pernikahannya akan dimulai dan dia akan segera menyandang status istri – sekali lagi.
Ya, ini bukan pernikahan pertama Nayra. Tapi ini pertama kalinya dia menikah dengan perayaan seperti ini.
Pernikahan pertamanya jauh dari kata mewah. Hanya catatan sipil. Itu pun tidak dihadiri oleh satu orang pun anggota keluarga suaminya. Mereka menolak mentah-mentah karena status Nayra hanyalah seorang anak yatim piatu miskin. Mereka bahkan tak segan mengultimatum, meminta suaminya untuk memilih keluarga atau dirinya.
Nayra bahagia ketika akhirnya pria itu lebih memilih dirinya. Tak ambil pusing jika keluarga suaminya tak merestui atau mencemoohnya. Berbekal tekad kuat, Nayra dan suaminya pun nekat merantau ke Jakarta.
Yah… kalau diingat lagi, betapa naif dirinya dulu. Berpikir kalau cinta mampu mengalahkan semuanya.
Nyatanya kehidupan rumah tangganya kemudian berantakan. Suaminya menyerah dengan kemiskinan dan memilih menceraikannya. Meninggalkan Nayra begitu saja di ibu kota. Belakangan Nayra tahu kalau mantan suaminya akhirnya dinikahkan dengan seorang wanita dari kalangan berada.
“Nay, are you okay?” Megan menyentuh pundak Nayra, menyadarkan wanita itu kembali ke alam nyata.
Nayra mengangguk, mengulum senyum kecil. “Yeah, maybe?”
“Loh, kenapa? Ada yang lo pikirin?” tanya Megan terkejut.
Nayra menceritakan keresahannya. Megan mendengarkan dengan seksama. Sesekali dia menggoda Nayra, mengingatkannya agar tidak merusak make-upnya. Megan baru mengeluarkan pendapatnya begitu Nayra selesai bicara.
“Gue paham kalau elo masih punya sedikit trauma. But, please.. forget the past. Lihat sekarang ke depan. Enggak ada yang harus lo risauin lagi.
Keluarga Alvino nerima lo dengan tangan terbuka. Dan Alvino bucin banget sama elo. Even seandainya.. amit-amit dia sampai ninggalin elo.. Kan elo bisa minta harta gono- gini.. Hahaha..." Megan tertawa namun segera menutup mulutnya setelah Nayra menatapnya muram.
"Yah, pokoknya gue yakin 100%, dia enggak akan pernah ninggalin lo. Malah kayaknya gue yang bakalan susah buat ketemu elo lagi. Kemarin aja, gue ngajakin lo nongkrong doang, udah dipantengin sama dia… Ish..”
Megan cemberut, menahan kesal teringat kejadian beberapa hari lalu. Sementara raut wajah Nayra kembali cerah mendengar penuturan sahabatnya.
“Dia masih trauma. Takut elo nyulik gue lagi ke klub,” sahut Nayra.
Megan mendengus. “Halah.. alesan.”
Nayra tertawa. Memeluk sahabat seperjuangannya saat masih bekerja sebagai SPG. Pelukan keduanya terurai kala sahabat-sahabat Nayra lainnya datang dan menggerutu karena Nayra juga belum beranjak keluar.
“Haduh.. tangis-tanggisannya entar aja. Buruan…..acaranya mau mulai tahu,” Thatia membereskan tudung Nayra. Sementara Ellin merapikan gaun Nayra.
Nayra menarik napas panjang. Menggengam erat buket bunga di tangannya. Menatap pasti para sahabatnya.
“Oke. Gue siap..”