The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kecurigaan Aleron



Sepanjang hari ini, Leon berbinar senang. Raut wajahnya yang biasanya galak mendadak berubah menjadi lembut.


Perubahan ini membuat semua staff SpyroGames keheranan. Apa lagi saat Leon terlihat keluar dari kantornya sebelum jam 12 siang. Hal yang tak pernah dilakukan Leon sebelumnya.


Rumor mulai menyebar. Mereka menduga kalau Bosnya itu memiliki kekasih. Dan dia pasti akan pergi keluar untuk makan siang dengan kekasihnya.


Rumor itu tak sepenuhnya salah, karena Leon memang pergi makan siang dengan seorang wanita. Namun sayangnya wanita itu bukanlah kekasihnya, melainkan tetangga apartementnya - Selena.


“Lama menunggu ya?” Selena bertanya pelan sambil mendudukkan tubuhnya ke kursi.


Leon menggeleng. “Tidak kok. Aku juga baru sampai. Kamu mau makan apa?” Tawarnya seraya menyerahkan buku menu.


Selena melihat lembaran-lembaran halaman berisi puluhan menu. “Hmm… apa rekomendasi menu di restoran ini?”


“Steak wagyu. Atau spaghetti cream bruleenya juga enak.” Sahut Leon.


Selena menutup buku menu. Menatap lembut Leon. “Steak wagyu dan sparkling water. Itu pesananku. Kalau kamu?”


“Aku juga pesan yang sama.” Leon tersenyum menatap Selena lalu mengalihkan pandangannya ke seorang waiter yang sejak tadi berdiri di dekat mereka. “Tolong dua steak wagyu dan 2 sparkling water.”


“Baik. Mohon ditunggu.” Waiter itu mengambil buku menu dari Selena dan Leon dan bergegas pergi.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Selena tersenyum canggung karena Leon memandangnya tak berkedip.


Leon tersentak kaget. Buru-buru mengalihkan pandangannya sambil berdehem. “Maaf. Habis kamu terlalu cantik.” Gumam Leon.


“Ha? Kamu bilang sesuatu?” Selena memiringkan sedikit kepalanya, menatap bingung Leon.


Leon mengibas-kibaskan tangannya ke udara. “Tidak..tidak.. aku tidak bilang apa-apa.”


Kecanggungan keduanya langsung luntur saat pesanan mereka datang. Sambil makan, mereka mulai mengobrol banyak hal. Mereka bahkan sampai lupa kalau jam makan siang akan segera berakhir.


“Aku antar ya.” Tawar Leon saat mereka keluar dari restoran.


Selena menggeleng. “Nggak usah. Tuh, pesanan mobilku datang.” Selena menunjuk sebuah mobil putih berkaca gelap. “Terima kasih untuk makan siangnya. Aku duluan ya, Leon.” Pamitnya sambil berjalan menghampiri taxi onlinenya.


“Selena!” Leon mengejar Selena, membuat wanita itu kaget dan langsung menutup pintu mobilnya.


“Ya, ada apa?”


“Emm… apa…malam ini.. kamu…” Leon menggaruk-garuk tengkuknya. “Kamu pulang ke apartemen?”


Selena mengangguk. “Iya. Kenapa memangnya?”


Senyuman lebar menghiasi paras tampan Leon. Tapi pria itu buru-buru memasang ekspresi datar. “Bukan apa-apa. Yasudah, hati-hati di jalan,Sel.”


Selena tersenyum lalu bergegas masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan restoran.


****


Malamnya sepulang bekerja, Selena dikejutkan dengan kedatangan Leon di unitnya sambil membawa sepiring lasagna hangat.


“Aku baru membuatnya. Karena kupikir, kamu pasti belum makan malam.” Ujar Leon.


Selena tertawa kecil, “bagaimana kamu bisa tahu? Ah, tapi tempatku sedang berantakan.” Keluh Selena seraya menutup pintu unit apartementnya. “Aku makan di tempatmu saja ya?”


“As you wish.” Timpal Leon seraya membuka lebar pintu apartementnya. Dia membungkukkan sedikit badannya sambil menyorongkan tangannya ke depan.


“Silahkan masuk, Nona Selena.”


“Nona? Hei, aku sudah menikah!” Selena memamerkan cincin berlian putih di jemari tangannya.


Leon tertawa, mengedipkan satu matanya. “Tapi kamu lebih pantas dipanggil Nona ketimbang Nyonya.” Sahutnya enteng.


“Yah..tapi cintaku sekarang bertepuk sebelah tangan.” Leon berucap sedih seraya mengambilkan sepotong lasagna dan menaruhnya di hadapan Selena.


“Bertepuk sebelah tangan? Dengan siapa? Apa aku mengenalnya?” tanya Selena antusias.


“Kamu mengenalnya…sangat mengenalnya.” Jawab Leon bermisterius.


Selena menyuap sesendok lasagna seraya menatap bingung ke arah Leon. “Aku..mengenalnya? Siapa?”


Leon tertawa, “sudah, lupakan. Lebih baik kita…..”


Ucapan Leon terputus karena suara deringan ponselnya. Manik abu-abunya langsung mendelik begitu melihat nama penelponnya.


“Nggak mau diangkat? Aku bisa pergi kalau menganggu.” Sahut Selena.


“Oh..jangan. Tunggu disini. Aku terima telepon ini dulu.” Leon segera beranjak masuk ke kamarnya, meninggalkan Selena yang menatapnya curiga.


Beberapa menit kemudian, Leon keluar dari dalam kamarnya dan kembali duduk di samping Selena yang sudah selesai menyantap lasagnanya.


“Mau tambah lagi?” Tawar Leon.


Selena menggeleng, mengecek layar ponselnya. “Sudah malam. Aku pamit dulu.” Ucap Selena seraya beranjak berdiri.


Leon terlihat kecewa. Pria itu kelihatan enggan mengantar Selena keluar. “Besok pagi, kita berangkat kerja bareng ya?” Harapnya.


Selena mengangguk sambil mengulas senyum. “Terimakasih untuk makan malamnya.” Ujar Selena seraya masuk ke unit apartementnya.


Leon tersenyum lebar. Dia melirik ke arah pintu Selena yang sudah tertutup rapat. Senyumnya mengembang membayangkan besok harinya yang cerah.


****


“Bisa tolong jelaskan apa maksud kedekatanmu dengan cucuku?” tanya Aleron tiba-tiba.


Selena mengedikkan bahunya. “Apa yang harus dijelaskan?”


“Baru kemarin kamu menolak cucuku dan sekarang kalian malah akrab bersama.” Ujar Aleron ketus.


Selena memutar bola matanya jengah. Untung saja percakapan ini dilakukan via telepon. Jika saja mereka bertatap muka sekarang, Aleron pasti bisa melihat raut jijik di wajah Selena.


“Aku dan Leon hanya berteman. Kami 'kan tetangga apartement.” Sahut Selena enteng.


Aleron terdiam gusar. Sudah beberapa hari ini, mata-mata suruhannya memberikan kabar soal kedekatan Selena dengan cucunya.


“Kalian hanya berteman? Kamu tak punya maksud lain, bukan?” tanya Aleron cemas.


“Maksud lain yang bagaimana? Memangnya cucumu sudah melakukan apa sampai Anda ketakutan seperti ini?” Selena balik bertanya.


“Tidak ada. Leon tidak melakukan apa-apa!” Sahut Aleron cepat. “Aku tutup teleponnya. Tolong anggap, aku tak pernah menelponmu. Selamat siang.”


Selena mendecih, menatap layar ponselnya yang mati. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala dan kembali memfokuskan pikirannya ke tumpukan pekerjannya.


Siang harinya, Selena terpaksa mencancel jadwal makan siangnya dengan Leon.


Deadline pekerjaannya tak memungkinkannya keluar walau hanya sekedar untuk bersantap siang.


Walau terdengar kecewa, tapi nyatanya pria berparas Eropa itu tetap saja melakukan sesuatu yang mengejutkan Selena. Mereka memang tidak jadi makan siang bersama, tapi sebagai gantinya pria itu mengirimkan sejumlah makanan ke kantor Selena.


“Wah, suami Ibu memang the best!” Niko dan anggota team Selena lainnya, mengacungkan jempolnya masing-masing, menatap tumpukan makanan di ruang rapat mereka.


Selena hanya terdiam. Menatap enggan makanan yang sebenarnya menggoda imannya. Sebagai gantinya, dia malah melengos membiarkan anggota teamnya menghabiskan semua makanan di atas meja.


Sementara Selena beranjak masuk ke ruangannya, menutup jendela ruangannya dan mulai menyantap sekotak bekal makanan yang sejak tadi pagi dibawanya.