
Alvino berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit sembari memijat-mijat tengkuknya yang pegal.
Hari ini dia sedikit kewalahan memeriksa pasiennya. Ditambah pula dengan kegiatannya yang harus melakukan kontrol keliling untuk para pasien rawat inap.
Bruk..
Karena terlalu fokus memijat, dia tak melihat ada seseorang yang juga hendak berbelok. Akibatnya tabrakan antara keduanya pun terjadi.
“Maaf..maaf... Anda baik-baik saja?” Alvino berusaha membantu orang itu berdiri.
Tapi orang tersebut tak menjawabnya dan hanya membetulkan topi hitamnya yang miring. Alvino memperhatikan orang tersebut dengan seksama.
Mengenakan jaket tebal berwarna merah, kacamata hitam, masker abu-abu dan topi hitam, penampilan orang tersebut sangat mencolok. Terlebih lagi saat ini cuaca Jakarta sangat panas sehingga tampilannya mengundang perhatian sebagian pengunjung yang melintas.
Menyadari tatapan mata yang diarahkan padanya, tanpa mengucapkan sepatah kalimat apapun, orang itu pergi berlalu begitu saja.
Alvino memiringkan kepalanya. Manik hitamnya terus saja memperhatikan punggung orang tersebut yang sudah jauh melangkah. Dia merasa seperti pernah melihat orang itu sebelumnya.
Dari perawakannya yang langsing dan pergelangan tangannya yang kecil, ia bisa menyimpulkan kalau orang tersebut adalah seorang wanita.
“Ah!” Alvino tersentak kaget saat menyadari siapa sosok orang tersebut.
“Nayra. Benar itu dia! Tapi ada urusan apa dia kesini? Apa dia datang lagi untuk konseling? Aih, apa urusanku!” gumam Alvino pelan sambil terus berjalan menuju ruang prakteknya.
Alvino baru selesai menuntaskan pekerjaannya pukul 4 sore. Seperti biasa, dia menuju area basement parkiran, tempatnya menaruh mobil kesayangannya.
Tapi dari kejauhan, dia sudah merasakan hal yang aneh. Dia melihat ada beberapa orang-orang yang sudah berdiri tak jauh dari pintu keluar basement.
Dia memicingkan matanya. Gerak-gerik mereka terlihat mencurigakan. Ada yang sedang memainkan ponselnya, ada yang sedang bersandar di pilar sembari membolak-balik halaman koran. Bahkan ada pula yang terlihat sibuk mengelap kap mobilnya.
Tapi diam-diam mata mereka semua mengarah pada pintu keluar. Seolah-seolah seperti menunggu sesuatu.
Akhirnya, Alvino mengerti apa yang sedang terjadi. Orang bertopi yang tadi ditabraknya – Nayra, sedang berjongkok -- bersembunyi diantara pot-pot besar yang tertata di sepanjang koridor.
Dia terlihat mengintip dari celah daun-daun besar yang seukuran lebih lebar dari wajahnya. Nayra tampak gelisah dan bergumam-gumam sendirian. Dia bahkan tak menyadari keberadaan Alvino yang kini berjarak beberapa langkah darinya.
“Halo. Pak Husen? Tolong ke parkiran basement sekarang. Ada orang-orang yang terlihat mencurigakan disini,” suara Alvino yang sedang menelpon, mengagetkan Nayra.
Dia mendongakkan kepalanya dan mendapati Alvino sedang menatap lurus ke arah pintu keluar.
“Saya akan membantu Anda keluar dari sini. Begitu Anda melihat mobil berwarna putih yang berhenti di depan, segera masuk ke dalamnya. Terus tundukkan kepala Anda sampai kita keluar dari sini,” ucap Alvino panjang lebar sambil terus menatap lurus keluar.
Nayra mengernyit bingung melihat Alvino yang berbicara sendirian. Tapi kemudian dia menyadari kalau kalimat Alvino ditujukan untuknya.
Dengan berbisik, Nayra segera berkata. “Saya mengerti.”
Alvino tersenyum sambil tak melepaskan pandangannya ke arah Pak Husen yang kini terlihat bertanya ke orang-orang yang dimaksud oleh Alvino.
Setelah dirasa tepat, Alvino bergegas keluar menuju mobilnya. Saat dia melihat Pak Husen dan beberapa sekuriti lainnya sedang berdebat dengan orang-orang tersebut, barulah Alvino mengemudikan mobilnya dan berhenti tepat di depan pintu keluar.
Sedetik kemudian, Nayra sudah berjongkok hampir menempel di dasar mobilnya. Alvino pun langsung menekan pedal gasnya dan melesat pergi meninggalkan area basement.
“Saya harus mengantar Anda kemana?” tanya Alvino setelah dirasa sudah cukup aman.
Alvino mangut-mangut seraya menaikkan jempolnya ke belakang, pertanda bahwa dia mengerti apa yang Nayra ucapkan.
“Tapi ngomong-ngomong, saya pikir Anda sudah bisa duduk dengan tenang. Punggung Anda akan sakit kalau terus-terusan di posisi seperti itu.”
Nayra tidak menjawab dan tetap menempel di dasar mobil. Barulah sekitar 15 menit kemudian , dia mengubah posisinya menjadi duduk di kursi tengah.
“Terimakasih sudah mau menolong saya," ujar Nayra.
"Yap. Sama-sama," balas Alvino tanpa menoleh ke belakang.
Sambil melemaskan otot-ototnya yang pegal, Nayra diam-diam memperhatikan pria yang duduk di depannya. Dia kemudian menyadari sesuatu yang membuatnya sedikit ketakutan.
“Kenapa.... Anda mau menolong saya?” tanyanya dengan rasa curiga dan takut.
“Hmm...,” Alvino berpikir sejenak.
Sebenarnya dia sendiri juga tidak tahu untuk apa repot-repot membantu seseorang yang tak dikenalnya. Apalagi Nayra adalah seorang selebriti terkenal yang jauh berbeda dengan dirinya.
“Rasa...kemanusiaan?” Kalimat Alvino sebenarnya adalah jawaban dari pertanyaannya sendiri. Tapi entah kenapa kalimat itu malah terucap keluar di hadapan Nayra.
Alis Nayra bertautan. Dia tak percaya begitu saja dengan jawaban yang dilontarkan Alvino.
“Itu saja? Tak ada yang lain? Seperti uang atau....”
Kalimat Nayra langsung dipotong Alvino.
“Kalau Anda ragu-ragu, saya bisa menurunkan Anda disini.” Tukas Alvino dengan nada jengkel.
Menyadari intonasi Alvino yang meninggi, Nayra buru-buru menjelaskan. “Maafkan saya. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya tidak terbiasa menerima kebaikan. Biasanya mereka semua hanya memanfaatkan reputasi saya saja.”
Raut wajah Alvino yang sempat mengeras kembali melunak, mendengar penuturan Nayra. “Ya, Anda memang tidak sepenuhnya salah,sih. Sikap waspada memang diperlukan apalagi mengingat status pekerjaan Anda. Maaf. Saya tadi sedikit emosi mendengar ucapan Anda yang terdengar seperti sedang menawarkan uang.”
Nayra tersenyum. “Tidak apa-apa. Anda berhak marah kok. Tapi ngomong-ngomong, Anda dokter yang tadi menabrak saya di lorong bukan?”
“Yep”. Alvino terkekeh geli membayangkan kembali penampilan Nayra. “Lain kali, jangan gunakan pakaian seperti tadi. Justru penampilan Anda mengundang keingintahuan pengunjung disana.”
“Mana saya tahu akan terjadi hal seperti itu!” timpal Nayra sambil mengerucutkan bibirnya.
Alvino kembali terkekeh geli sambil mengemudikan mobilnya. Sejenak Nayra merasa aneh. Padahal Alvino adalah orang yang baru dikenalnya tapi kenapa rasanya sangat nyaman berbincang dengannya?
“Nah, kita sudah sampai.” Suara Alvino membuyarkan lamunan Nayra.
Nayra terkesiap dan cepat-cepat merapikan topi dan maskernya. Tapi kemudian gerakannya terhenti saat netranya bertatapan dengan Alvino yang kini sedang memandangnya.
Barulah dia bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah pria yang menolongnya. Hatinya sedikit berdesir kala mata mereka saling bertubrukan. Tapi Nayra buru-buru menghempaskan perasaan aneh itu.
“Ngomong-ngomong, saya belum tahu nama Anda,” tanya Nayra sesaat setelah keluar dari dalam mobil.
“Alvino,” jawab Alvino sambil tersenyum.
“Baiklah. Sekali lagi, terimakasih sudah menolong saya, Dokter Alvino,” balas Nayra sambil menutup pintu mobil Alvino dan melesat masuk ke dalam apartemennya.