
“Jadi lo cuman makan. Terus ngobrol, terus udah? Dia gak ngapa-ngapain lo kan?” tanya Gina.
Kini mereka berdua sedang berada di unit apartemen Selena. Gina cukup syok melihat sahabatnya keluar dari tempat orang asing. Dan tadi, nyaris saja Gina memaki Leon jika Selena tidak segera menyeretnya masuk.
“Hah..”. Selena mendesah lalu mengangguk.
Dia sudah menjelaskan dari awal bagaimana akhirnya dia bisa berada di tempat Leon.
“Sel..”.
Gina memutar tubuh Selena hingga kini mereka berhadapan , “lo harus hati-hati. Jaman sekarang banyak cowok jahat berkedok malaikat. Jangan ketipu sama kebaikannya. Oke?”.
“Oke. Paham..paham. Lagian gue kan bukan anak kecil Gin. Gue bisa jaga diri kok”.
“Iya deh. Yaudah, pokoknya malam ini kita begadang ya. Gue udah siapin banyak film bagus”.
Karena besok hari Sabtu dan mereka berdua libur, Gina sengaja datang untuk menginap. Sekalian ia ingin mendengar cerita lengkap mengenai kelanjutan perjodohan Selena dan Dimas.
Jadilah kini mereka berdua, mengenakan piyama berwarna sama sambil merebahkan diri di sofa dan memakan cemilan popcorn -- mulai membahas soal perjodohan dan pertemuan keluarga Selena dan Dimas kemarin.
Selena menceritakan semua hal tanpa terkecuali termasuk mengenai kecelakaan masa kecilnya.
Begitu mendengarnya, raut muka Gina berubah. Dia tahu kalau Selena tidak ingat dengan masa kecilnya dan berpikir itu wajar. Tapi saat tahu penyebabnya, Gina terlihat cukup kaget dan syok. Dia tidak menyangka ada tragedi seperti itu yang menimpa sahabatnya. Gina berinisiatif memeluk Selena dan bermaksud untuk menghiburnya.
Tapi Selena hanya tertawa karena menganggap itu bukan hal yang besar. Dia malah bercanda dengan mengatakan bahwa hidupnya seperti sinetron. Amnesia dan lupa ingatan , ujarnya yang membuat Gina kesal dan langsung memukulnya.
Jam 2 malam, setelah puas tertawa dan menonton film. Rasa kantuk mulai melanda kedua sahabat tersebut. Mereka pun memutuskan untuk tidur. Setelah saling mengucapkan selamat malam, Selena dan Gina mulai memejamkan mata.
Flashback
“Haah..hah..hah...” seorang gadis kecil berlari ketakutan di tengah gelapnya malam dan lebatnya pepohonan hutan.
Dia menangis terisak sambil menutup mulutnya. Rasa perih akibat kerikil-kerikil tajam yang menyayat telapak kakinya , tak dihiraukannya. Walau masih kecil tapi dia tahu kalau dia akan mati jika hanya berdiam diri. Hanya saja sejauh apapun dia berlari , dia tidak melihat ada tanda-tanda kehidupan selain dirinya.
Dia ingin berdiri tapi ternyata kakinya terkilir. Dia pun mulai menangis kesakitan sambil memanggil-manggil mama dan papanya. Suara tangisannya terdengar memilukan bagi siapa pun yang mendengarnya.
Srek..srek..srek....suara gesekan dedaunan menghentikan tangisannya. Mata cokelatnya membulat ketakutan mencari-cari sumber suara. Tapi karena pekatnya malam , dia tidak bisa melihat dengan jelas kalau ada sepasang tangan kekar yang sedang mendekatinya.
Ketika tangan tersebut berjarak hanya 2cm , barulah gadis kecil itu tersadar. Dia menoleh ke belakang dan melihat sepasang sorot mata yang berkilat menakutkan.
“Sel...sel....bangun!” Gina menguncang-guncangkan badan Selena sambil memanggil-manggil namanya.
Selena membuka matanya. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi wajahnya. Kemudian dia bangun terduduk sambil menatap Gina yang panik.
“Lo mimpi buruk ya? Tadi lo teriak-teriak panggil nama tante,” tanya Gina cemas.
Selena tidak menjawab. Dia masih merasa ketakutan. Tangannya sampai gemetar saat menerima gelas yang disodorkan Gina. Barulah setelah minum , pernapasannya kembali normal.
“Gue manggil-manggil nama mama?” tanya Selena yang dijawab anggukkan oleh Gina.
Selena terdiam. Walaupun itu hanya mimpi tapi rasanya seperti nyata. Selena bahkan bisa merasakan sensasi ketakutan dan kesakitan dari mimpi tersebut. Tanpa sadar Selena mengusap-usap dagu dan tangannya. Selena bahkan kembali mengigil ketika teringat sorot mata menakutkan di dalam mimpinya.
“Sel..tenang..tenang..itu cuman mimpi...,” kata Gina berusaha menenangkan Selena sambil mengusap-usap punggungnya.
“Gue takut Gin.. Itu kayak nyata....,” Selena mulai terisak.
“Hussh..hushh... mimpi kok mimpi.. tenang ya....,” timpal Gina sambil menyenderkan kepala Selena di bahunya.
Cukup lama Selena bersandar di bahu Gina. Barulah setelah kembali tenang , Selena tersenyum berterimakasih. Mereka pun kembali melanjutkan tidur. Namun kali ini, tangan Selena mengenggam erat tangan Gina sambil berdoa agar mimpi buruk itu tidak kembali muncul di dalam tidurnya.
Akibat tidur terlalu malam , mereka berdua pun baru membuka mata sekitar pukul 10. Itu pun setelah deringan ponsel keduanya yang cukup keras sehingga mengagetkan mereka. Sudah jelas yang menelpon Gina adalah Martin.
Sementara Selena yang kebingungan dan masih mengantuk hampir saja membanting ponsel saking terkejutnya saat melihat nama penelponnya.
Dimas , desis Selena pelan.