The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Perjalanan Dinas (part.3)



Efek dari tidur yang terlalu larut membuat Selena , Niko dan Helen baru sarapan sekitar pukul 8 pagi.


Karena sudah tak ingin pergi lagi ke pantai , mereka bertiga memutuskan untuk menikmati fasilitas yang tersedia di hotel. Niko dan Helen memilih berenang.


Sementara Selena memilih untuk bersantai di kamar. Sambil berbaring , Selena mulai menyalakan TV.


Baru beberapa menit menonton , Selena sudah menguap karena bosan. Dia pun mengambil ponsel dari dalam tas dan mulai membaca-baca berita di internet.


Nayra Teona menunjukkan bakatnya sebagai aktris pendatang baru.


Wajah baru model Indonesia Nayra Teona sukses mengguncang Jakarta Fashion Year.


Nayra Teona , model cantik termahal tahun ini.


“Nayra Teona....wah dia benar-benar luar biasa. Hampir seluruh berita berisi tentangnya. Ckckckck...,” Selena berdecak kagum. “Mengagumkan. Wajar sih dia sangat cantik.”


Tiba-tiba mata Selena menangkap sebuah artikel yang menarik.


Foto-foto Nayra Teona dan seorang pria yang disebut-sebut sebagai kekasihnya.


Selena memperhatikan foto-foto yang tercetak di artikel tersebut dengan seksama. Karena foto-foto tersebut dipotret dari kejauhan , wajah si pria jadi tidak terlihat dengan jelas. Tapi Selena bisa melihat kalau pria itu bertubuh tinggi.


Tinggi? Jadi ingat Kak Dimas.......Ah apa sih yang gue pikirkan. Kalau Kak Dimas memang berpacaran dengan Nayra , mana mungkin dia mau dijodohin sama gue? Jangan mengkhayal yang aneh-aneh deh Selena!


Tring.


Sebuah notifikasi pesan menyadarkan Selena. Dia segera membukanya dan melihat pesannya yang ternyata dikirim oleh Leon.


Leon : Pagi Selena. Apa tidurmu nyenyak?


Selena : Ini sudah hampir siang Leon. Tapi terimakasih , Tidurku nyenyak kok.


Leon : Baguslah. Lalu hari ini ada apa kau ada rencana pergi ke suatu tempat sebelum kembali ke Jakarta?


Selena : Entahlah. Sepertinya hanya membeli oleh-oleh sebelum ke bandara.


Leon : Oh, oke.


Ha? Selena mengernyitkan kening melihat jawaban Leon. Dia memikirkan kata-kata balasan untuk Leon. Tapi karena bingung , Selena mengabaikannya dan memilih bermain game.


Sesuai dengan peraturan, sekitar pukul 11.30 siang Selena, Niko dan Helen bersiap meninggalkan hotel. Begitu sampai di lobi , Selena segera menuju meja resepsionis untuk mengurus administrasi lainnya ditemani Helen sementara Niko mengambil mobil.


Begitu urusannya selesai , Selena terkejut mendapati Leon sedang berdiri dengan santai di luar lobi. Selena yang kebingungan segera menghampiri Leon.


“Leon! Kok kamu bisa kesini? Ada perlu apa?”


“Menjemputmu,” jawab Leon asal. Tapi begitu melihat sorot mata tajam Selena , dia buru-buru menjelaskannya. “Maksudku , kita sama-sama pergi ke bandara. Aku juga akan pulang ke Jakarta hari ini.”


Selena membulatkan matanya , “bukannya kemarin kamu bilang akan ke Jakarta, lusa?”


“Iya , tadinya juga begitu. Tapi ada urusan mendesak di Jakarta. Jadi ya...aku pulang hari ini."


Selena meneliti raut muka Leon. Ketika dia yakin kalau Leon tidak bercanda , Selena kembali bertanya , “terus kenapa kesini? Bukannya langsung ke bandara?”


Tapi tiba-tiba suara klakson mobil membuyarkan pemikirannya. Selena dan Leon kompak menoleh. Ternyata si pengklakson adalah Niko. Dia menjulurkan kepalanya sambil nyengir.


“Bu Selena! Leon , ayo cepat naik. Katanya Ibu mau beli oleh-oleh dulu.”


“Saya juga?” Leon menunjuk dirinya sendiri.


Niko mengangguk , “tentu saja!”


Selena yang mendengar hal itu hendak membuka mulutnya untuk protes. Tapi itu urung dilakukan , karena Helen tiba-tiba membuka pintu mobil lebar-lebar. Seolah-olah mempersilahkan Leon untuk naik.


Leon tersenyum lebar , tapi kemudian dia teringat pada Selena. Dia menoleh , menatap sepasang manik cokelat dengan tatapan memelas. Begitu pun dengan Niko dan Helen yang ikut-ikutan seperti Leon.


Selena mendesah pelan. “Ya..ya..terserah kalian lah," ucapnya sambil berjalan membuka pintu penumpang di samping Niko.


“Maaf Bu , itu kan......,” Helen yang mau protes langsung menutup mulutnya begitu ditatap tajam oleh Selena.


Sementara itu Leon yang rupanya diantar oleh adik perempuannya , menghampirinya sebentar sebelum akhirnya dia kembali menuju mobil Selena.


Begitu Leon masuk ke mobil , Niko langsung tancap gas menuju toko oleh-oleh yang diminta Selena.


**********


Tidak sampai disitu saja , Selena semakin dibuat curiga lantaran Leon menaiki pesawat yang sama dengannya. Saat ditanya , bagaimana bisa kebetulan ini terjadi , Leon hanya mengangkat bahunya.


Tapi sepertinya hanya Selena yang menganggap itu mencurigakan. Karena Niko dan Helen sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka bertiga malah semakin akrab dan banyak mengobrol.


Untung saja jarak tempat duduk Leon di pesawat cukup jauh dari Selena. Jika seandainya tempat duduk mereka berdekatan , Selena sudah pasti yakin kalau Leon adalah seorang stalker.


Akhirnya setelah 1 jam 45 menit berada di dalam pesawat , mereka sampai di Jakarta. Setelah berpamitan pada Niko, Helen dan Leon , Selena langsung berjalan sendirian menuju mobilnya yang dia titipkan di area parkir bandara.


“Helen , kamu sudah lama bekerja dengan Selena?” tanya Leon begitu Selena tidak terlihat lagi.


“Lumayan. Memang kenapa?”


Leon tampak ragu-ragu untuk bertanya. Tapi sepertinya Helen langsung paham arah pertanyaan Leon.


“Kalau maksudmu soal pacar jawabannya tidak ada. Ibu Selena itu tidak begitu peduli dengan urusan percintaan. Padahal cukup banyak yang menyukai beliau.”


“Oh , begitu....,” Leon tersenyum malu karena Helen bisa menebak pikirannya , “terimakasih ya buat informasinya.”


“Sama-sama. Kalau begitu kami duluan ya Leon. Taxinya sudah datang. Ayo Nik!” Helen segera menarik Niko untuk masuk bersama ke dalam taxi berwarna biru meninggalkan Leon yang masih berdiri menunggu jemputannya.


Selang beberapa lama , sebuah mobil mewah putih berhenti tepat di depan Leon. Seorang pria bertubuh tinggi besar turun dari kursi supir dan langsung membukakan pintu belakang mobil sambil membungkukkan badannya.


“Selamat datang kembali , Pak.”


Leon mengangguk. Tanpa bicara sepatah kata pun dia menyerahkan koper kecilnya dan masuk ke dalam mobil.


“Bagaimana perjalanan anda, Pak? Apa menyenangkan?” tanya pria itu sambil menatap Leon dari kaca spion.


Leon tersenyum, menyandarkan tubuhnya dan memejamkan mata sambil bergumam. “Sangat menyenangkan.”