
Selena berjalan mondar-mandir di ruangannya sambil mengigiti kuku jarinya. Raut wajahnya terlihat cemas dengan jantung yang berdebar kencang. Dia bahkan berjengit saat seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Kepala Prita menyembul dari balik pintu. “Bu, mobilnya sudah disiapkan di belakang.”
Selena mengangguk dan langsung menyambar tas boteganya. Dia berjalan cepat masuk ke dalam lift ditemani Niko dan Prita. Kedua orang itu menemani Selena di sisi kiri dan kanannya.
Prita melampirkan craft di rambut Selena dan memakaikan kacamata hitam di wajah Selena.
“Sementara begini dulu ya, Bu. Jangan dilepas. Soalnya reporter masih banyak diluar lobi.” Ucapnya.
Sejurus kemudian, dengan bantuan dari karyawan kantor lainnya, Selena berhasil masuk ke dalam mobil sedan mewah milik Dimas.
Begitu pintu tertutup, Pak Joko - sopir Papi Goenawan, langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran kantor Selena.
Sambil menunduk di kursi belakang, Selena mengintip ke arah jendela luar. Dia melihat kerumunan reporter sedang diusir oleh satpam kantornya. Bahkan ada beberapa reporter yang sampai terjatuh karena berusaha masuk ke area lobi.
Selena menghembuskan napas panjang sambil memijat-mijat pelipisnya.
“Maaf, Bu.” Pak Joko yang memperhatikan Selena dari kaca spion, tiba-tiba bersuara. “Tadi Pak Dimas berpesan untuk menyerahkan ponsel ini.”
Selena mengernyit heran saat menerima ponsel jadul berwarna hitam itu. “Ini punya siapa , Pak?”
“Punya saya, Bu. Tapi maaf, nggak bisa chattingan. Hanya bisa SMS dan telponan saja.” Ujar Pak Joko sambil tersenyum malu. “Mungkin sebentar lagi, Pak Dimas akan menelpon.”
Seperti cenayang, baru saja Pak Joko berkata demikian, ponsel itu sudah berdering.
Nama Dimas tercantum di layarnya. Tanpa menunggu lama, Selena segera menjawabnya.
“Halo, Bi.”
“.……”
“Iya, aku baik-baik aja. Kamu gimana?”
“.…..”
“Loh, kenapa? Aku kan bisa ke apartemen. Atau ke hotel."
“.……”
Selena terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk pasrah. “Yasudah. Kabar-kabarin aku terus, Bi. Hati-hati.”
“.…..”
“I love you,too.”
Begitu sambungan berakhir, Selena mengembalikan ponsel itu ke Pak Joko.
“Bapak sudah tahu kita harus kemana?” tanyanya.
Pak Joko mengangguk. “Sudah, Bu. Kata Pak Dimas nanti ada teman Ibu yang nunggu disana.”
Selena hanya manggut-manggut sambil kembali memejamkan matanya. Teringat kembali kekisruhan pagi ini…….
FLASHBACK ON
Getaran ponsel di atas nakas, membangunkan Selena dari tidurnya. Dengan mata terpejam, ia meraba-raba nakas. Selena menyipitkan matanya saat berusaha melihat siapa orang kurang ajar yang berani menelponnya dini hari begini.
“SELENA!!”
Pekikan nyaring suara Gina langsung membuat matanya terbuka. Jantungnya nyaris melompat keluar. Belum sempat ia mengomel, Gina keburu mengoceh panjang lebar.
Sedetik kemudian, Selena langsung bangkit terduduk. Tak berselang lama, Dimas tergesa-gesa masuk ke kamarnya.
Selena menelisik penampilan Dimas. Rambut acak-acakan, mata masih memerah sementara raut wajahnya memucat. Jelas sekali kalau Dimas juga dibangunkan paksa dari tidurnya.
Selena menempelkan telunjuk di bibirnya, isyarat agar Dimas tak berisik. Dengan napas tertahan, Dimas duduk di tepi kasur.
“Kamu tahu siapa yang sebarin foto-foto kalian di internet?” tanya Selena begitu Gina mengakhiri sambungannya.
Hening.
Perlahan, Dimas beranjak dari tepi kasur dan bergerak mendekati Selena yang sedari tadi hanya terdiam.
Dia duduk di depan Selena. Mengelus pelan rambutnya, mencium pundaknya dan membenamkan wajahnya disana.
“Maaf. Lagi-lagi aku menyusahkanmu.” Lirih Dimas.
Selena tak menjawab. Teringat sesuatu, dia menggerakkan pelan pundaknya hingga Dimas mengangkat kepalanya dan menatapnya.
“Orang tua kita gimana, Bi? Gimana kalau mereka tahu artikel itu? Terutama Papi.” Tanya Selena cemas.
Pias wajahnya memucat membayangkan reaksi keluarga mereka. Terutama Goenawan, karena mertuanya itu memiliki riwayat penyakit jantung.
“Aku udah minta tolong asisten disana untuk sementara waktu ngejauhin Papi dari ponsel dan TV.”
Selena menghela napas lega. Lalu kemudian bertanya ragu-ragu.
“Foto-foto itu…..” Selena diam sejenak sebelum melanjutkan dengan suara tercekat. “Apa semuanya diambil .... saat Nayra tinggal di Amerika?”
Dimas mengangguk. "Iya. Semuanya di ambil di Amerika."
“Oh…”
Selena hanya bergumam membulatkan mulutnya. Hatinya masih perih membayangkan kembali foto-foto tersebut.
Potret Dimas dan Nayra tergambar jelas disana. Ada foto mereka berdua berpegangan tangan di pinggir jalan, berpelukan di taman kota hingga ......berciuman di pinggir pantai.
.
.
.
“Sugar? Kamu kenapa?!” Dimas memekik panik karena Selena tiba-tiba kesulitan bernapas sambil memegang dadanya.
Selena menggoyang-goyangkan tangannya di udara sembari berucap lirih, “aku nggak apa-apa. Hanya sedikit sesak napas.”
Grep.
Tiba-tiba Dimas menarik tangan Selena dan mendekapnya erat. Pertahanan Selena akhirnya runtuh, air matanya pun tumpah. Dia menangis tersedu-sedu di pundak Dimas.
“Maafin aku, Sugar. Maafin aku….” Rancau Dimas pelan.
FLASHBACK OFF
Suara Pak Joko membuyarkan Selena dari lamunannya. Wanita itu terkesiap sejenak sebelum akhirnya menyadari kalau mereka sudah sampai di tujuan.
Setelah menyeka ujung matanya yang sedikit berair, Selena bergegas keluar dan langsung masuk ke sebuah mobil lain berwarna putih.
“Baru juga mau gue samperin,” Ucap Alvino yang rupanya sudah bersiap hendak keluar dari mobilnya.
Bukannya menjawab, Selena malah celingukan. Matanya mengawasi keadaan sekitar. Takut kalau sampai ada reporter yang melihatnya.
Alvino meremas tangan Selena, berusaha menenangkan wanita itu.
“Aman kok, Sel. Disini nggak ada orang. Udah gue cek tadi.”
Selena menghela napas lega, menurunkan sedikit sandaran kursinya. “Makasih ya, Vin. Maaf, ngerepotin elo terus.”
Alvino mengusap lembut puncak kepala Selena. “Santai, Sel. Ini gunanya sahabat bukan? Lo tidur gih. Nanti kalau sampai, gue bangunin. Pasti semalam lo nggak bisa tidur kan?”
Selena mengangguk pelan dan mulai memejamkan matanya.
“Nggak usah mikir macem-macem dulu, ya. Ada gue di samping elo.” Lanjut Alvino sambil menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya keluar dari pinggiran taman kota.