
Hari ini matahari bersinar cukup terik. Hawa panas bercampur polusi ditambah lalu lintas yang padat menjadi gambaran sehari-hari kota Jakarta. Mobil, motor dan kendaraan transportasi lainnya, tak henti-hentinya melintas di salah satu jalan yang disebut sebagai jalan tersibuk di Jakarta.
Selena mengamati keruwetan jalanan ibukota melalui jendela kaca ruang kantornya. Dia bersyukur, diberikan pekerjaan yang tak mengharuskannya berpanas-panasan di cuaca panas seperti ini.
Tok..tok..
Suara ketukan di pintu, membuat Selena menoleh. Begitu ia mempersilahkan masuk, Prita datang menghampirinya.
“Bu, ada tamu menunggu di luar,” Prita berbisik.
Selena mengernyit, tak biasanya Prita berbisik seperti ini. Biasanya sekretarisnya itu selalu berkata dengan suara nyaring.
“Siapa?” Selena ikut-ikutan berbisik.
“Pak Leon.”
DEG
Rasa takut langsung menyergap Selena begitu mendengar nama Leon disebut. Selena mengeluh dalam hati, seharusnya tadi pagi ia turuti saran Dimas yang memintanya mengambil cuti beberapa hari.
“Bu? Saya harus gimana?” Prita berbisik, mencolek pelan lengan Selena. Sebenarnya tadi Prita ingin mengusir Leon dengan mengatakan kalau Selena sudah keluar makan siang. Tapi sialnya, Helen – yang juga mengenal Leon malah lebih dulu berkata kalau Selena masih berada di ruangannya.
“Suruh dia masuk. Lalu kamu hubungi Dirga, ceritakan sama dia soal kedatangan Leon. Minta dia sampaikan ke Dimas,” perintah Selena.
“Baik, Bu.” Prita bergegas keluar.
Tak berselang lama, Leon pun masuk dan mendudukkan tubuhnya di sofa panjang persis di sebelah Selena.
“Ada keperluan apa kamu kesini, Leon?” tanya Selena hati-hati. Dia mengamati penampilan Leon yang terlihat kusut. Selena berusaha menyembunyikan kegugupannya.
Leon tak langsung menjawab, dia malah menatap lekat Selena. Membuat wanita itu sedikit cemas. Jantung Selena berdebar kencang. Udara terasa mencekik lehernya.
Leon mengusap wajahnya kasar. Tanpa harus kesini, sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
Dini hari tadi, Leon terkejut saat mendapati anak buah yang ia tugaskan untuk menjaga Anna sudah tergeletak di lantai. Mereka semua tertidur pulas seperti orang pingsan.
Dengan tergesa-gesa Leon menyambangi lantai 2, dan benar saja Anna sudah menghilang. Butuh waktu lama untuk membangunkan anak buahnya. Begitu terbangun, mereka semua terlihat linglung.
Melalui penuturan anak buahnya, kejadian terakhir yang mereka ingat yaitu saat mereka menyantap makanan yang dibuat Anna. Karena Anna terbiasa memasak selama tinggal di sana, mereka menerimanya tanpa curiga. Setelah melakukan pengujian klinis di sisa makanan, didapatkan sejumlah zat yang diidentifikasi sebagai zat penenang. Itu berarti Anna telah sengaja mencampurkannya ke dalam masakannya.
Leon marah sekaligus bingung. Anna tak pernah diijinkan keluar rumah, bahkan untuk sekedar membeli bahan makanan. Semua disediakan Leon. Tak hanya itu, Leon juga mengurung Anna di sana tanpa ponsel maupun internet. Jadi dari mana Anna bisa mendapatkannya?
Pertanyaan itu baru terjawab setelah Leon memeriksa seluruh kamera CCTV yang ada di rumah dan area kompleknya. Ternyata, dua hari lalu ada dua orang pria mengaku petugas listrik datang berkunjung.
Tidak ada gelagat aneh sampai Leon menemukan salah seorang pria tertangkap CCTV sedang berbicara dengan Anna. Leon tidak bisa mengetahui secara pasti apa yang mereka bicarakan. Namun yang jelas, Leon melihat pria itu memberikan sesuatu kepada Anna.
Dan baru tadi pagi, terungkap fakta yang mengejutkan Leon sekaligus menyakiti perasaannya. Ternyata kedua orang tersebut adalah Dirga – sekretarisnya Dimas dan juga Martin – sahabat dari Selena.
Kedatangan Prita yang membawa minuman memecah keheningan di antara Selena dan Leon.
.
.
Selena tersentak kaget karena Leon tiba-tiba bertanya padanya. Beruntung Selena bisa dengan cepat menjawabnya, “iya.”
“Berarti hubunganmu dan Dimas sudah membaik?”
“Begitulah.” Selena mengangguk kecil. "Aku dan ...."
Belum sempat Selena menyelesaikan kalimatnya, Leon sudah keburu bangun dari duduknya. Tanpa mengucapkan sepatah kalimat apa pun, pria itu berjalan menuju pintu. Sebelum beranjak pergi, dia sempat menoleh ke arah Selena, membuat kedua mata mereka saling bertubrukan.
DEG
Seketika itu juga rasa bersalah menusuk tepat di hati Selena. Leon melihatnya dengan tatapan terluka. Pupil abu-abu tuanya berkaca-kaca. Selena terhenyak menahan napasnya. Dia bergegas mengejar Leon yang sudah meraih handle pintu.
“Jangan pergi! Biar aku jelasin dulu,” Selena menahan tangan Leon, menatapnya pilu. “Please, tolong dengarkan penjelasanku.”
“Apa yang mau kamu jelaskan Sel? Apa yang kamu maksud soal tujuanmu mendekati aku?” Leon tersenyum tipis, “kalau soal itu, aku ucapkan selamat Sel. Kamu berhasil. Kamu membuatku percaya dan yakin kalau kamu juga menyukaiku.
Kudoakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian. Aku baru sadar kalau kalian berdua memang pasangan yang kompak,” sindirnya.
Selena hanya bisa terdiam sambil meremas ujung kemejanya. Dia menundukkan pandangannya, tak sanggup menatap Leon.
“Jangan menunduk! Kemana keberanianmu pergi setelah menipuku?!” tukas Leon jengkel. Dia mengangkat dagu Selena. Menatap tajam wanita di depannya.
“Serius, Sel. Apa semua hal yang kita lakukan kemarin hanya aktingmu saja? Apa kamu berpura-pura menjadi temanku? Apa kamu senang melihatku menggilaimu seperti orang bodoh?” desak Leon.
Selena menelan salivanya. Kakinya bergetar saking takutnya melihat kilatan amarah Leon. Mendadak, kepalanya terasa pusing. Dia hampir terjatuh jika Leon tak cepat menahan tangannya.
“Apa-apaan ini? Apa sekarang kamu takut melihatku?” Leon menyeringai dingin.
Selena tak menjawab dan justru memegangi kepalanya yang terasa berputar.
“Sel? Mukamu pucat...,” Leon berubah cemas setelah melihat pias Selena. Kecemasannya berubah menjadi kepanikan karena tiba-tiba Selena menjatuhkan dirinya. Beruntung Leon bergerak sigap menahan tubuh Selena.
“SELENA!!!” Teriakan Leon menggema. Pria itu berteriak panik seraya menepuk-nepuk pipi Selena. Mencoba membuatnya terbangun.
Prita langsung menghambur masuk begitu mendengar teriakan Leon. Seketika dia ikut panik melihat Selena yang sudah terkapar di pangkuan Leon. Tak hanya Prita, anggota team Selena lainnya juga menghambur masuk dan terkejut dibuatnya.
“Saya akan bawa dia ke rumah sakit!” Leon berdiri sambil menggendong Selena di kedua tangannya. Tangan kanan Leon menyangga punggung Selena sementara tangan kirinya menopang bagian belakang lutut Selena.
Tanpa menghiraukan para staff yang berkerumun di depan ruangan Selena, Leon berjalan buru-buru sembari melempar pandangan tajam.
“Saya ikut, Pak!” Prita bergegas menyambar tasnya, dan menyeruak membelah kerumunan karyawan lain yang penasaran begitu mendengar suara keributan.
Leon tak menjawab. Langkahnya semakin dipercepat. Dia semakin kalut. Terlebih Selena masih tak sadarkan diri meski Leon tadi sudah mencoba membangunkannya.
Berjalan di belakangnya, Prita sedikit kesulitan menyesuaikan ritme langkah Leon. Kaki Leon yang jenjang berbalik terbalik dengan kakinya yang pendek. Selain itu juga fokusnya juga terpecah lantaran menghubungi Dirga.
“Buka pintunya! Kuncinya ada di saku celana saya!” perintah Leon begitu mereka tiba di parkiran
Tanpa pikir panjang, Prita langsung merogoh saku celana Leon dan mengeluarkan sebuah kunci. Setelah memastikan Selena dalam posisi nyaman, Leon bergegas memacu mobilnya menuju rumah sakit terdekat.
Aku bisa gila kalau terjadi sesuatu yang menimpamu! Ku mohon bangunlah! Jangan menghukumku seperti ini! Leon merapal doa dalam hati seraya melirik Selena dari kaca spion.