The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Kehebatan Dirga



“Selamat pagi pak Presdir,” sapa seorang lelaki paruh baya berambut plontos begitu melihat Dimas memasuki lift.


Dimas tidak menjawab , hanya memberi anggukan. Tapi anggukan kecil dari Dimas sudah mampu membuat lelaki tersebut ketakutan. Apalagi saat dia tanpa sengaja melihat raut wajah Dimas yang terlihat kesal.


Wah , sepertinya hari ini moodnya jelek lagi deh. Siap-siap bisa kena omel semua.


Begitu pintu lift khusus yang dinaikin Dimas menutup , lelaki paruh baya tersebut langsung mengirimkan pesan grup chat.


Warning! Presdir lagi bad mood. Jangan bikin masalah hari ini.


Begitu pesan dikirim , grup kantor tersebut langsung ramai. Yang hampir sebagian besar langsung merasa ketakutan dan cemas.


Lelaki plontos itu menelan saliva dan mengatur detak jantungnya sebelum memasuki lift karyawan sambil berharap agar hari ini dia tidak berurusan dengan atasannya tersebut.


**********


“Presdir , ini kontrak perjanjian yang Bapak minta. Tinggal anda check lagi lalu ditandatangan,” Dirga menyerahkan sebuah file merah ke hadapan Dimas.


“Berapa lama seharusnya seseorang melakukan dinas keluar kota?” tanya Dimas tiba-tiba.


“Ha? Maksud Presdir?” Dirga sedikit gelagapan mendapat pertanyaan tak terduga tersebut. “Mungkin...seharusnya satu atau dua hari?”


“Satu hari kan?! Itu sewajarnya bukan? Lalu kalau sampai harus 3 hari bagaimana? Wajar tidak menurutmu?”


“A-a..itu wajar saja Pak. Mungkin sekalian liburan.”


“Hah..!” Dimas mendengus kesal.


“Apa Presdir mau melakukan dinas luar kota?”


Dimas menatap tajam Dirga yang membuat sekertarisnya itu menunduk kaget , “menurutmu apa harus?”


Dirga kini mengangkat kepalanya , memandang bingung Dimas , “kalau memang itu penting , Anda harus melakukannya."


Brak....


Dirga terlonjak kaget karena Dimas tiba-tiba menggebrak meja.


“Kalau begitu Kamu pesankan saya tiket ke Bali besok siang.”


“Bali? Tapi buat apa Presdir pergi kesana? Bukannya seingat saya cabang kita di area Bali tidak ada masalah ya , Pak?”


“Bukan buat kerja. Saya mau menemui Selena.”


“Nona Selena??”


Dimas terdiam. Dalam hatinya , dia membenarkan ucapan Dirga dan sedikit merutuki kebodohannya sendiri. Karena itu kini ekspresi Dimas kembali tenang.


“Kamu benar. Terimakasih sudah mengingatkan saya. Nah...jadi mana dokumen yang harus saya tanda tangani?”


****


Walau pun Dimas membenarkan perkataan Dirga , nyatanya tetap saja seharian ini dia memikirkan tentang Selena.


Perasaan kesalnya mulai muncul kembali ketika nomor ponsel Selena tidak bisa dihubungi. Sikap Dimas yang merubah menjadi sensitif membuat suasana kantor hari itu menjadi sedikit menyeramkan bagi para karyawannya.


Begitupun dengan Dirga , yang walau sudah bekerja lama dengannya , tetap saja tidak bisa, tidak ketakutan melihat Dimas yang seperti itu.


Karena itu tanpa sepengetahuan Dimas , Dirga mencari informasi mengenai perjalanan luar kota yang dilakukan Selena.


Berbekal kepandaiannya dalam hal menggorek informasi , Dirga akhirnya mendapat jadwal penerbangan Selena dan buru-buru memberikannya kepada Dimas.


“Apa ini?” Dimas mengernyit menunjuk selembar kertas yang diberikan Dirga.


“Ini jadwal penerbangan Nona Selena termasuk informasi mengenai hotel tempat Nona Selena menginap.”


“Apa??!” Dimas tercenggang , langsung berdiri melotot ke arah Dirga , “kamu....!!”


Seketika muka Dirga menjadi pucat pasi. Pria berkacamata itu mulai menyesali dirinya sendiri yang ikut campur urusan atasannya. Dirga sudah memasang badan bersiap untuk dimarahi.


Namun bukan bentakan yang dia terima malah tepukan ringan di pundaknya.


“Bagus..kerja bagus Dirga!!!”


Mendengar pujian dari Dimas , Dirga tersenyum bangga.


“Ini akurat kan? Kamu dapat darimana?”.


“Akurat pak. Emm...kalau itu rahasia,” Dirga tersenyum canggung.


Dimas menatap Dirga dengan curiga tapi kemudian dia tersenyum kecil tak peduli dan mulai membaca kertas yang dia pegang.


Ternyata Selena akan melakukan penerbangan jam 6 malam ini. Dimas melirik jam tangannya. Ini masih jam 3 sore. Masih ada beberapa jam lagi.


“Apa Presdir masih mau tetap menyusul Nona Selena?”


Dimas berpikir menimbang-nimbang dan akhirnya duduk kembali di kursinya , “tidak. Saya bisa menyusulnya besok atau lusa. Toh saya sudah tahu dia akan menginap dimana.”


Begitu keluar dari ruangan Dimas , kepala Dirga langsung terasa pusing. Entah mengapa rasanya lebih baik mengurus tumpukan dokumen pekerjaan ketimbang mengurus kehidupan pribadi atasannya yang rumit. Sambil menghela napas panjang , Dirga kembali ke mejanya dan mulai bekerja kembali.