
Alunan musik jazz terdengar lembut memenuhi restoran. Cahaya restoran yang tidak terlalu terang menambah kesan keintiman malam. Selena melihat pemandangan keluar jendela kaca. Dari tempat dia duduk, dia bisa melihat suasana malam Jakarta yang menakjubkan. Lautan cahaya kendaraan dan gedung pencakar langit berkelap kelip indah di bawah sana.
Seharusnya Selena bisa menikmati suasana malam dari tempat sebagus ini, namun hatinya justru diliputi kekesalan. Penyebabnya adalah pria yang kini duduk di hadapannya sambil menatap Selena dengan penuh curiga.
“Jadi, anda sama sekali tidak tahu soal perjodohan ini?” Dimas bertanya sambil mengaitkan jarinya di atas meja. “Bagaimana bisa?”
“Saya rasa pertanyaan itu juga harus saya tanyakan pada Anda,” jawab Selena sengit.
“Saya yang bertanya pada Anda terlebih dulu!”
Emosi Selena langsung terpancing. Ini sudah keterlaluan. Perjodohan ini sama sekali bukan idenya. Dia sendiri bahkan tidak tahu kalau orangtuanya mengenal keluarga Soetedjo.
Saat Selena mau membalas perkataan Dimas, pelayan keburu datang membawa pesanan mereka. Tangan Selena mengepal di bawah meja berusaha menahan emosi.
Sadar kalau sedang berada di tempat umum, akhirnya Selena menarik napas dalam-dalam dan mulai menceritakan pembicaraannya di telepon dengan Mamanya.
Tadinya Selena pikir kalau Dimas akan semakin kesal saat mendengar penjelasannya, namun tak disangka Dimas justru tertegun dan kaget.
“Jadi....Kamu tidak mengenal saya?”
Selena menggelengkan kepalanya, “kita belum pernah bertemu sebelumnya.”
“Aneh,” gumam Dimas.
“Maaf , apa Anda.... mengucapkan sesuatu?"
“Ah, tidak apa-apa. Bagaimana kalau kita makan dulu? Tidak enak kalau dingin." Senyuman Dimas membuat Selena bergidik ngeri.
Fix, ini cowok gila! Tiba-tiba baik, tiba-tiba marah. Sayang banget padahal ganteng.
“Kok gak dimakan? Tidak sesuai selera kamu ya?” pertanyaan Dimas mengagetkan Selena.
“Eh, ini mau makan kok Pak,” Selena buru-buru menjawab.
“Pak? Tolong jangan panggil saya seperti itu. Kita bukan rekan bisnis!” Tukas Dimas tegas.
“Lantas, saya harus memanggil Anda dengan sebutan apa?”
“Terserah. Asalkan jangan ‘Pak’. Mungkin bisa ‘Kakak’? Oh,iya kita berbicara santai saja ya. Jangan gunakan bahasa formal”.
“Ha?” Selena sampai bengong mendengarnya.
Masa iya, gue panggil Kakak ke seorang Dimas Soetedjo? Bicara santai? Elo - gue? Aku - kamu? Atau gimana nih?
“Kenapa? Kamu juga lebih muda dari saya kan? Keberatan?”
Pertanyaan Dimas bagi Selena terdengar seperti sebuah paksaan. Sehingga mau tidak mau Selena mengangguk pasrah.
“Baiklah. Kak Dimas,” tenggorokan Selena seperti menelan batu saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Tapi, Pak eh Kak," Selena yang masih kaku , sedikit kesulitan untuk bersikap santai di depan Dimas.
"Apa benar, kalau kita ini teman masa kecil?"
“Iya. Sepertinya begitu. Saya juga kurang yakin, karena tidak terlalu mengingatnya. Tapi masih mending saya daripada kamu” Dimas mengarahkan pandangannya ke Selena.
“Ya, maaf Kak.” Selena sekilas melirik Dimas yang terlihat kesal , “masalahnya, saya memang sama sekali tidak bisa mengingat masa kecil saya.”
“Bagaimana bisa? Sama sekali tidak ingat sedikit pun?”
Selena mengangkat bahu , “entahlah Kak. Yang saya ingat hanya saat SD. Ohiya. Dulu saya pernah mendengar dari Tante, kalau waktu kecil saya pernah mengalami koma selama 2 minggu.”
Saat mendengar perkataannya sendiri, Selena langsung teringat kalau cerita ini dia tahu tanpa sengaja. Dan saat Tantenya menyadari kalau Selena mendengarnya, Tantenya meminta Selena agar tidak bertanya kembali kepada orangtua Selena.
Menurut Tantenya, peristiwa itu membuat trauma kedua orangtuanya. Jadi sampai sekarang Selena tidak pernah bertanya mengenai hal tersebut.
Dan pertemuannya dengan Dimas kali ini membangkitkan kembali rasa penasarannya. Bukankah seharusnya manusia itu minimal memiliki ingatan masa kecilnya walau hanya sedikit?
Begitu pun dengan Dimas yang kelihatan tertarik mendengar cerita Selena. Dia bahkan sampai mencondongkan badannya.
“Aku rasa Tantemu benar. Seorang anak kecil yang mengalami koma tentu bukan hal yang ingin diingat oleh orangtua,” ujar Dimas , “tapi kalau kamu penasaran, aku bisa bantu cari informasinya.”
“Caranya Kak?” Selena ikut mencondongkan badan juga sehingga jarak mereka menjadi lebih dekat. Membuat Dimas sedikit terkejut dan berdeham.
“Yah, pokoknya kamu lihat saja nanti." Dimas buru-buru merubah posisinya.
Tak disangka malam malam yang diawali dengan rasa kesal berubah menjadi menyenangkan. Setidaknya itulah yang dirasakan Selena. Dia pun juga heran saat mulutnya secara otomatis memanggil Dimas dengan sebutan ‘Kakak’.
Bahkan dia tanpa canggung saling menyebut 'Aku Kamu'. Hingga tanpa terasa, makan malam itu berakhir.
Tadinya Selena menolak diantar pulang oleh Dimas. Tapi pria tersebut memaksanya.
Sehingga mau tak mau Selena menerimanya setelah sebelumnya mengabari Alvino terlebih dulu.
“Terimakasih buat makan malamnya Kak,” ujar Selena sebelum melangkah keluar.
Tapi anehnya Dimas malah terdiam dan menanyakan hal yang membuat Selena terkejut.
“Sel, kapan-kapan mau makan siang bareng?”
Selena mengangguk sambil tersenyum , “mau Kak. Kabarin saja. Sampai nanti ya Kak. Hati-hati nyetirnya."
Dimas mengangguk tersenyum dan menunggu Selena sampai menghilang masuk ke lobi , sebelum akhirnya dia bergegas pergi.