
Rasanya seperti baru kemarin Selena menyetujui pertunangan ini. Tapi ternyata waktu sudah berjalan 2 minggu tanpa ia sadari. Persiapan pertunangan yang sangat cepat bahkan terlalu terburu-buru menurut Selena.
Bahkan bisa dibilang Selena dan Dimas nyaris tidak melakukan apapun. Semua dipersiapkan oleh para orangtua. Selena dan Dimas hanya diserahkan tugas mengurus busana masing-masing dan cincin saja. Makanya Selena dibuat kaget dan sedikit kesal saat dua hari menjelang hari H , dia baru tahu betapa mewahnya acara pertunangannya kelak.
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa . Selain karena semua telah rampung dikerjakan , Selena juga teringat raut kebahagiaan yang terpancar dari wajah mama dan orangtua Dimas saat mempersiapkan pertunangan ini.
Dan kini dia sedang terduduk di kasur sambil mengigit bibirnya. Kakinya gemetaran sementara tangannya saling mengenggam erat. Detak jantungnya berdegup lebih kencang menandakan kalau tubuhnya sedang gugup. Wajar saja , karena beberapa menit lagi ia akan resmi menjadi tunangan Dimas dan menjadi salah satu bagian dari keluarga Soetedjo.
Beruntung saat ini ia ditemani dengan para pendamping wanitanya yang terdiri dari Gina , Helen dan beberapa teman lainnya. Karena candaan dan gurauan mereka , kecemasan di hati Selena sedikit mencair.
Tok..tok..tok.. terdengar pintu diketuk. Dan begitu dibuka sosok Raymond -- adiknya , muncul dari balik pintu.
“Kak , udah siap belum? Kalau su...wow...,” ucapan Raymond terputus begitu melihat Selena. Matanya menatap kagum kakak perempuannya itu.
Mengenakan dress brokat panjang berwarna peach yang membentuk tubuhnya dan polesan riasan tipis , Selena memang terlihat sangat cantik. Apalagi dengan Rambut hitang panjangnya yang disanggul dengan sentuhan modern dan dihiasi beberapa bunga-bunga kecil.
“Kakak cantik banget,” desis Raymond takjub.
“Eii, baru sadar kalo kakakmu cantik?” seloroh Gina.
“Udah tahu dari dulu sih,” jawab Raymond.
Dia memang menyadari kecantikan kakak perempuannya itu. Tapi malam ini , kakaknya jauh terlihat lebih cantik dan bersinar. Dalam hatinya Raymond sedikit heran , kenapa dulu kakaknya bisa susah sekali mendapatkan pacar?
“Gue aja dari awal kenal udah kesemsem sama elo Sel,” sahut Enny tiba-tiba , yang sedetik kemudian meralatnya begitu ditatap bingung oleh para wanita disana. “Eh maksud gue , naksir dalam arti positif. Nge-fans maksudnya.”
Tawa langsung terdengar dari mulut para wanita yang melihat kepanikan Enny.
“Ehem...,” Gina berdehem begitu menyadari kalau Raymond tidak sendirian.
Dibelakangnya ada seorang pria mengenakan jas hitam dan terlihat diam mematung melihat Selena. Matanya nyaris tidak berkedip.
“Dim..,” Gina memanggil namanya sambil berusaha menahan geli.
“Oh...,” bak tersengat listrik , Dimas terkejut dan bepura-pura merapikan jas-nya. “Yuk Sel , semua sudah nunggu di bawah.”
Dimas menawarkan lengannya yang disambut dengan kaitan tangan Selena yang malu-malu. Mereka pun berjalan bersama dengan diiringi para wanita dan Raymond yang berada di belakang. Gina yang berada persis di belakang sahabatnya berusaha menahan geli , melihat kecanggungan diantara Selena dan Dimas.
“Siap Sel?” tanya Dimas sesaat sebelum memasuki ballroom.
Selena mengangguk , “siap Kak.”
“Oke. Ayo , kita masuk,” ujar Dimas seraya memberi isyarat ke seorang staff hotel untuk membukakan pintu ballroom.
****
“Sel..sini..sini..Ikut Mami yuk.” Vivi menarik tangan Selena dan menggandengnya berjalan mendekati sekelompok pria-wanita paruh baya.
Selena hanya bisa pasrah sembari menebar senyum. Malam ini , entah sudah berapa kali Vivi dan Goenawan mengajaknya berkeliling berkenalan dengan rekan-rekan bisnisnya. Dia memamerkan Selena dengan bangga seraya menyombongkan calon menantunya. Padahal kalau diperhatikan, prestasi Selena masih kalah jauh dibandingkan rekan-rekan Vivi dan Goenawan yang notabene adalah kalangan pengusaha dan pejabat.
Mata Selena menyapu area ballroom , mencari sosok Dimas. Bagaimana bisa pria itu kabur sendirian?!
Awalnya tadi memang Dimas juga ikut dengannya saat Vivi dan Goenawan mengajaknya berkenalan dengan kolega bisnis mereka. Tapi saat Selena lengah , Dimas sudah menghilang meninggalkan ia bersama dengan Vivi dan Goenawan , sendirian.
“Nah ini loh Jeng , calon mantuku,” Vivi memulai percakapan yang sama setiap kali mau mengenalkan Selena.
Selena tersenyum sopan memperkenalkan dirinya. Dan mulai ikut ke dalam obrolan mereka. Tapi biasanya Selena hanya menimpali. Atau kalau dirasa obrolannya sesuai dengannya , dia baru aktif berbicara.
Dan untungnya kali ini dia tidak perlu berlama-lama berada disana. Vivi yang mungkin sadar dengan raut kelelahan Selena , memintanya untuk segera duduk beristirahat.
Setelah berpamitan dengan sopan , Selena berjalan menuju balkon ballroom. Diperjalanan , dia melihat mamanya dari kejauhan yang juga sedang asyik mengobrol bersama teman-teman wanitanya.
“Huaah....,” Selena mengeliat , merentangkan kedua tangannya. Sembari menghirup dalam-dalam udara malam.
“Kak Dimas kemana sih?!” omelnya sambil mengambil ponsel dari dalam saku kecil.
“Sel...,” Suara seorang pria mengagetkannya dan refleks membuatnya menoleh.
Dia mendapati Alvino tengah bersedekap dan bersandar di pilar balkon.
“Vin!” Selena berseru senang tapi kemudian dia teringat sesuatu dan langsung mengerucutkan bibirnya. “Lo kok telat datangnya? Dari tadi kan gue tungguin”.
Alvino menggeleng sambil berjalan mendekat ke arah Selena. Kini posisi mereka bersebelahan dan bersandar di tepi balkon.
“Gue udah datang dari tadi kok.”
“Terus lo kemana? Kok gue gak lihat lo di dalam?”
Alvino tidak langsung menjawab. Dia malah membalikkan badannya , menghadap ke arah Selena.
“Sel , gue boleh ngomong jujur sama elo?” tanya Alvino pelan.
“Boleh dong. Kan kita emang harus saling jujur. Gimana sih,” seloroh Selena seraya memutar sedikit kepalanya agar bisa melihat Alvino.
Perlahan-lahan Alvino bergerak , mempersempit jarak diantara mereka. Dia menatap lurus ke arah Selena. Bersiap-siap mengucapkan sesuatu.
“Sel , gue......,”
“Selena!” Dimas yang entah darimana , tiba-tiba muncul dan memanggil namanya dengan suara sedikit kencang , membuat Selena dan Alvino terkejut.
“Oh ...Kak , kenalin ini Alvino.” Selena mulai memperkenalkan Alvino kepada Dimas yang kini sudah berdiri di samping Selena.
“Nah Vin , ini yang namanya Dimas,” lanjut Selena.
Kedua pria itu sempat bertatapan sejenak sebelum akhirnya saling berjabat tangan.
“Sel , yuk masuk. Dicariin sama mama,” ajak Dimas seraya melingkarkan tangannya di pinggang Selena.
“Eh bentar Kak,” Selena menepis tangan Dimas dan kembali menghadap ke arah Alvino , “tadi lo mau ngomong apa Vin?”
“Gak. Gue cuma mau bilang congratulations Sel! Buat pertunangan lo," ujar Alvino sambil tersenyum.
Selena mengerutkan dahinya. Dia ingin bertanya lebih lanjut tapi tangannya keburu ditarik Dimas. Bibir Selena bergerak-gerak membentuk kata ‘maaf’ kepada Alvino , sebelum berjalan masuk ke dalam ballroom.
Meninggalkan Alvino yang berdiri mematung sambil tersenyum getir.