The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Sejumput Kerinduan



Sudah 5 hari berlalu sejak pertunangannya terjadi dan sampai hari ini , Selena belum pernah bertemu lagi dengan Dimas. Selama ini , komunikasi mereka hanya melalui telepon atau pesan singkat. Dan juga beberapa kali melakukan video call.


Sebenarnya kalau boleh jujur , saat ini Selena sedang merasakan kerinduan yang membuncah. Rasanya, ia sampai ingin mengemudikan mobilnya untuk menemuinya.


Namun sayang , Selena masih gengsi mengakui fakta kalau hatinya telah menyukai Dimas dan menerima pria itu sebagai calon suaminya.


Apa aku telepon Kak Dimas aja ya , ajakin dia makan malam? Tapi kalau ternyata dia sibuk gimana?


Atau , aku ke apartemennya aja bawain makanan? Kan kata Mami , Kak Dimas jarang makan kalau udah di apartemennya.


Eh , tapi kelihatan agresif banget gak ya?


Ya ampun ternyata gini toh rasanya jadi Gina yang kesel kalau gak bisa ketemuan sama Martin? Kualat nih kamu Selena , dulu suka godain Gina sih!. Sekarang ngerasain sendiri kan , gak enaknya kalau lagi kangen sama seseorang.


“Bu?” suara Helen yang tiba-tiba membuyarkan lamunannya.


Selena yang sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja , sontak mendongak. Matanya langsung bertemu dengan mata Helen yang melihatnya dengan tatapan kebingungan.


“Ah,ya. Ada apa?” tanya Selena sambil merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.


“Apa...Ibu baik-baik saja?” Helen balik bertanya dengan nada khawatir.


Selena menggeleng dan tersenyum. “Saya baik-baik saja. Memangnya, ada yang salah ya dengan muka saya?”


“Oh. Gak kok Bu. Cuma tadi saya pikir , Ibu sedang ada masalah. Maaf kalau saya salah ya, Bu.”


“It’s OK. Jadi , ada perlu apa kamu menemui saya?”


“Ini Bu , bahan presentasi untuk lusa. Semua yang kita bahas di rapat kemarin , sudah saya masukkan di dalam situ semua. Silahkan dicek lagi , Bu.”


Helen menyerahkan sebuah USB biru berbentuk karakter Micky Mouse. Selena sempat tersenyum sekilas saat melihat USB tersebut.


FLASHBACK ON


“Wah , boneka Minnie!” seorang anak perempuan berbalut gaun pesta berwarna pink , sedang duduk di lantai. Di tangannya ada sebuah boneka Minnie berukuran sedang. Dan disekeliling anak perempuan itu , terdapat puluhan kotak kado yang masih terbungkus rapi.


“Itu kado dari Kakak. Kamu suka gak?” tanya seorang anak lelaki yang ikut duduk di sampingnya.


Anak perempuan itu mengangguk dan tersenyum senang. Tak canggung walau harus memamerkan satu gigi depannya yang tanggal.


“Aku suka! Makasih , Kak!"


Anak lelaki itu tampak tersipu malu. Dan semakin salah tingkah saat anak perempuan itu tiba-tiba mengecup pipinya.


“Aku sayang sama Kakak!”


Anak lelaki itu akhirnya bangkit dan buru-buru pergi , meninggalkan si anak perempuan yang masih asyik membuka kado-kado lainnya.


Di kepala gadis muda itu terselip sebuah topi berbentuk mahkota dengan gambar karakter Minnie Mouse , yang terbuat dari bahan kertas poster. Di topi itu ada sebuah nama bertuliskan ‘SELENA’.


FLASHBACK OFF


“Arrghh!” Selena merintih kesakitan sambil memegang kepalanya.


Kepalanya mendadak terasa sakit seakan dipukul godam. Selena meringis sembari mengigit bibirnya , berusaha menahan rasa sakit di kepalanya.


“Bu?” Helen yang terkejut , bergegas berlari mendekat ke arah Selena.


Karena dia tidak memiliki keahlian seperti seorang dokter , dia kebingungan dan panik melihat Selena yang terlihat sekali sedang kesakitan. Dia pun berniat memanggil pertolongan tapi Selena mencegahnya.


Dengan napas terbata-bata Selena mencengkram lengan Helen , berusaha untuk mengucapkan sesuatu.


“Ja..jangan..tung..tunggu..sebentar..I..Ini..akan...berakhir.”


Selang beberapa menit , barulah Selena mengendurkan cengkramannya. Napasnya kembali normal, dia mendongakkan kepalanya - menatap Helen yang masih memandanginya dengan cemas.


“Terimakasih , Helen. Sakit kepala saya sudah hilang,” ujar Selena dengan nada lirih. “Kamu bisa kembali ke mejamu.”


“Tapi , Bu. Apa Ibu benar-benar sudah lebih baik?” Helen menatap Selena yang masih terlihat pucat.


Selena mengangguk. “Iya. Pergilah. Saya hanya butuh istirahat sebentar.”


Helen sebenarnya enggan meninggalkan Selena dengan keadaan yang keliahatan kesakitan seperti itu. Tapi dia hanya bawahan Selena dan Selena adalah atasannya. Jika atasanmu sudah mengeluarkan perintahnya , mau tidak mau kita harus menurutinya , bukan?


Makanya walaupun berat , Helen tetap melangkahkan kakinya menuju pintu keluar sambil sesekali menengok ke belakang. Memastikan kalau atasannya masih bisa terduduk tegak.


Setelah Helen keluar , Selena yang masih terduduk , menyandarkan kepalanya. Matanya menatap langit-langit. Bayangan tentang ingatannya tadi , terbesit kembali.


Dia yakin , kalau itu ingatan masa kecilnya. Terlihat dari topi ulang tahun berbentuk mahkota yang bertuliskan namanya.


Siapa laki-laki yang gue panggil dengan sebutan Kakak? Apa itu Kak Dimas? Tapi kok , Kak Dimas gak pernah cerita apa-apa ya , soal masa kecil gue dan dia?


Apa jangan-jangan , selama ini gue bukan anak pertama?! Gue anak kedua? Gimana kalau laki-laki itu ternyata kakak kandung gue?


Selena buru-buru mengenyahkan pikiran anehnya. Dan memutuskan untuk menyakini kalau laki-laki di dalam ingatannya adalah Dimas.


Mending nanti malam gue ajak Kak Dimas ketemu aja deh! Biar jelas.


Berbekal pemikiran seperti itu , Selena pun memberanikan dirinya dan mulai mengirim pesan singkat ke Dimas. Sambil berharap kalau Dimas bisa meluangkan sedikit waktunya malam ini.