The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Bertemu



Nayra memejamkan matanya sambil mendengarkan musik. Di jok depan, Jay tampak asyik menonton ulang video pemotretan Nayra. Saat ini mereka berada di dalam mobil van, menunggu waktu berangkat untuk pergi ke lokasi pemoretan berikutnya.


“Nay, kita berangkat sekarang ya.” Jay menepuk pelan kaki Nayra. Wanita itu membuka matanya sekilas sambil memberikan jempol dan kemudian menutup matanya kembali.


“Tinggal 2 lokasi lagi. Setelah itu kita bisa pulang. Dan besok jadwalmu kosong.” Jay melirik kaca spion saat mengucapkan kalimat itu, menunggu respon yang diharapkannya. Dan benar saja, Nayra langsung membuka matanya dan terduduk tegak.


“Yang benar, Kak?” Nayra mencondongkan sedikit badannya. Tangannya memegang sandaran kepala jok Jay dan melongokkan kepalanya ke kanan.


“Iya. Awas kepalamu nanti terbentur dashboard. Duduk yang benar.” Jay terkekeh geli melihat binar senang di mata Nayra. “Segitunya kepengen liburan ya?”


Nayra menggangguk cepat. “Iya dong. Memangnya Kak Jay gak mau libur?”


“Ya, jelas mau lah. Bosen lihat mobil ini terus.” Mata Jay fokus ke depan sementara tangan kirinya mengelus pelan dashboard. Semenit kemudian, matanya kembali melirik kaca spion, memperhatikan Nayra yang sedang mengenggam ponselnya.


“Jangan coba-coba hubungin Pak Dimas dulu ya. Kamu masih ingat perkataan Bu Gina kan, Nay?”


Nayra menatap pantulan mata Jay di kaca spion. Bibirnya mengerucut sebal. Beberapa tahun saling mengenal, Jay paham betul pemikiran Nayra.


“Tapi kan, Kak...” Mulut Nayra hendak memprotes tapi Jay keburu memotongnya.


“Ingat tujuan awal kamu, Nay. Buat apa kamu capek-capek kalau akhirnya harus berakhir gara-gara nafsu sesaatmu?” omelan Jay semakin membuat Nayra kesal. Perkataan Kak Jay memang benar hanya saja Nayra tidak suka dengan kalimat terakhirnya.


“Nafsu sesaat? Kakak pikir, hubungan aku dan Dimas hanya untuk sesaat?!”


“Memang benar begitu kan? Sudahlah, Nay. Tolong dengarkan Kakak kali ini. Jangan ganggu hubungan rumah tangga orang. Nan...”


“Cukup, Kak!” bentak Nayra kesal. Giginya gemertak menahan emosinya. Nayra tidak ingin berdebat dengan Jay. Dia menghormati dan menyayangi Jay bahkan menganggap pria bertubuh tambun itu seperti kakak kandungnya sendiri. Tapi akhir-akhir ini Jay sering kali menceramahinya mengenai hubungannya dengan Dimas. Terlebih sejak insiden pemanggilan mereka berdua ke ruangan Gina.


“Mereka akan segera bercerai.” Gumam Nayra sambil mengalihkan pandangannya ke arah luar mobil. Seketika Nayra menutup mulutnya menyadari perkataan yang seharusnya tak ia ucapkan. Untungnya Jay sedang fokus menyetir hingga tak mendengarnya.


Sekitar 30 menit kemudian, mereka akhirnya sampai di lokasi tujuan. Setelah berkenalan dengan beberapa staff, Nayra menaiki anak tangga menuju lantai 2.


Sebelum melakukan pemotretan, Nayra terlebih dulu masuk ke sebuah ruangan untuk merias tampilannya.


“Kalau dilihat-lihat, Selena itu memang cocok ya dengan Pak Dimas.”


Nayra yang sedang mengulik-ulik laman sistagramnya langsung menoleh cepat begitu mendengar 2 nama yang familiar di telinganya. Matanya menatap layar TV yang terpasang di pojok atas ruangan berdominasi putih tersebut.


Disana, wajah Dimas dan Selena tersorot jelas. Mereka berdua tampak sedang menghadiri suatu acara formal.


DEG.


Jantung Nayra serasa perih kala melihat raut wajah Dimas. Dia tampak bahagia dengan senyuman lebar. Tangannya merangkul pinggang Selena. Bahkan sesekali mereka berdua tertangkap kamera saling melempar tatapan mesra.


Tangan Nayra mengepal erat sambil mengigit bibirnya. Dadanya terasa sesak. Dia buru-buru mengalihkan pandangannya. Jika ini di apartemennya, dia pasti akan mematikan televisinya. Dan menangis kencang.


“Kamu kenapa Nay?” Jeanny – stylist yang sedang meriasnya, bertanya dengan cemas, melihar air muka Nayra yang berubah. “Sakit?”


Jeanny mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Tak berapa lama kemudian, Nayra sudah bersiap-siap di set. Mengikuti arahan fotografer, Nayra mulai berpose dengan luwes dan melupakan sejenak kesedihan hatinya.


****


Jantung Nayra berdegup kencang melintasi basement parkiran apartemennya. Sambil mengendap-endap, pupil hitamnya celingukan mencari sesuatu. Setelah menemukannya, Nayra bergegas masuk dan mengemudikan kendaraan putih itu menembus jalanan ibukota.


Dengan hati-hati dan langkah pelan, Nayra memasuki lobi sebuah hotel. Jantungnya kembali berdegup memikirkan jika ada seseorang yang mengenalinya. Namun pemikiran itu menguap kala tidak ada satu pun karyawan hotel yang menaruh curiga padanya.


Ada untungnya juga aku membeli wig ini, gumam Nayra bangga.


Merasa aman, Nayra semakin memantapkan langkahnya menuju lift yang terletak di ujung lobi. Sambil menunggu pintu lift terbuka, ia mengambil ponselnya dari dalam tas dan mulai mengetik pesan.


Saking fokusnya, ia tak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya.


Nayra terkejut saat orang itu mendorongnya masuk begitu pintu lift sudah terbuka. Mata Nayra membulat saat melihat orang yang mendorongnya.


“Kamu...,” desisnya.


Selena berdiri di depannya dengan tatapan dingin. Refleks, Nayra mundur dan menjauh, menyisakan jarak sedikit lebar di antara mereka.


“Apa kamu mau bertemu dengannya?” tanya Selena dingin dan tajam.


Nayra terdiam. Selama ini ia merasa seperti pengganggu dalam kehidupan Dimas dan Selena. Bahkan sampai sedetik yang lalu, ia masih merasa bersalah terhadap Selena hingga membuatnya segan saat berhadapan dengannya.


Namun mendadak, Nayra merasa kesal. Tidak seharusnya ia ketakutan dengan wanita di depannya ini. Dia bukan benalu atau pelakor. Sejak awal, hati Dimas hanya untuknya. Selena-lah yang merebut semua itu. Menggantikan posisinya untuk menikahi Dimas.


Tangan Nayra mengepal erat. Matanya nyalang menatap balik Selena. “Iya. Kami mau menghabiskan malam disini.”


Ada keheningan beberapa saat. Nayra berpikir kalau Selena akan terkejut dan marah. Tapi nyatanya, wanita itu malah menunjukkan ekspresi datar. Seolah tak ternganggu dengan ucapannya.


“Kalau begitu, selamat bersenang-senang.” Selena tersenyum tipis dan membalikkan tubuhnya, hingga bersejajar dengan Nayra.


Nayra melongo heran. Kejadian ini diluar ekspetasinya. Tadinya ia pikir, Selena akan menamparnya atau menjambaknya seperti yang sering ia lihat di sinetron. Atau paling tidak mereka berdua akan saling mengeluarkan makian dan sumpah serapah.


Nayra memperhatikan Selena lamat-lamat. Baru kali ini dia memperhatikan wanita itu dari dekat. Seketika ia menyadari mengapa orang tua Dimas lebih memilihnya ketimbang dirinya. Sekilas melihat saja, Nayra sudah tahu kalau Selena adalah sosok wanita yang tangguh.


Pembawaannya anggun namun juga terselip ketegasan layaknya seorang pemimpin. Sekarang saja, Nayra sudah merasa sedikit terintimidasi padahal mereka berdua hanya berdiri terdiam. Berdiri bersebelahan seperti ini semakin membuatnya rendah diri.


Nayra menggeleng-gelengkan pelan kepalanya. Berusaha mengusir pemikiran seperti itu. Sebagus apa pun Selena, Nayra tetap pemenangnya. Hanya namanya yang ada di hati Dimas.


Dan akan selalu seperti itu, gumam Nayra menyakinkan dirinya.


Tring..


Nayra bergegas keluar begitu pintu lift terbuka. Dia membalikkan badannya, menatap Selena sekali lagi. Sesaat sebelum pintu lift tertutup,Nayra melihat seutas senyuman di bibir Selena. Senyuman seorang wanita yang terluka.