The Secrets Of Marriage Contract

The Secrets Of Marriage Contract
Air Mata Selena



Alvino menyeka bulir-bulir keringat di dahi Selena yang masih terpejam. Sesekali ia memeriksa denyut nadinya. Memastikan kalau wanita itu masih bernafas.


“Hmm..hm...,” Selena bergumam-gumam sambil bergerak gelisah.


“Apa Sel?” Alvino mendekatkan wajahnya ke Selena.


“Sakit..,” rancau Selena dengan mata yang masih terpejam.


“Sakit? Sakit dimana, Sel?” Alvino bertanya dengan panik sambil menelisik setiap jengkal tubuh Selena. Dengan hati-hati, ia menekan ulu hati, kaki dan tangan Selena. “Disini? Disini? Dimana Sel?”


Tapi kemudian Selena terdiam dan mendadak cairan bening menetes dari sudut matanya.


Alvino semakin panik dan menepuk-nepuk pelan pipi Selena. Dia juga mengangkat sedikit kepala Selena dan mendekatkan botol minyak angin ke hidungnya.


Akhirnya Selena membuka matanya. Pupil cokelatnya menatap Alvino sayu. “Alvin? Kok lo ada disini?” tanyanya parau.


Alvino menghela napas lega. Tanpa sadar dia langsung memeluk Selena dan mencium pucuk kepala Selena. “Akhirnya lo sadar juga, Sel. Terimakasih, Tuhan.”


“Vin..,” Selena mengeliat-liat di pelukan Alvino. “Gue gak bisa napas.”


Menyadari perbuatannya, Alvino buru-buru melepaskan pelukannya. “Eh, sori..sori.”


Selena tersenyum tipis dan duduk menyandarkan tubuhnya. “Ini gue ada dimana?” tanyanya sambil mengedarkan pandangannya.


“Kamar gue. Kebetulan gue tadi ada seminar di hotel ini,” jelas Alvino seraya menyeduh secangkir teh dan memberikannya kepada Selena. “Minum dulu, Sel.”


Selena menyeruput tehnya dan langsung disahut Alvino. “Jangan diseruput. Langsung glegek.”


“Pfft...,” hampir saja Selena menumpahkan kembali tehnya jika tak buru-buru menutup mulutnya. “Glegek? Udah lama gak denger kalimat itu dari mulut lo.”


“Buruan minum deh. Jangan sampai gue suapin.”


“Iya..iya...Pak Dokter! Bawel banget sih,” seloroh Selena sambil meminum tehnya.


“Nah bagus. Sekarang lo mau makan apa? Gue orderin.” Tawar Alvino seraya mengutak-atik ponselnya. “Lo pasti pingsan gara-gara lupa makan kan?”


“Sok tahu,” tukas Selena.


“Terus? Kenapa bisa pingsan? Untung tadi gue yang dateng. Coba kalau orang lain. Bisa-bisa lo dibawa kabur!” Alvino kembali kesal mengingat kejadian tadi.


Pikiran buruknya berkelana kalau-kalau Selena dimanfaatkan orang jahat yang kebetulan masuk ke dalam ke lift.


“Apaan sih! Memangnya siapa yang mau nyulik wanita kayak gue?” Selena memukul lengan Alvino.


“Ngaco! Namanya penculikan mau itu anak kecil atau nenek-nenek juga gak ngaruh! Apalagi lo cantik ......,” Alvino tak meneruskan kalimatnya karena melihat Selena termenung.


Perlahan, Alvino menggeser duduknya mendekat ke arah Selena, namun mendadak wanita itu menoleh padanya dan mengajukan sebuah pertanyaan.


“Vin, lo ada kenalan dokter hypnotherapy gak?”


“Buat?”


“Buat gue. Ada gak?”


“Ada. Tapi buat apaan? Lo mau belajar hipnotis orang? Biar bisa jadi penerus Romy Rapael?” Alvino menggoda Selena sambil menyeringai jahil.


“Gue serius!” Selena berdecak kesal. Mulutnya mengerucut sebal membuat Alvino gemas dan tak tahan untuk mencubit hidungnya. “Aduh!” Selena semakin kesal dan memukuli Alvino dengan bantal.


Namun semenit kemudian, tiba-tiba saja cairan bening mengalir dari sudut mata Selena.


“Yah, kok nangis? Gue bercanda, Sel. Maaf dong. Gue ngaku salah deh...Gue janji, besok gue telpon dokter kenalan gue. Jadi berhenti nangis ya. Oke? Loh....kok malah makin nangis? Lo mau gue gimana Sel? Gue turutin deh. Gue bingung nih.”


Alvino yang menyangka kalau Selena menangis karena ulahnya , tak henti-hentinya membujuk Selena sambil menangkup kedua pipi Selena yang basah dan mengusapnya lembut.


“Hiks..hikss..hikss...,” Selena terus saja menangis seraya memegangi dadanya yang terasa perih.


“Sel, maafin gue. Jangan nangis dong. Gue mesti gimana?” pinta Alvino pelan seraya merengkuh Selena dan memeluknya. “Gue janji gak bakal ngomong aneh-aneh lagi deh.”


Merasa kalau bujukannya tak akan mempan, Alvino akhirnya terdiam sambil terus memeluk Selena.


****


Dua hari kemudian, sesuai dengan janjinya. Alvino mengantarkan Selena menuju klinik milik temannya yang berprofesi sebagai dokter hpynotherapy.


Awalnya Alvino sempat ragu-ragu untuk menemani Selena karena tak ingin dicap sebagai pebinor.


Namun ia tak tega membiarkan wanita itu datang sendiri. Alvino takut kalau seandainya Selena mendapati masa kecilnya ternyata menyeramkan dan membuatnya shock.


Alvino sendiri sempat menanyakan alasan Dimas tidak bisa menemani Selena. Namun ia hanya menjawab dengan 2 kalimat singkat, ‘Dia sibuk’.


Amarah Alvino tersulut mendengarnya. Bagaimana bisa pria itu lebih memilih pekerjaannya ketimbang menemani Selena yang notabene adalah istrinya?


Padahal saat ini Selena pasti sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.


Tok..tok..tok..


Ketukan di jendela mobil membuyarkan lamunan Alvino yang segera membukakan pintu mobilnya.


“Nungguin lama ya?” tanya Selena begitu duduk di kursi penumpang dan langsung memasang seatbelt.


Alvino menggeleng. “Gak kok. Gue juga baru datang.” Kilah Alvino berbohong. Padahal ia sudah 30 menit menunggu di parkiran.


Sambil menyetir, Alvino mengumpat di dalam hatinya. Kenapa susah sekali membuang rasa cintanya kepada Selena? Padahal wanita itu sudah memiliki suami.


“Stupid,” desisnya - yang sialnya terdengar oleh Selena. Wanita itu kontan menoleh dengan raut bingung.


“Stupid?” Selena shock tak menyangka kalau Alvino akan menjawab seperti itu.


Padahal ia hanya menanyakan kembali alamat tujuan mereka. “Ya..Maaf, Vin. Gue kan lupa.”


Giliran Alvino yang kebingungan dan panik. “Eh, gue bukan ngatain lo. Ini maksud gue, motor yang tadi lewat. Stupid banget motong-motong jalan orang! Kan bahaya.”


Alvino meng-kambinghitamkan sesosok pengendara motor yang baru melintas di depan mobilnya.


Selena manggut-mangut dan kembali merilekskan tubuhnya. “Oh, kirain....”


Alvino menghela napas lega. Dan kembali memfokuskan matanya ke depan. Tak beberapa lama kemudian, mereka berdua sampai ke sebuah bangunan berlantai 3 bernuansa modern kontemporer.


Setelah mengisi form, Selena dan Alvino menuju ke lantai 2 dan masuk ke sebuah ruangan.


Disana dokter Samuel sudah duduk di sofa panjang berwarna hitam. Setelah melakukan perbincangan singkat, Alvino keluar dari ruangan karena sesi therapy hanya dilakukan oleh Selena saja.


“Gue tunggu di luar ya.” Ujar Alvino yang dijawab anggukan dari Selena. Mata Alvino kemudian beralih ke pria tinggi berkemeja cokelat.


“Bro, kalau ada apa-apa langsung udahin aja ya!” pinta Alvino yang dijawab acungan jempol dari Samuel.


Sebelum pintu menutup, Alvino melirik sekali lagi ke dalam ruangan. Memastikan kalau Selena akan baik-baik saja.