
"Yang , kamu kenapa?" tanya Nayra saat melihat raut kebingungan Dimas.
"Ha? Oh, gak apa-apa kok. Aku senang dengernya. Selamat ya sayang. Benar kan omonganku dulu? Kamu pasti bisa. Aku bangga sama kamu," ujar Dimas.
"Makasih ya Sayang, buat semua yang kamu kasih ke aku. Makanannya dihabisin ya!"
"Siap bos," jawab Dimas sambil memakan sesendok penuh nasi.
Setelah mereka selesai makan sebenarnya Dimas ingin mencuci piring. Dia bahkan sudah menggulung lengan kemejanya. Tapi Nayra mengusirnya dan malah menyuruh Dimas untuk mandi.
Bau matahari , begitu kata Nayra. Padahal seharian ini dia hanya berada di ruangannya saja. Dimas pun tetap ngotot mau membantu. Sebelum akhirnya pasrah setelah dipelototin Nayra.
Selesai mandi dan berganti baju , Dimas teringat kalau sejak tadi dia mematikan ponselnya. Sambil mengosok-gosok rambutnya yang masih basah , dia mulak menyalakan ponselnya.
Dimas berdecak kesal saat melihat banyaknya panggilan masuk dari papi dan maminya.
Mereka pasti kesal kalau tahu aku membatalkan janji malam ini. Sebenarnya Selena ini siapa sih? Apa istimewanya dia sampai membuat Papi sama Mami ngotot seperti ini?
Dimas memejamkan mata berusaha mengingat-ingat masa kecilnya dengan gadis bernama Selena.
Flashback
"Kak , memang boleh kita keluar malam-malam? Papa sama Om kan bisa marah?" tanya seorang anak perempuan kecil berkepang dua.
"Ssst! Jangan berisik. Kamu katanya mau lihat bintang? Mau gak?" balas seorang anak laki-laki sambil melongokkan kepalanya dari dalam kamar.
Anak perempuan itu mengangguk senang , "mau Kak!"
"Yaudah jangan berisik. Ikutin Kakak. Oke?"
"Oke"
Waktu menujukkan pukul 12 malam. Semua orang dewasa tampaknya telah terlelap. Karena terbukti tidak ada lagi suara-suara orang mengobrol. Setelah dirasa aman , dia memberi isyarat kepada anak perempuan itu untuk mengikutinya menuju pintu belakang. Sambil mengendap-endap , mereka keluar menuju garasi yang terbuka. Lalu mengambil sepeda. Dan menuntunnya keluar.
Setelah cukup jauh dari rumah , baru mereka berani mengayuhnya sampai menuju sebuah bukit. Setelah menaruh sepeda masing-masing , anak laki-laki itu menggandeng si anak perempuan dan menyuruhnya untuk duduk tepat dibawah sebuah pohon besar.
"Tuh lihat ke atas. Bintangnya banyak kan?" tunjuk anak laki-laki itu ke langit.
"Wah iya Kak! Itu bintang yang disana namanya apa Kak?"
"Namanya bintang Selena. Soalnya kamu yang menemukan."
"Bintang Selena..." desis anak perempuan berkepang itu sambil terus memandang langit dengan takjub.
Deg!
Dimas langsung membuka matanya saat jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Perasaan aneh menjalari tubuhnya. Bukan kali ini saja perasaan aneh itu muncul. Bahkan saat mendengar suara Selena saja , jantungnya berdetak kencang.
Ada apa ini? Apa ada hubungan lain antara aku dengan Selena?
Tak ingin membuat asumsi sendiri , Dimas memutuskan untuk menelpon Dirga.
"Dir , tolong kamu cari tahu tentang Selena. Semuanya. Termasuk kehidupan masa kecilnya. Sekecil apapun infonya , kabarin saya. Secepatnya!" perintah Dimas begitu suara Dirga terdengar.
"Sayang , kamu udah selesai mandinya?" terdengar suara Nayra dari balik pintu membuat Dimas sedikit tersentak.
"Sebentar Sayang," jawab Dimas. Kemudian dia kembali berbicara kepada Dirga. "Oh, satu lagi. Tolong sekarang juga kamu bawakan saya cake cokelat. Terserah mau besar atau kecil. Pokoknya cake cokelat."
Begitu Dirga mengiyakan , Dimas langsung mematikan telepon dan bergegas keluar kamar menuju ruang tengah. Terlihat Nayra sedang meluruskan kakinya di sofa sambil menonton tv.
"Nonton apa?" tanya Dimas.
Tangan kanannya kini memeluk pinggang Nayra. Memaksa wanita itu lebih dekat dengan dirinya.
"Gak tahu. Aku cuman nyalain aja," jawab Nayra sambil merebahkan kepalanya di dada Dimas.
"Ngantuk?"
"Huum. Lumayan."
"Yaudah tidur saja. Nanti aku pindahin ke kamar."
"Oke!" jawab Nayra sambil memejamkan mata.
Tampaknya perjalanan panjang membuat Nayra kelelahan karena dia langsung tertidur di pelukan Dimas.